<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827</id><updated>2012-02-17T06:08:55.969+07:00</updated><title type='text'>Teater Sandekala</title><subtitle type='html'>&lt;br&gt;Pementasan Teater Sandekala ini merupakan adaptasi Roman Sunda "Sandekala" Karya Godi Suwarna,&lt;br&gt;Pemenang Penghargaan Sastra Sunda Rancage 2008&lt;br&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6240613187557867211</id><published>2008-12-24T21:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-24T21:43:52.391+07:00</updated><title type='text'>Opini Auditor Terhadap Pengelolaan Keuangan Sandekala</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LAPORAN No. DSS-0208&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMENTASAN TEATER SANDEKALA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah mengaudit Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas PEMENTASAN TEATER SANDEKALA untuk periode 3 (tiga) bulan yang berakhir pada 16 Agustus 2008. Laporan ini merupakan tanggung jawab Tim Produksi.  Tanggung jawab kami adalah terletak pada pernyataan pendapat atas laporan ini berdasar audit yang kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas bebas dari salah saji yang material.  Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas.  Audit juga meliputi penilaian atas Prinsip Akuntansi yang digunakan oleh  PEMENTASAN TEATER SANDEKALA, serta penilaian terhadap penyajian Laporan dan Penerimaan Kas secara keseluruah.  Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang meyakinkan untuk menyatakan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dijelaskan pada Catatan Atas Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas, Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas ini disusun, dan tidak dimaksudkan sebagai penyajian sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat kami, Laporan dan Penerimaan Kas yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, penerimaan dan pengeluaran kas PEMENTASAN TEATER SANDEKALA yang dikelola oleh TIM PRODUKSI untuk periode 3 (bulan) yang berakhir pada 16 Agustus 2008 sesuai dengan Standar Akuntansi yang dijelaskan dalam Catatan Atas Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PARTHIWA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Management Consultant Bureau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daniel S. Stephanus, S.E., M.M., M.S.A., Ak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;No. Register D-14.625&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6240613187557867211?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6240613187557867211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6240613187557867211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6240613187557867211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6240613187557867211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/12/opini-auditor-terhadap-pengelolaan.html' title='Opini Auditor Terhadap Pengelolaan Keuangan Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-763358213912755715</id><published>2008-08-15T14:06:00.003+07:00</published><updated>2008-08-15T14:10:00.335+07:00</updated><title type='text'>Bubar Tidak Berarti Selesai!</title><content type='html'>Akhirnya setelah berproses bersama selama beberapa bulan, pada tanggal 13 Agustus pukul 15.38 tim Sandekala dibubarkan secara resmi. Namun demikian, tugas-tugas pelaporan dan keuangan akan tetap berlanjut hingga ada persetujuan dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tetap menjaga spririt dan kebersamaan, dalam waktu dekat seluruh anggota tim Sandekala di Bandung akan mengikuti workshop sehari tentang anti korupsi, lingkungan dan HAM. Workshop tersebut akan difasilitasi oleh IWC, WALHI dan ELSAM. Hal ini semata-mata untuk lebih membumikan isu tersebut dalam kehidupan sehari-hari seluruh anggota tim yang terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap awal selalu ada akhir, namun tidak pernah selesai berjuang!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-763358213912755715?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/763358213912755715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=763358213912755715' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/763358213912755715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/763358213912755715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/08/bubar-tidak-berarti-selesai.html' title='Bubar Tidak Berarti Selesai!'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-769300132488276371</id><published>2008-08-11T17:29:00.003+07:00</published><updated>2008-08-11T17:38:32.733+07:00</updated><title type='text'>Kata Mereka Soal Sandekala</title><content type='html'>Berikut ini adalah kutipan pendapat para penonton baik di Jakarta dan Bandung. Ada beberapa penyuntingan yang kami lakukan namun tidak merubah maksudnya. Data diperoleh dari blog, koran maupun sms yang masuk. Komentar berasal dari berbagai kalangan mulai umur 11 hingga 71 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertunjukannya menghibur, seru!!” (Nurjanah - Guru SMP di Sumedang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Korupsi yang populer dan masif di zaman kini, dalam Sandekala tergelar penuh mistis dan simbolis. Tak ada slogan verbal, namun mampukah kita melakukan katarsis ketika korupsi itu melarut dalam darah dan menyerat di daging bangsa kita sendiri?” (Sumiyadi - Dosen Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indoesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat, selamat, saya suka pementasannya, semoga di Jakarta akan lebih hebat lagi, selamat!!” (Henny - anggota Panguyuban Panglawungan Sastra Sunda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya nonton hari kedua, selamat, saya suka pertunjukannya” (Yani Aman - karyawan Selasar Sunaryo Art Space).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sukses terus, ok!!!!” (Puspa - Guru Sekolah Dasar dan PGSD di Cimahi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti tidak mudah menjadikan novel menjadi pementasan yang berdurasi pendek dengan ruang yang terbatas sehingga mungkin banyak detil-detil yang harus dikorbankan, akan tetapi pilihan-pilihan yang diambil untuk pementasan–secara umum–berhasil mengangkat gagasan yang saya tangkap dari novelnya yang saya tuntaskan pembacaannya karena menyaksikan pementasan di malam kedua. Mudah-mudahan saya berkesempatan menyaksikan versi Indonesianya. Wilujeng.” (Safrina Noorman - Dosen Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandekala berhasil mentransfer berbagai peristiwa dan gerak imajinatif dalam teks sumbernya, yakni sebuah novel ke peristiwa dan gerak visual di atas panggung. Ini berarti dua hal: 1) secara estetis ia membuat teks sastra menjadi lebih kaya dan 2) secara tematis ia lebih mengkonkretkan gagasan yang hendak dibangunnya. Walhasil, terkait dengan seni peran dalam memberantas korupsi–di mana korupsi menjadi subtema novel juga–, pementasan teater Sandekala memperlihatkan bahwa seni memiliki fungsi dan peran signifikan dalam soal itu.” (Acep Iwan Saidi - Dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Transformasi teks dari naskah drama ke pertunjukan kurang pas sehingga efeknya kepada pola permainan aktor secara keseluruhan. Efek lampu yang dihadirkan terlalu berlebihan, memiliki kecenderungan efek disko sehingga kurang memiliki korelasi dengan grand tema pertunjukan. Is-isu yang dihadirkan dalam pementasan tidak mengena kepada penonton. Aktor kurang bisa bermain dengan baik (Bagus, Dewi, Bu Camat, Tisna). Beberapa yang tampak rileks bermain (Kuncen, Wa Ahmad, Camat, Pandu, Dadang). Tokoh Otong terlalu berlebihan dari segi kostum karena dengan perilaku yang 'aneh' memang sudah dapat diterka bahwa karakternya gila.” (Mohamad Sunjaya - aktor senior, 71 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertunjukan tersebut betul-betul memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga. Pokoknya saya tidak menyesal, karena secara tidak langsung pertunjukan tersebut telah memberikan inspirasi bagi saya saat mengikuti lomba baca puisi "Patriotisme" yang diselenggarakan Balai Bahasa Bandung pada 27 Mei 2008. Walaupun hanya mampu meraih peringkat 3 untuk tingkat SD/MI se-Bandung Raya, tapi saya puas dan bangga, karena jumlah pesertanya lebih dari 90 orang. Apalagi saya satu-satunya dari SD Pertiwi, tempat saya sekolah, yang berhasil meraih juara.” (Elgiani Yasiffa Y.N. - siswa kelas 5 SD Pertiwi Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persiapan yang dilakukan benar-benar matang sehingga mereka bisa memberikan pertunjukan yang maksimal bagi kami semua. Buat pengarang naskah atau novel salut banget. 4 jempol teracung untuk Godi Suwarna karena ceritanya benar-benar jelas sasarannya, realisik, dan lengkap dari segi horor, humor, percintaan, politik, ekonomi, perjuangan, pokoknya komplit ada di sini...HEBAT” (Steffianti Gunawan - pelajar SMA di Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semangat! Keep hoping and keep trying to fight the corruption!” (Nana – pelajar SMA di Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritanya sih pretty much about INDONESIA. masalah korupsi dibahas trus juga kemiskinan juga dibahas. settingnya tuh kerusuhan mei 98. Dan yang gw suka tuh semua genre tuh bener-bener komplit dari petualangan, horror, komedi, percintaan, thriller, folk, family, nasionalisme, dll. Gilaaaakkk keren. Gw nggak ngantuk loh. Padahal biasanya kalo nonton teater gw suka bermimpi mendenger gw mendengkur alias ketiduran (kecuali kalo musical, gw terlalu suka sama musical). dan walopun ada beberapa part yang gw bingung, tp overall dari range 1-10 gw berani kasih 8,5. Plokplokk” (Gracia Prita Anindita – pelajar SMA dan pemain teater sekolah di Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari segi cerita, lakon ini terasa sangat pas dengan momentum dimana kasus korupsi di Indonesia semakin banyak yang terkuak, dan semoga ini menjadi penyemangat buat KPK untuk lebih menunjukkan taringnya dalam memberangus pelaku-pelaku korupsi.” (Jimmy – Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat, bagus Kang!” (Ir. Lili Mulyatna-Dosen Universitas Pasundan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pementasan tadi malam asyik, kuncen harus diolah lagi nyanyinya. Komentar dan respon penonton bagus sekali, tapi rata-rata terganggu nyanyian Kang Moel” (Godi Suwarna - penulis novel Sandekala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pementasan sandekala bagus, interpretasinya tepat” (Etti RS-pegawai Diparda, seniman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Congratulation, bagus banget pertunjukkannya. Siapa dulu dong&lt;br /&gt;produser dan sutradaranya...” (Samuel Rizal – artis film)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Congrotulation! Nice pergormance” (Agus Sarjono - sastrawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nuansa gaibnya kena, membuat merinding, tapi terganggu oleh sound yang tak seimbang” (Willem – Tikar Event Organizer)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-769300132488276371?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/769300132488276371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=769300132488276371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/769300132488276371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/769300132488276371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/08/kata-mereka-soal-sandekala.html' title='Kata Mereka Soal Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5572462747769114737</id><published>2008-08-06T21:44:00.000+07:00</published><updated>2008-08-07T21:48:35.391+07:00</updated><title type='text'>Suara Antikorupsi Lewat Panggung Teater</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SJsK5jV95EI/AAAAAAAAAPE/UUsCBtxbdyI/s1600-h/wawan+sofwan.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SJsK5jV95EI/AAAAAAAAAPE/UUsCBtxbdyI/s320/wawan+sofwan.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231787375977161794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto oleh Abimanyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih. Jangankan mau membeli tiket pementas-an. Untuk menonton pentas teater Sandekala Sunda dengan gratis saja mereka tidak mau datang. Pentas Sandekala dalam bahasa Indonesia sehari sebelumnya malah dipenuhi penonton yang rela membeli tiket. Ini hanya salah satu indikator betapa orang Sunda sudah kurang peduli pada budayanya," tutur Wawan Sofwan, sutradara teater yang mementaskan Sandekala di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas Sandekala di Jakarta bisa terlaksana berkat bantuan sejumlah aktivis, seperti Andi K Yuwono, Danang Widyoko, FX Rudi Gunawan, Agung Yudha, dan Raharjo Waluya Djati. "Dari nama- nama teman yang banyak membantu saja, terlihat mereka bukan orang Sunda. Orang Sundanya mungkin hanya Kang Teten Masduki dan para pemain kami dari Bandung," Wawan menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Panjalu, Ciamis, Jawa Barat itu, tentu tidak sedang mengecam orang Sunda. Ia juga tahu persis teman-temannya yang membantu pementasan Sandekala tidak begitu mempersoalkan bahasa dan suku bangsa. Perhatian para aktivis yang mau bekerja keras mengusung Sandekala dari Bandung ke Jakarta lebih banyak dilandasi alasan isi dan pesan dari pentas itu. Praktik korupsi yang harus diberantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar informasi awal, Sandekala diangkat dari karya Godi Suwarna. Pemenang Hadiah Kebudayaan Rancage 2008 itu memang berkisah tentang praktik korupsi. Bukan korupsi yang melibatkan politisi di parlemen. Bukan korupsi yang penuh intrik politik dan melibatkan menteri di kabinet kita. Sama sekali bukan. Praktik korupsi dilakukan seorang camat di sebuah tempat di Ciamis, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Naskah teater yang berkaitan dengan isu korupsi sedikit. Saya juga baru temukan isu itu di karya Kang Godi. Ini naskah luar biasa yang mencakup isu korupsi, pelestarian alam, percintaan, dan sejarah Sunda. Setting waktunya berwarna. Dari mulai kisah Dyah Pitaloka yang tewas pada Tragedi Bubat hingga Reformasi 1998," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Wawan yang lahir pada 17 Oktober 1965. Itulah sutradara berdarah Sunda dan berkeinginan mengangkat budaya Sunda lewat karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier sebagai sutradara tidak seketika datang. Ia memulai dari rasa sukanya pada dunia akting. Pernyataannya soal rasa suka pada akting pun tidak sama dengan pernyataan para aktor sinetron, yang suka pada seni akting, tapi aktingnya saat bersedih malah membuat penonton terbahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan, demikian ia sering disapa temannya, sejak kuliah di Jurusan Kimia Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKPI ) Bandung, sudah berkecimpung di dunia teater. "Saya belajar akting di Student Center IKIP Bandung dan menimba ilmu Studiklub Teater Bandung," ujar mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia IKIP itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan kampus itulah ia berinteraksi dengan Teten Masduki, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam saat itu. "Saya tak bisa melupakan Kang Teten yang tidak pernah bosan bicara soal kebangsaan dan daya rusak korupsi," ia menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikannya pada dunia teater dan keprihatinanya pada praktik korupsi terus berlangsung hingga kini. Bukti sederhananya, ia sudah memantapkan diri untuk hidup di dunia teater hingga kini. Bukti tambahan, dengan semangat dan hati riang, ia membaca, mempelajari dan kemudian mementaskan Sandekala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan bukan tidak menarik hatinya. Tapi, untuk menjadi guru kimia, jelas ia sudah kehilangan energi. Bukan apa-apa, hatinya sudah terpatri pada dunia teater. Seusai kuliah di kampus yang sekarang berganti nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, ia sempat dilanda kegalauan. Benarkah dunia teater bisa menjadi ladang hidupnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai menarik napas panjang dan berdoa, hatinya mantap. Apa yang harus terjadi, terjadilah. Dunia akting jadi pilihan hidup. "Soal rezeki, kumaha engke (Bagaimana nanti, Red). Pasti aya rezeki ti gusti (Pasti ada rezeki dari Tuhan, Red)," katanya dalam bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahannya beralasan. Sangat mudah menemukan para pekerja seni di dunia teater yang hidupnya pas-pasan. Untunglah, sang kekasih hati, Een Rihaeni, sangat mendukung pilihan Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya satu jurusan di ruang kuliah dan ruang latihan teater. Rupanya diskusi soal rumus-rumus kimia dan dialog saat di ruang latihan dan panggung pementasan semakin merapatkan hubungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah jika Wawan pun kemudian memilih Een yang sekarang menjadi menjadi guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 13 Bandung menjadi pandamping hidupnya.Cinta kasih dan kesepakatan untuk mengikat diri dalam perkawinan melahirkan Vania dan Sheyla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus kuliah pada 1991 hasratnya untuk mengolah tubuh dan suara saat beraksi di panggung semakin membuncah. Ia terlibat dalam pentas King Liar, Impian di Tengah Musim, Julius Caesar, dan sejumlah pementasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ia tidak puas dengan hanya tampil sebagai aktor dan sutradara. Ia mengembangkan kemampuannya di dunia monolog. Maka penggemar dunia akting di Indonesia, khususnya di Bandung, bisa menyaksikan penguasaan olah suara dan bahasa tubuhnya lewat pentas Dam, Laporan untuk Akademi, Zarathustra, dan The Story of Tiger. "Yang tak terlupakan ialah saat saya membawakan monolog Indonesia Menggugat di sebuah pura tua di Singaraja. Saya lakukan monolog bukan di panggung, tapi di tengah lapangan. Tahunnya lupa, tapi yang pasti acara berlangsung nyaris tengah malam. Jadi, saya membacakan pidato Bung Karno dari tanggal 31 Mei hingga I Juni. Suasananya sangat khas. Susah menggambarkannya," kata Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya lagi, sebelum pementasan, Wawan berjumpa dengan seorang tua yang ucapannya tidak terlupakan. Pria itu menerangkan bahwa ibu kandung Bung Karno punya rumah yang tidak jauh dari pura tempat acara berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu pula banyak bicara soal Kerajaan Panjalu dan beberapa kerajaan lain di wilayah sebelah Barat Pulau Jawa. "Padahal saya tidak pernah mengatakan pada pria itu bahwa saya berasal dari Panjalu. Aneh," kenang sang sutradara yang pernah menyutradarai Faust I karya Goethe, Saudagar Venesia karya Shakespeare, Nyai Ontosoroh karya karya Pramudya Ananta Toer dan Faiza Marzuki, dan sejumlah pementasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan Wawan di dunia teater rupanya tidak salah. Kekhawatirannya soal kesejahteraan keluarga tidak terbukti. Titik terang dunia rezeki sedikit terbuka takkala ia mendapat beasiswa dari Goethe Institut Jerman untuk belajar bahasa Jerman dan mempelajari research theater dari tahun 1995-1996. Undangan dari berbagai pihak di luar negeri untuk belajar dan mementaskan karyanya berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria penyabar itu malah sempat bergabung di kelompok Main Theater Melbourne, Australia. Dengan modal pengalamannya, pekerjaan untuk menjamin kehidupan keluarga pun berdatangan. Sekarang ia menjadi pengajar acting for singer di Gita Svara Jakarta, dan memberikan kursus privat bagi mereka yang ingin menambah keterampilan aktingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal keuangan, relatif lebih aman baginya. Apalagi sang kekasih yang sudah menjadi pendamping hidupnya tetap giat mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keresahan dan kesedihannya bertumpu pada satu hal. Punahnya budaya Sunda. Jumlah orang Sunda yang mau menggunakan bahasa Sunda semakin menyusut. Apalagi yang mau mempelajari sejarah dan kearifan lokal orang Sunda. "Pentas Sandekala dalam bahasa Sunda di Bandung juga kurang peminat. Tapi saya tetap optimistis bisa membangkitkan lagi budaya Sunda lewat teater berbahasa Sunda, jika menyaksikan semangat teman-teman berlatih teater Sunda meskipun dengan honor ala kadarnya," ia menegaskan. [SP/Aa Sudirman]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/06/Personal/per01.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5572462747769114737?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5572462747769114737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5572462747769114737' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5572462747769114737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5572462747769114737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/08/suara-antikorupsi-lewat-panggung-teater.html' title='Suara Antikorupsi Lewat Panggung Teater'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SJsK5jV95EI/AAAAAAAAAPE/UUsCBtxbdyI/s72-c/wawan+sofwan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2500398857335734220</id><published>2008-08-03T19:52:00.003+07:00</published><updated>2008-08-03T19:56:30.292+07:00</updated><title type='text'>Dukumentasi Foto Pementasan Sandekala</title><content type='html'>Karena kesibukan kami, untuk sementara foto-foto dokumentasi Sandekala, baik di belakang atau di panggung bisa dilihat di &lt;a href="http://adriansight.multiply.com/photos"&gt;www.adriansight.multiply.com/photos&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan melihatnya di blog tersebut. Selanjutnya kami akan upload ke blog Sandekala setelah kesibukan kami mulai mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap maklum dan terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2500398857335734220?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2500398857335734220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2500398857335734220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2500398857335734220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2500398857335734220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/08/dukumentasi-foto-pementasan-sandekala.html' title='Dukumentasi Foto Pementasan Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8013395258301954507</id><published>2008-07-28T22:42:00.000+07:00</published><updated>2008-07-31T22:43:13.652+07:00</updated><title type='text'>Teater...</title><content type='html'>jadi dari minggu kemaren sebenernya gue punya cerita yang belom sempet gue posting...&lt;br /&gt;hari selasa tanggal 22 Juli 2008...&lt;br /&gt;gue dan beberapa eman teater gue pergi nonton teater d TIM...&lt;br /&gt;wuih..pergaulan meluas..hingga jakarta..&lt;br /&gt;naik trans BSD..asooy..abis ntu naik kopaja..uah..beda jauh banget..&lt;br /&gt;nyampe d sana jam stengah 2 sedangkan acara akan dimulai pukul 2...namun apadaya urusan perut memang sangat mendesak..jadi kami makan dulu..nasgor kambing,ayam n gue makan gado2..maksudnya biar cepet tapi apa daya..makanan gue dateng terakhir sekitar pukul 2 kurang 10...&lt;br /&gt;huahua...makan dalam waktu 10 menit....manstap...&lt;br /&gt;nonton teater..yang ternyata belum mulai..yah dah buru2 makan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan kali ini memang ditujukan untuk para pelajar terutama SMA..serbagai generasi bangsa...&lt;br /&gt;Dengan judul Sandekala..teater untuk memerangi korupsi ini dimulai pada pukul 02.30...&lt;br /&gt;Untuk memperingati hari anti korupsi teater ini diadakan...&lt;br /&gt;Dan klo menurut say, persiapan yang dilakukan benar2 matang sehingga mereka bsa memberikan pertunjukan yang maksimal bagi kami semua...&lt;br /&gt;buat pengarang naskah atau novel...salut banget...4 jempol teracung untuk anda.....&lt;br /&gt;Mr. Godi Suwarna...kenapa???&lt;br /&gt;karena ceritanya benar2 jelas sasarannya,realisik, dan lengkap dari segi horor, humor, percintaan, politik, ekonomi, perjuangan, pokoknya komplit ada di sini...HEBAt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teater dengan waktu 2 jam setengah pun erlalu tanpa terasa...ketikqa kami akan pulang kami semua bertemu dengan SAMMY..alias Samuel Rizal&lt;br /&gt;wuah dari deket tambah ganteng aja tuh orang...&lt;br /&gt;keren,,imut..rambutnya baru tumbuh gtu...owh...&lt;br /&gt;n kita foto bareng gtu ma dya..sempet wawancara pula...&lt;br /&gt;seorang sammy ternyata juga peduli dengan masalah sosial yang sedang marak diperbincangkan yaitu mengenai korupsi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So,teman2 semua jangan pernah sekali2 melakukan KORUPSI karena itu merupakan tindakan terlarang n dapat menyengsarakan rakyat atau orang di sekitar kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUat para pemimpin negara..tolong kuatkan kembali iman anda semua..karena anda kami pilih untuk memperjuangkan nasib kami bukan memakan uang kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi KPK selamat bertugas..memberantas segala bentuk korupsi yang dapat membuat negara kit asemakin terbelakang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk INDONESIA tercinta...teruslah berjuang..sehingga negara bersih dari KORUPSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditulis oleh steffi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://tepikirpikir.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8013395258301954507?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8013395258301954507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8013395258301954507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8013395258301954507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8013395258301954507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/teater.html' title='Teater...'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5037381526850496006</id><published>2008-07-28T18:38:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T18:39:10.911+07:00</updated><title type='text'>Melawan Korupsi Lewat Teater</title><content type='html'>by : Dwi Fitria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tabet Surawisesa, sebuah hutan keramat tempat prasasti kerajaan Galuh berada, seorang Kuncen sedang mengungkapkan keresahannya. Ia gerah melihat kondisi daerahnya yang diwarnai oleh ketidakadilan dan sifat korup para pejabatnya. Ia berdialog dengan suara seekor burung kepodang yang konon adalah utusan putri Dyah Pitaloka yang tewas dalam peristiwa tegal Bubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah ini diperintah oleh seorang camat bernama Suroto. Seorang pejabat yang lalim. Setiap tindakannya seolah tak pernah lepas dari keserakahan dan ketamakan. Ia kerap berkolusi dengan para kontraktor yang membangun prasarana di wilayahnya, menyetujui diadakannya pasar malam di alun-alun kota yang letaknya amat dekat dengan masjid agung, sekolah, dan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tendeng aling-aling, camat juga berani menebang pepohonan di tabet yang sesungguhnya amat dikeramatkan juga dilindungi oleh warga sekitarnya. Tindakannya ini memancing kemarahan warga, yang merasa tradisi turun-temurunnya telah disepelekan oleh si camat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok pemuda yang muak melihat tindak-tanduk camat berencana mengadakan demonstrasi besar-besaran. Saat berlangsung demonstrasi menjadi tak terkendali, sekelompok penyusup memprovokasi, dan demonstrasi pun berubah jadi anarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini adalah bagian dari lakon teater berjudul Sandekala yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, pada 22 dan 23 Juli 2008 lalu. Pertunjukan menghabiskan waktu sekitar dua jam, dan cukup banyak dihadiri penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama, pemenang hadiah sastra Rancage 2008. Novel ini ditulis oleh Godi Suwarna dengan menggunakan bahasa Sunda. Godi menulis novel ini terinspirasi peristiwa 1998, titik kulminasi ketika keadaan Indonesia memanas dan demonstrasi terjadi di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun adaptasi naskah panggung oleh Wawan Sofwan, sesungguhnya juga dibuat berbahasa Sunda. " Tetapi begitu kami mendapatkan tawaran untuk main di Taman Ismail Marzuki, kami juga membuat versi bahasa Indonesianya bagi penonton yang tak memahami bahasa asli lakon ini," kata Godi  Senin (21/7) lalu. Pertunjukan yang memakan waktu kurang lebih dua jam itu cukup banyak dihadiri penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Korupsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menggarap lakon Nyi Ontosoroh yang dipentaskan pada akhir Juli 2007 lalu, Wawan Sofwan berkeinginan untuk menampilkan lakon lain bertema korupsi. Saat itu yang terpikirkan olehnya adalah Korupsi karya Pramoedya dan Ladang Perminus karya Ramadhan KH. Pilihan jatuh pada karya Ramadhan KH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran Wawan berubah ketika seorang pejabat provinsi Jawa Barat mengatakan bahwa teater Sunda sudah tidak diminati lagi karena ketinggalan zaman dan temanya sudah terlalu usang. Pernyataan sepihak ini kemudian mendorongnya untuk membuat sebuah lakon berbahasa Sunda. Tanpa sengaja ia menemukan novel Sandekala. Novel bernuansa kritik sosial yang mengambil seting 1998 ini, dirasakan Wawan amat cocok dijadikan naskah Drama. Ditambah lagi tahun ini menggenapi sepuluh tahun reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Andy K Yuwono, salah satu produser pementasan ini, muatan sosial tak hanya korupsi, kesadaran akan kelestarian lingkungan, gerakan mahasiswa, juga khazanah kearifan lokal juga ikut terkandung dalam lakon ini. Dalam cerita juga dikisahkan perwujudan Dyah Pitaloka dan mahluk penghuni alam "lain" yang dikisahkan muncul untuk memberikan peringatan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga diharapkan penonton kemudian pulang dengan penyadaran di kepalanya tentang masalah-masalah aktual yang masih menjadi problem serius di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tak menguap begitu saja, sebelum pertunjukan malam hari, diadakan juga pertunjukan siang hari pada 22 Juli 2008 yang khusus diperuntukkan bagi para siswa sekolah menengah. Lepas pementasan diadakan sebuah diskusi untuk merangsang penyadaran masalah korupsi di kalangan siswa. Undangan disebarkan ke sekitar 80 sekolah yang diharapkan bisa menjaring hingga 800 orang pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama pertunjukan beberapa gangguan teknis semisal sound, terasa sedikit mengganjal jalannya pertunjukan. Di luar hal itu, muatan tentang masalah korupsi yang hingga saat ini masih merajalela di nyaris seluruh sendi kehidupan di Indonesia, adalah sebuah hal yang wajib dicermati, dan tak boleh alpa direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Seni Indonesia, Mainteater, WALHI, dan Indonesian Corruption Watch. Sebelumnya lakon ini telah dipentaskan di Bandung pada 23 dan 24 Mei 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&amp;amp;sec=Halaman%20Muka&amp;amp;rbrk=Feature&amp;amp;id=59335&amp;amp;postdate=2008-07-27&amp;amp;detail=Halaman%20Muka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5037381526850496006?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5037381526850496006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5037381526850496006' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5037381526850496006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5037381526850496006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/melawan-korupsi-lewat-teater.html' title='Melawan Korupsi Lewat Teater'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4062849768511371148</id><published>2008-07-28T18:21:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T18:22:08.988+07:00</updated><title type='text'>Teater Sandekala: Melawan Korupsi Melalui Seni</title><content type='html'>Wahyu Arifin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VHRmedia.com, Jakarta - Korupsi menjadi budaya yang mengakar dalam sendi kehidupan, sehingga kasus korupsi seperti menjadi kewajaran. Di tengah kewajaran yang tidak wajar itu sejumlah kelompok masyarakat sipil mencoba terus mengingatkan bahaya korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya dilawan dengan budaya. Hal itu yang mendasari pemikiran para pegiat Perkumpulan Seni Indonesia untuk mementaskan teater Sandekala di Taman Ismail Marjuki Jakarta, Selasa (22/7) malam dan Rabu (23/7) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Sofwan, sutradara yang juga penulis lakon Sandekala mengatakan, teater ini adalah drama yang disadur dari novel berjudul sama karya Godi Suwarna. "Temanya sangat menarik. Setting-nya peristiwa 1998 yang belum lama ini diperingati 10 tahunnya. Saya juga ingin mengangkat kembali kesenian masyarakat Sunda," kata Wawan di Jakarta, Senin (21/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wawan, pementasan ini mengusung empat tema besar sebagai moral cerita, yaitu antikorupsi, pelanggaran HAM, persoalan lingkungan, dan kearifan lokal. Di antara tema itu yang paling menonjol adalah tema antikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penggarapan Wawan Sofwan menggandeng tokoh-tokoh di bidang tersebut, antara lain Danang Widyoko (Wakil Ketua Badan Pekerja ICW), Chalid Muhammad (mantan Direktur Eksekutif Walhi), dan FX Rudy Gunawan (Perkumpulan Seni Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danang Widyoko yang juga sebagai eksekutif produser mengaku ICW sangat mendukung pementasan teater ini, karena dapat menjadi salah satu cara alternatif melawan korupsi. "Korupsi sering kali hanya dilihat sebagai kasus. Padahal, korupsi sudah menjelma menjadi budaya. Dan ini merupakan salah satu media untuk melawannya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produser pementasan Andi K Yuwono mengatakan, pementasan ini akan melibatkan 80 siswa SMA dari Bandung. Teater ini sudah dipentaskan dalam bahasa Sunda di Bandung, Mei lalu. Di Jakarta, teater ini akan dipentaskan selama dua hari. Hari pertama pementasan berbahasa Sunda dan hari berikutnya pementasan berbahasa Indonesia. "Kami melibatkan siswa SMA agar mereka mengerti bahaya korupsi. Mereka kami ajak sebagai peserta aktif dalam acara diskusi tentang pementasan Sandekala," ujarnya. (E1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.VHRmedia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4062849768511371148?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4062849768511371148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4062849768511371148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4062849768511371148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4062849768511371148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/teater-sandekala-melawan-korupsi.html' title='Teater Sandekala: Melawan Korupsi Melalui Seni'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2953766698329000085</id><published>2008-07-28T18:18:00.001+07:00</published><updated>2008-07-28T18:20:50.991+07:00</updated><title type='text'>Mengangkat Isu Korupsi dan Kejahatan Lingkungan</title><content type='html'>Maya Handhini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta – Dengan telaten, ibu Pandu memijit anaknya yang sakit. Pandu sakit akibat terlalu lelah berunjuk rasa untuk melawan Pak Camat yang gemar korupsi dan melakukan pelanggaran HAM di Desa Kawali, Ciamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Camat, penguasa tempat tinggal Pandu, mempunyai segala sifat buruk yang pantas dihujat seluruh rakyatnya. Ia yang berperut buncit ini senang mengganggu gadis-gadis di desanya. Ia juga dikenal bertangan besi dan rakus melahap seluruh proyek yang terhidang di hadapannya. Begitu rakusnya, Pak Camat senang meneror. Salah satu korban terornya adalah tukang ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana hasil hari ini, sudah dapat berapa dari kutipan pada ojek. Kalau mereka tidak mau membayar, kamu pukul saja hingga babak belur,” kata Pak Camat kepada Kuwu anak buahnya. Salah satu yang menjadi korban kerakusan Pak Camat adalah Dadang. Akibat tidak bisa memberi kutipan, Dadang babak belur dipukul oleh kaki tangan Camat rakus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kezaliman tidak bertahan selamanya. Masyarakat Desa Kiwali lama-lama gerah juga melihat kerakusan dan kebrutalan Pak Camat. Demonstrasi pun terjadi dan semakin tidak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandekala”, cerita yang diangkat dari pemenang hadiah sastra Rancage 2008 karya Godi Suwarna dipentaskan selama dua hari, Selasa (22/7) dan Rabu (23/7), di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam dua bahasa, Indonesia dan bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Sandekala diambil dari aksara Suna Kuno dalam prasasti Astana Gede, atau dikenal dengan sebutan prasasti Kawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun, lebih tepatnya Sandekala adalah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah cerita,” ujar Wawan Sofwan, sutradara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan memang memilih setting 1998 untuk menuturkan krisis sosial dan moral yang terkandung di dalam “Sandekala”. Untuk melukiskan demonstrasi yang besar, Wawan mengambil video klip dokumenter unjuk rasa pada 1998.&lt;br /&gt;“Kekerasan demi kekerasan ini ternyata sudah bukan lagi dalam lingkup perintah camat, melainkan hingga bupati. Pementasan ‘Sandekala’ ini sengaja kita angkat untuk mengingatkan bahwa saat ini korupsi sudah terjadi di mana-mana,” kata Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandekala” yang dipentaskan Mainteater ini didukung oleh banyak pihak dan LSM, seperti Perkumpulan Seni Indonesia, ICW, Walhi, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Remdec, Pengelola GK Rumentang Siang, HUMA, dan didanai oleh Hivos, ICCO dan Yayasan Tifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan sebanyak ini tidak mengherankan karena naskah “Sandekala” ini sarat dengan pesan moral dan pesan sosial. Cerita yang diangkat dari karya Godi Suwarna yang memenangkan hadiah sastra Rancage 2008 ini menyinggung soal “penyakit” akut yang menggerogoti moral dan keuangan bangsa, yaitu korupsi. Selain itu, ada persoalan lingkungan yang kian hari kian mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasus yang menyangkut lingkungan hidup sering kali sarat dengan kasus korupsi,” kata Chalid Muhammad, eksekutif produser, pada jumpa pers, Senin (21/7). Menurut Chalid yang juga bekerja untuk Walhi, pementasan ini merupakan metode baru untuk mengampanyekan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, penyelenggara juga mengundang para pelajar untuk menonton pementasan dan mengajak mereka berdiskusi. Sebuah upaya pendidikan tentang buruknya korupsi kepada generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/23/hib01.html&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2953766698329000085?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2953766698329000085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2953766698329000085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2953766698329000085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2953766698329000085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/mengangkat-isu-korupsi-dan-kejahatan.html' title='Mengangkat Isu Korupsi dan Kejahatan Lingkungan'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5862832709012480507</id><published>2008-07-28T18:16:00.002+07:00</published><updated>2008-07-28T18:17:29.679+07:00</updated><title type='text'>Mementaskan "Sandekala", Mengritik Korupsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI2qsv-KH5I/AAAAAAAAAOE/ZrXL2H5hfDA/s1600-h/24teater.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI2qsv-KH5I/AAAAAAAAAOE/ZrXL2H5hfDA/s320/24teater.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228022428215156626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abimanyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Mainteater beraksi pada pementasan "Sandekala" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (22/7). Pementasan yang mengadopsi novel karya Godi Suwarna menceritakan gejolak kerusuhan Mei 1998 dan digarap sutradara Wawan Sofwan untuk memperingati 100 tahun Harkitnas dan 10 tahun reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi telah menjadi sebuah "budaya" yang mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua bidang pemerintahan. Seperti virus yang mematikan, korupsi telah menggerogoti segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan itu, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, dan Mainteater didukung oleh beberapa organisasi masyarakat menggelar pentas teater yang bertajuk Sandekala di Taman Izmail Marzuki (TIM), Selasa (22/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan teater yang disutradarai oleh Wawan Sofyan ini, adaptasi dari novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna Sandekala yang memenangi penghargaan Sastra Rancage 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, melawan korupsi sebagai "wabah yang membudaya" diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni melalui budaya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak punya media lain untuk mengkritik kebobrokan korupsi, sebagai orang budaya kami melakukannya lewat budaya juga," ujar Wawan Sofyan, sutradara sekaligus produser seusai pementasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, korupsi merusak secara sistematik berbagai aspek dan dimensi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Korupsi sangat berbahaya bagi perkembangan negara kita. Teater ini sebagai bentuk kampanye kami agar semua orang tahu sejauh mana kehancuran di negeri kita saat ini," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan teater yang menghadirkan sebanyak 25 tokoh dan dimainkan oleh berbagai kelompok teater ini berkisah tentang Suroto, Camat Kawali Ciamis yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Dengan kekuasaannya itu, dia berbuat sewenang-wenang termasuk merampas hak-hak warga setempat demi kepentingan pribadi. Ia melakukan kolusi dengan para kontraktor untuk pembangunan gedung olahraga dan pasar. Ia juga menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota, padahal tempat tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah dan rumah sakit. Ia pun menggunakan kekuasaannya sebagai camat untuk meraup keuntungan yang tentu saja masuk ke kantong pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wawan, dipastikan korupsi juga sebagai penyebab terbesar terjadinya kerusakan lingkungan. Pernyataan tersebut merujuk pada tokoh Suroto yang pada pementasan awal menyuruh para pengawalnya untuk menebang hutan keramat yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat suci dan telah dikeramatkan sejak abad ke-13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggundulan hutan mengakibatkan ketidakseimbangan alam. Hal ini tergambar ketika hutan tersebut digunduli, muncul belalang dalam jumlah yang banyak juga berbagai "penghuni hutan" yang selama ini tidak ada. Termasuk arwah putri kerajaan Galuh, Diah Pitaloka yang konon jenazahnya dimakamkan di tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perilaku camat itu mulailah terjadi krisis kepercayaan yang membuat masyarakat mulai gerah. Berawal dari korupsi hingga akhirnya timbulah krisis kepercayaan yang membuat masyarakat menjadi gerah. Masyarakat mengajukan protes atas tindak tanduk camat tersebut, namun protes itu tidak ditanggapi. Malahan, salah seorang tokoh masyarakat yang sangat vokal, Bagus Magenda diculik. Tokoh Bagus adalah bekas wartawan yang dipecat dari pekerjaannya karena memberitakan seorang pejabat yang korupsi. Celakanya, pejabat itu adalah kenalan dari pemilik surat kabar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri sang camat yang kebetulan mahasiswa mendukung penentang ayahnya. Dia yang selalu membocorkan rapat-rapat muspika di rumahnya kepada teman-temannya sehingga penculikan yang lebih banyak bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pimpinan demonstran bersembunyi di sebuah tempat keramat dan menyusun kembali strategi untuk demonstrasi yang melibatkan banyak orang. Besoknya terjadilah demonstrasi besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, unjuk rasa terkendali tapi tiba-tiba jadi tidak terkontrol dan cenderung anarkis. Kantor polisi dibakar, koramil dimusnahkan, pasar diserbu dan dijarah, serta kantor camat dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati sebagai atasan camat langsung menurunkan petugas. Para pemimpin demonstran dicari dan dikejar. Cerita ini kemudian berujung penculikan dan penembakan terhadap para aktivis yang bersembunyi di hutan. Penggambarannya seperti kerusuhan Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan Sandekala ini memang selain mengkritik korupsi dan kerusakan lingkungan, juga mengingatkan kita pada masa reformasi Mei 1998. [DMF/N-5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Pembaruan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5862832709012480507?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5862832709012480507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5862832709012480507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5862832709012480507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5862832709012480507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/mementaskan-sandekala-mengritik-korupsi.html' title='Mementaskan &quot;Sandekala&quot;, Mengritik Korupsi'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI2qsv-KH5I/AAAAAAAAAOE/ZrXL2H5hfDA/s72-c/24teater.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-1496121338831482161</id><published>2008-07-28T18:12:00.001+07:00</published><updated>2008-07-28T18:15:20.382+07:00</updated><title type='text'>Kilas Balik Reformasi Indonesia</title><content type='html'>Pentas Teater "Sandekala"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[JAKARTA] Pentas teater Sandekala yang bercerita tentang kilas balik sejarah Indonesia mencapai reformasi, akan dipentaskan selama dua hari di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 22-23 Juli 2008 setiap pukul 20.00 WIB. Pertunjukan teater dwi -bahasa, yakni Indonesia dan Sunda tersebut mengangkat tema Bangkit melawan korupsi, perusakan lingkungan, dan pelanggaran HAM dengan kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, pentas teater Sandekala akan ditonton oleh para siswa dari 80 sekolah di Jakarta. Para pelajar akan menyaksikan pertunjukan teater yang dilanjutkan dengan diskusi, pada Selasa (22/7), pukul 14.00-16.00 WIB, di TIM. Sementara pentas teater Sandekala berbahasa Sunda akan digelar pada Rabu (23/7), pukul 20.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksekutif Produser J Danang Widoyoko yang juga wakil dari ICW mengatakan, korupsi telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Terbukti, hampir sebagian besar masyarakat Indonesia melakukan tindak korupsi. Para petinggi negara sampai karyawan kantoran melakukan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, meski telah merdeka, Indonesia tetap saja menjadi bangsa terjajah. Kekayaan alam Indonesia tidak bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Kenyataan tersebut membuat Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, dan mainteater Bandung, menggelar pergelaran budaya tentang realita Indonesia. Diharapkan melalui pentas seni tersebut, masyarakat bisa melihat kondisi kehancuran bangsa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua orang pernah melakukan korupsi, hanya saja berbeda jumlah nilainya. Para petinggi korupsi dengan nilai besar, sebaliknya karyawan dalam jumlah kecil. Jadi korupsi sudah membudaya," kata Danang, saat ditemui di Jakarta, Senin ( 21/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergelaran budaya Sandekala diangkat dari novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna, yang juga berhasil memenangkan Sastra Rancage 2008. Sandekala bercerita tentang perang Bubat yang memanas di sebuah kerajaan Galuh, di Astanagede, daerah Kawali-Ciamis, pada Mei 1998 lampau. Kondisi kerajaan kala itu, tak ubahnya seperti kondisi di Jakarta saat kerusuhan Mei 1998 terjadi. [EAS/U-5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Pembaruan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-1496121338831482161?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/1496121338831482161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=1496121338831482161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1496121338831482161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1496121338831482161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/kilas-balik-reformasi-indonesia.html' title='Kilas Balik Reformasi Indonesia'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2368868739825819266</id><published>2008-07-26T18:30:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:35:49.220+07:00</updated><title type='text'>Refleksi Kerusuhan Mei 1988</title><content type='html'>Saturday, 26 July 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8ANSLFcSI/AAAAAAAAAOM/hAZFZ03WRLM/s1600-h/20080727-news-2-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8ANSLFcSI/AAAAAAAAAOM/hAZFZ03WRLM/s320/20080727-news-2-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228397920617066786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAKON SANDEKALA, Seorang aktris sedang menghayati peran dalam pementasan lakon bertajuk Sandekala di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada (22/7). Pagelaran tersebut dalam rangka mengenang peristiwa kerusuhan Mei 1988 dan memperingati 10 tahun reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kerusuhan Mei 1998 lalu belum hilang dari ingatan kolektif bangsa ini. Peristiwa nahas itu kembali dikenang lewat pementasan lakon Sandekala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANDEKALAsebenarnya sebuah cerita rakyat dari Jawa Barat tentang makhluk halus (semacam Buto Ijo,raksasa jahat dalam pewayangan Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau belum banyak orang melihatnya, mitos ini cukup kental dipercaya masyarakat Sunda,terlebih di Situs Astana Gede atau Situs Kawali yang merupakan salah satu situs dari masa klasik di Kampung Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis,Provinsi Jawa Barat. ”Sandekala” sendiri berasal dari kata ”sande” yang berarti ‘gelap’ dan ”kala”yang berarti ‘waktu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti mitos dari masyarakat Pasundan tersebut adalah jangan bermain hingga waktu gelap (larut malam). Sebuah pesan yang memang berlaku pada zaman dahulu dan sangat jarang dilakoni anak muda masa kini. Saat keseringan main hingga lupa waktu, Sandekala akan memakannya atau mendapat celaka atau penyakit saat bermain di waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bermula dari seorang Camat Kawali, Suroto, yang menyalahgunakan jabatan dengan menebang pohon di Tabet (hutan keramat). Padahal, kesakralan hutan tersebut sangat dijaga warga desa dari generasi ke generasi sejak abad ke-13. Di situ ada makam Putri Kerajaan Galuh, Dyah Pitaloka, serta makhluk halus lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan tersebut diprotes Pandu, mahasiswa dari Kawali.Tak membuat jera penguasa, masyarakat merencanakan untuk demo. Namun, keburu tercium pihak aparat muspika dan mereka diamankan. Termasuk bagi Bagus Madenda,bekas wartawan yang dipecat dari pekerjaannya karena memberitakan seorang pejabat yang korupsi. Celakanya, pejabat itu adalah kenalan dari pemilik surat kabar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kuncen (juru kunci) di hutan Surawisesa lantas berbincang dengan burung Kepodang. Sosok burung tersebut diyakini masyarakat sebagai titipan Dyah Pitaloka untuk mengungkap kegelisahan Ki Kuncen tentang suasana negeri ini, termasuk orang-orang yang berada di sekitar Tabet. Makin lama, gonjangganjing tersebut semakin membuat resah ”penghuni” hutan keramat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lalu menampakkan diri untuk memberi ”kila-kila”, tandatanda kepada penduduk sekitar. Dari muncul makhluk siluman, berbagai macam hama,belalang, tikus,hingga menjelma menjadi seekor ular putih. Keseimbangan alam pun terancam. Banyak hasil panen yang tidak dapat dinikmati akibat serangan hama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buyut Pawitan, kekasih Dyah Pitaloka terdahulu,ternyata bereinkarnasi ke tubuh Bagus Madenda. Dyah pun bernostalgia dan menghibur kegundahan hatinya. Akhirnya Bagus makin terjerembab ke dalam ”pelukan” nostalgia Dyah. Bagus kian hari kian murung.Begitu pula saat diajak demo oleh Pandu, Bagus yang ternyata cucu Ki Kuncen satu-satunya justru menolak karena pasti akan ditahan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak putus asa, Pandu dan teman-teman kampung malah nekat berdemo. Pandu pun kian bersemangat karena ditemani kekasihnya meski ia adalah putri Camat yang akan didemonya. Untung kekasih Pandu ini mau membocorkan rapat rahasia yang dilakukan ayahnya dan muspika setempat sehingga penangkapan demonstran besar-besaran bisa dihindari. Kisah ini berujung dengan Kawali yang luluh lantak. Para demonstran pun lari ke Tabet Surawisesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aparat mengejar dan menghabisi seluruh demonstran. Sementara Dyah Pitaloka yang tetap bernostalgia dengan Bagus malah memperlihatkan gambaran wong samar serupa Dyah yang pergi ke tanah timur. Bagus menyaksikan Dyah bunuh diri serta upacara pengembalian abu jenazah dari tanah timur. Bagus kian terseret ke pusaran masa lalu dan kemudian menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tersebut sangat mirip bila dikaitkan dengan kerusuhan Mei 1998 di Ibu Kota. Cerita yang diadaptasi dari novel Sandekala garapan Godi Suwarna ini memang terinspirasi dari tragedi memilukan sekaligus memberi perubahan bagi demokrasi Indonesia. Meski novel tersebut ditulis dalam bahasa Sunda, isinya sangat memberi ruang universal terhadap permasalahan negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema korupsi, pelanggaran hak asasi manusia,persoalan lingkungan, dan kearifan pemimpin masa lalu sangat tergambar jelas dalam novel pemenang penghargaan Sastra Rancage 2007 ini.Apalagi, novel dengan pendekatan setting local jarang ditulis orang. Begitu pun kesesuaian tema dengan kekinian yang sangat menarik dan kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami ingin mengampanyekan antikorupsi, sosialisasi hak asasi manusia, menceritakan persoalan lingkungan serta kearifan lokal yang telah dicontohkan pemimpin masa lalu. Semoga bisa menggugah anak bangsa untuk melakukan perubahan lebih baik,” ujar Wawan Sofwan, sutradara dan produser Sandekala yang pentas di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki,Jakarta (22/7 dan 23/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, di hari pertama, pementasan teater yang didukung penuh oleh Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesia Corruption Watch, WALHI, Mainteater, dan komunitas nonprofit lainnya ini menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di hari keduanya. Tak hanya mengampanyekan sesuatu,pementasan ini juga menaikkan teater Sunda yang selama ini bersembunyi entah di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dukungan artistik gaya zaman prasejarah, pementasan selama tiga jam ini di awal terasa hambar. Namun, di satu jam terakhir, aura sebenarnya baru muncul. Tambahan audio visual di layar tentang suasana kerusuhan Mei 1998 justru mempercantik pementasan. (didik purwanto)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/budaya/refleksi-kerusuhan-mei-1988.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2368868739825819266?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2368868739825819266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2368868739825819266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2368868739825819266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2368868739825819266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/refleksi-kerusuhan-mei-1988.html' title='Refleksi Kerusuhan Mei 1988'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8ANSLFcSI/AAAAAAAAAOM/hAZFZ03WRLM/s72-c/20080727-news-2-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2065855492467167310</id><published>2008-07-25T18:42:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:48:07.970+07:00</updated><title type='text'>Sandekala, dari Novel ke Teater, dari Teater ke Televisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C5yQl41I/AAAAAAAAAOU/Vh9sLJCju14/s1600-h/sandekala-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C5yQl41I/AAAAAAAAAOU/Vh9sLJCju14/s320/sandekala-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228400884167598930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C5_ellmI/AAAAAAAAAOc/RSm0AXczp7s/s1600-h/sandekala-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C5_ellmI/AAAAAAAAAOc/RSm0AXczp7s/s320/sandekala-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228400887715960418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C6KsBs3I/AAAAAAAAAOk/Z6dWWD-Rbbo/s1600-h/sandekala-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C6KsBs3I/AAAAAAAAAOk/Z6dWWD-Rbbo/s320/sandekala-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228400890725118834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C6MzEIQI/AAAAAAAAAOs/2k0r3L6TYMs/s1600-h/sandekala-4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C6MzEIQI/AAAAAAAAAOs/2k0r3L6TYMs/s320/sandekala-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228400891291508994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8DNVZ6ZYI/AAAAAAAAAO8/BXEpShUhtjw/s1600-h/sandekala-6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8DNVZ6ZYI/AAAAAAAAAO8/BXEpShUhtjw/s320/sandekala-6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228401220019447170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C6JJHLzI/AAAAAAAAAO0/1AQS1vu4tvQ/s1600-h/sandekala-5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C6JJHLzI/AAAAAAAAAO0/1AQS1vu4tvQ/s320/sandekala-5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228400890310242098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Diki Umbara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandekala adalah novel karya Godi Suwarna, seniman asal Tasikmalaya yang lahir 42 tahun yang lalu. Godi merupakan seniman yang sangat produktif telah menghasilkan beragam karya, puisi, cerpen, novel serta naskah drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandekala belum lama dipentaskan dalam format teater disutradarai oleh Wawan Sofyan di Taman Ismail Marzuki. Pementasan teater yang menghadirkan sebanyak 25 tokoh dan dimainkan oleh berbagai kelompok teater ini berkisah tentang Suroto, Camat Kawali Ciamis yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Dengan kekuasaannya itu, dia berbuat sewenang-wenang termasuk merampas hak-hak warga setempat demi kepentingan pribadi. Ia melakukan kolusi dengan para kontraktor untuk pembangunan gedung olahraga dan pasar. Ia juga menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota, padahal tempat tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah dan rumah sakit. Ia pun menggunakan kekuasaannya sebagai camat untuk meraup keuntungan yang tentu saja masuk ke kantong pribadinya.Kang Godi, sebagai penulis begitu cerdik menulis novel ini, terkadang serius namun beberapa bagian dibuat lucu, guyonan khas Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke media yang digunakan, ini cukup menarik karena ada konvergensi atau tepatnya ”konversi” dari satu media ke media lainnya, dari novel (media cetak) ke teater (media ruang), dan dari teater ke televisi (media eketronik). Dan bisa jadi nantinya dari televisi ke media internet (youtube,dsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan teater sendiri dimainkan oleh Mainteater dari Bandung, pementasan sendiri ada dua yakni yang berbahasa Indonesia serta yang berbahasa Sunda. Sayang saya sendiri tidak sempat menyaksikan pementasan yang berbahasa Sunda, padahal dipastikan saya akan mengerti pementasan yang berbahasa Sunda karena sebagai orang Cianjur saya memahami betul bahasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis sendiri, meliput secara utuh acara teater untuk keperluan acara televisi merupakan pengalaman pertama. Tidak terlalu banyak persiapan untuk peliputan dengan menggunakan multicamera ini. Untungnya saya sempat melihat rehearsal pementasan teater yang dilakukan oleh sutrdara dan para pemain. Pengambilan gambar atau shooting dilakukan dengan tehnik live on tape. Sandekala berdurasi dua setengah jam rencananya akan dibagi menjadi 3 episode dan akan ditayangkan di semua televisi lokal yang tergabung di Afiliasi TV Lokal Indonesia. Saat ini Sandekala sedang memasuki tahap penyuntingan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tau persis seberapa banyak perubahan adaptasi dari karya novel ini ke dalam media teater. Namun kalau dari teater ke televisi benar-benar tidak ada perubahan kecuali hanya perpindahan media saja serta pembagian episode karena untuk penyesuaian durasi bagi keperluan on air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan Sandekala terselenggara oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti ICW, ELSAM, WALHI, Praxis, Forum Diskusi Wartawan Bandung. Acara ini diliput untuk keperluan dokumentasi serta tayangan televisi oleh SBM atau School for Broadcast Media Jakarta. Klik link ini untuk melihat detail pemetasan Sadekala. Jika penasaran, untuk anda di daerah sedikit bersabar karena pementasan sandekala akan segera hadir di televisi lokal dimana anda tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://dikiumbara.wordpress.com/2008/07/25/sandekala-dari-novel-ke-teater-dari-teater-ke-televisi/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2065855492467167310?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2065855492467167310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2065855492467167310' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2065855492467167310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2065855492467167310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/sandekala-dari-novel-ke-teater-dari.html' title='Sandekala, dari Novel ke Teater, dari Teater ke Televisi'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI8C5yQl41I/AAAAAAAAAOU/Vh9sLJCju14/s72-c/sandekala-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-843032050606549534</id><published>2008-07-24T18:23:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:51:04.425+07:00</updated><title type='text'>Menyalakan Dupa</title><content type='html'>Kamis, 24 Jul 2008 | 13:47 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, :Imaji di layar yang disemprotkan dari proyektor menunjukkan gambar-gambar demonstrasi mahasiswa pada 1998. Suara berdendang dalam logat Sunda menjelaskan bahwa situasi negeri sedang sakit. Ada kabar burung yang beredar soal pergantian pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas dibuka dengan suara menggelora diikuti petikan alat musik Sunda. Lampu kuning bercampur merah tersemburat di panggung yang telah diset layaknya kuburan dengan beberapa batu nisan berbagai ukuran dan bentuk. Selanjutnya adalah lakon seorang bapak tua berpakaian serba hitam yang menyalakan dupa di depan sebuah makam. Ia berkomunikasi dengan suara gaib seorang perempuan. "Negeri sedang bergejolak, petinggi negeri lupa diri, pejabat cuma menyengsarakan rakyat. Pejabat sendiri yang menjarah kekayaan negara," ujar Ki Kuncen ketika ditanyai soal kegelisahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah cuplikan awal penampilan kelompok teater Mainteater di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Selasa malam lalu. Mereka mementaskan pertunjukan berjudul Sandekala, yang diangkat dari novel karya Godhi Suwarna dengan judul sama. Ceritanya tentang seorang camat yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Si Camat juga berani menebang pohon dari Tabet Surawisesa, tempat keramat kompleks kuburan itu berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah si Camat (yang diperankan Tohari Yosdollac) beserta para penentangnya dipadu dengan kesaksian peristiwa Mei 1998. Atmosfer pengap itu dirasakan oleh Kuncen (Moel Mhe) di Tabet Surawisesa. Ini menjadi kisah utama dalam lakon Sandekala. Kebetulan cucu si Kuncen, bernama Bagus (Chandra Kudapawana), adalah mantan wartawan yang pernah mengungkap kasus korupsi si Camat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, lakon ini menyajikan drama dua dunia, yakni dunia gaib dan dunia nyata. Dunia nyata adalah soal pergolakan politik tersebut. Sementara itu, pada dunia gaib, dikisahkan interaksi Kuncen dengan Dyah Pitaloka (Puti Puspita Hadiati), yang dianggap sebagai titisan korban peristiwa di Tegal Bubat dan kerap menunjukkan diri dalam wujud ular putih raksasa, termasuk juga interaksi Bagus dengan Dyah, yang ternyata memiliki hubungan khusus di kehidupan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan lakon teater ini membutuhkan perhatian yang cermat. Soalnya, adegan beralih dari dunia nyata ke dunia gaib dan sebaliknya dengan cepat. Selain itu, lakon ini bisa dibilang terlalu njelimet. Terlalu banyak subplot. Alur cerita pun berjalan lambat. Total pertunjukan menghabiskan waktu lebih dari 150 menit. Menurut sutradara Wawan Sofwan, perjalanan cerita dalam lakon ini sudah ditekan menjadi lebih padat. "Inilah pilihan kami," ujarnya. Wawan menambahkan, ada berbagai idiom dalam bahasa Sunda yang butuh penjelasan lebih panjang dalam bahasa Indonesia, sehingga memakan waktu lebih lama. Kesulitan lainnya, tutur Wawan, adalah menggabungkan kisah dua dunia itu. "Kalau ada adegan yang dihilangkan, akan mempengaruhi adegan lainnya," kata pria 43 tahun yang sebelumnya menyutradarai pentas Nyai Ontosoroh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pementasan Selasa malam dalam bahasa Indonesia itu, Mainteater kembali membawakannya pada Rabu malam dalam bahasa Sunda. Lakon yang ditampilkan dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional ini juga telah dibawakan dua kali di Bandung pada 23 dan 24 Mei lalu. TITO SIANIPAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.tempointeraktif.com/read.php?NyJ=cmVhZA==&amp;amp;MnYj=MTI4OTI1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-843032050606549534?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/843032050606549534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=843032050606549534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/843032050606549534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/843032050606549534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/menyalakan-dupa.html' title='Menyalakan Dupa'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6407609960957350252</id><published>2008-07-23T18:25:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:51:21.888+07:00</updated><title type='text'>Nonton Sandekala</title><content type='html'>posting tgl 23 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemarin siang gue pergi ke taman ismail marzuki, nonton teater.&lt;br /&gt;di gbb, judulnya sandekala.&lt;br /&gt;tentang korupsi gitu. jadi ceritanya dihubungkan antara kerusuhan mei 98, dyah pitaloka yang zaman perang bubat itu,&lt;br /&gt;sama ya itu tadi, korupsi.&lt;br /&gt;yaudahlah ya, soal ceritanya sih panjang banget dan ribet.&lt;br /&gt;kalau ditulis di sini nggak oke, lebih oke kalau nonton sendiri! hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah teater itu,&lt;br /&gt;ada diskusi yang dibuka sama pihak penyelenggara sandekala.&lt;br /&gt;nah karena kebetulan acara kemarin itu diadain khusus pelajar smp-sma,&lt;br /&gt;jadi ya yang dateng tu pelajar semua.&lt;br /&gt;dan otomatis penanya dan diskusinya disesuaikan sama kalangan pelajar gitu.&lt;br /&gt;gue jujur aja udah nggak mood nanya kemarin.&lt;br /&gt;udah pusing, mana perut laper, masuk angin pula.&lt;br /&gt;hahahahhahahahah. asli madesu banget deh ah kemarin tuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diskusi berjalan kira-kira satu jam lebih gitu.&lt;br /&gt;dan banyak yang bisa dipelajari dari keenam narasumber yang ngeladenin pertanyaan kita.&lt;br /&gt;tapi yang paling gue inget dari diskusi kemarin,&lt;br /&gt;dan yang paling bikin gue semangat,&lt;br /&gt;adalah omongan dari seorang narasumber (anjrit gue lupa siapa, padahal tadi udah inget!).&lt;br /&gt;dia bilang :&lt;br /&gt;"korupsi itu kan dilakukan berjamaah,&lt;br /&gt;jadi kita ngelawannya juga harus berjamaah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WOOW.&lt;br /&gt;semangat! keep hoping and keep trying to fight the corruption!&lt;br /&gt;haaaaaaaa. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://blognyanazh.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6407609960957350252?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6407609960957350252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6407609960957350252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6407609960957350252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6407609960957350252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/nonton-sandekala.html' title='Nonton Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4408061199208937916</id><published>2008-07-23T18:24:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:51:40.353+07:00</updated><title type='text'>nonton TEATER nyokk</title><content type='html'>- Wednesday, July 23, 2008 -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemarenm tanggal 22 july, gw nonton teater lohh di TIM. gw bersama 16 anak teater SURAT (Santa Ursula Teater) pergi berbondonkbondonkk ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pokonya jam 11.30 kita keluar kelas. (padahal lagi adegan si pin merayu inggrid. huaa) terus ganti baju dan jam 12 kita cabcuss naik transBSD. yeahh. di bus sih gw duduk b3 ama eva dan xty (lovelovelove) truss turun di halte mana gt trus naik KOPAJA (the cutest bus in the whole world). abis itu turun dah di TIM. nyammnyamm..&lt;br /&gt;total cost so fat : 13.000 + 2.500 = 15.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abis itu ternyata jam sudah menunjukkan pukull 13.35 sedangkan pertunjukkannya jam 14.00 . which is kita cuma punya waktu 25 mnit buat makan. karena menghemat waktu dan ongkos gw makan b2 sama timur tanpa minum. karena gw sudah bawa minum dr rumah. dan menu makanan kami adalah : NASI GORENG KAMBING. yeaaa. gw gatauk dah kita makan anunya apa kagak. (JIJIX). dan sumpah tuh makanan keluarnya lama boneng. akir2nya keluarnya baru jam 13.55. dengan semangat 45, gw dan timur makan dengan brengos. gw dan timur selesai makan hanya dengan waktu 3 menit sajah. LUAR BIASA. akirnya kita ke TIM nya tuh mepet2 jam 14.05 kira2. untung saja tidak telat. pas masuk teaternya blom dimulai dah..&lt;br /&gt;total cost : 15.500 + 10.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;judulnya adalah SANDEKALA. ceritanya sih pretty much about INDONESIA. masalah korupsi dibahas trus juga kemiskinan juga dibahas. settingnya tuh kerusuhan mei 98. dan yang gw suka tuh smua genre tuh bner2 komplit dari petualangan, horror, komedi, percintaan, thriller, folk, family, nasionalisme, dll. gilaaaakkk keren. gw nggak ngantuk loh. padahal biasanya kalo nntn teater gw sukabermimpi mendenger gw mendengkur alias ketiduran (kcuali kalo musical, gw terlalu suka sama musical). dan walopun ada beberapa part yang gw bingung, tp overall dari range 1-10 gw berani kasih 8,5. plokplokk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;okok tapi there's some problem during the show..&lt;br /&gt;1. gara2 makan kambing, gw jadi kebelet kentut.&lt;br /&gt;yudah lah gw kntut ajah di TIM. maav yah teman2 dari skolah lain yang duduk di belakang gw. nggak nahan, cuy.&lt;br /&gt;2. karena kebnyakan kntut, gw jadi laper lagi. (eh bener gak yah?)&lt;br /&gt;nah di salah satu scene di mana ada acara makan kue, gw semakin tidak karuan. hasrat ingin makan terus muncul. terus gw grasakgrusuk merengek ingin makan seperti baby huey mintasirloin steak nggak pake lemak ditambah mashed potato sama fresh vegetables ditambah teh botol sosro. ampe2 si christy kewalahan.&lt;br /&gt;maav nek, hasrat makan cucumu ini memang kuat!&lt;br /&gt;3. kayaknya gw agak toa deh.&lt;br /&gt;pokoknya ada adegan si Dadang abis ngobrol dan mau pergi. tp masalahnya jaket yang dia lepasin ituh nggak dia bawa. terus yudah:&lt;br /&gt;pg : (ngomong biasa) itu jaketnya ketinggalan woy.&lt;br /&gt;Dadang : oh iya jaketnya lupa.&lt;br /&gt;bu desiongg : itu kayanya dya denger kmu ngmng apa deh. jangan2 ntar kuenya dianterin ke sini lagi.&lt;br /&gt;HUAAAAAA. gw maluu. kayaknya gw nggak toa2 amat dehh. huaaah gw cuma gomong biasaaa. underline donkk!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abis nntn kan mo ada forum diskusi tuh, gw mendengar percakapan seperti ini :&lt;br /&gt;nana : eh, liat deh yg di belakang itu? mirip Samuel Rizal nggak c??&lt;br /&gt;eva : na, itu memang Samuel Rizal&lt;br /&gt;abis itu kita foto deh ama Samuel Rizal. and untuk ukuran artis, dya termasuk artis yang amat sangat LOW PROFILE.&lt;br /&gt;hey, artis2, contohlah SAMMY. Dia tidak somong malah ramah benjed. nggak boong. gw jd ngefans lagi. terakir gw ngefans dya tuh pas jaman2nya eiffel im in love. je t'aime lah pokonya. fotonya menyusul deh. ntar gw edit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abis itu gw pulang ama eva dan xty. di mobil saking bosannya kita ngobrol bercanda2,nyanyi tembang lawas (westlife) dan lainlain. tunggu album perdana kami. only in our house. haha. trus makan kuetiaw enak. abis itu gw nyampe rumah jam 21.00. AHH SO FINE!! seneng gw kemarenn!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;love you SURAT!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://pritashizuka.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4408061199208937916?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4408061199208937916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4408061199208937916' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4408061199208937916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4408061199208937916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/nonton-teater-nyokk.html' title='nonton TEATER nyokk'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5954648547898717650</id><published>2008-07-22T18:23:00.000+07:00</published><updated>2008-08-01T18:24:53.298+07:00</updated><title type='text'>Sandekala Menuntut Perubahan</title><content type='html'>Greg Kenton memiliki segudang bakat, padahal umurnya baru belasan tahun. Di bidang olahraga, dia jago bermain bisbol dan sepak bola. Di bidang kesenian, suaranya juga jernih ketika bernyanyi dan bisa bermain piano. Tak hanya itu, membuat sketsa dan menggambar adalah hal yang gampang buat dia. Di bidang akademik, dia bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, mulai dari membaca, menulis, IPA, dan IPS. Namun, bakat yang paling menonjol yang dia miliki adalah yang berhubungan dengan uang. Dan bakat ini sangat mendukung cita-citanya untuk menjadi menjadi orang yang kaya raya. Dia berharap dengan mempunyai uang yang sangat banyak, dia bisa membeli barang-barang dia inginkan, mengunjungi banyak tempat, serta melakukan apa saja yang dia mau. Dan untuk mewujudkan cita-citanya, dia pun mulai merintis usaha “kecil-kecilan” semenjak usianya belum memasuki usia sekolah. Dia bekerja keras untuk mengumpulkan uang, sen demi sen, dolar demi dolar. Mulai dari bisnis merapikan kamar tidur dua saudaranya, mendaur ulang sampah, menjual barang loakan, menyemir sepatu pesta orang tuanya, membersihkan pekarangan, menjual limun, menjual mainan, sampai membuat komik mini. Semuanya dia kerjakan dengan tekun dan kerja keras. Kisah Greg ini tertuang dalam buku “Lunch Money” karangan Andrew Clements, terbitan Simon and Schuster, New York. Kemudian diterjemahkan oleh Mukti Mulyana dengan judul “Uuang Jajan” dan diterbitkan oleh Little Serambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang yang kaya raya adalah tujuannya. Dan untuk menjadi kaya raya, mengumpulkan uang yang sangat banyak adalah salah satu solusinya. Uang, uang, dan uang. Alat tukar untuk bertransaksi bisnis ini menjadi barang yang sangat penting. Namun jauh sebelum konsep uang dikenal sebagai alat transaksi, dikalangan primitif sistem pertukaran dalam kehidupan sehari-hari masih dilakukan dengan menggunakan benda atau barang. Proses ini lazim disebut dengan sistem barter, dimana benda atau barang yang dipertukarkan itu ditaksir dengan suatu nilai yang disetujui dan disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah transaksi. Bahkan, masyarakat primitif menganggap kalau pola pertukaran dalam bentuk barter ini mengandung nilai moralitas tertentu yang sesuai dengan nilai-nilai esensial yang diyakini oleh masyarakat bersangkutan. Karena bagi mereka, transaksi peralihan kepemilikan suatu benda atau barang dari satu orang ke orang lainnya bukan hanya menyangkut sebuah transaksi peralihan benda atau barang semata, tetapi merefleksikan hal yang disebut para ahli antropologi sebagai cosmic balanca dan social order (Johnny Parry and Maurice Bloch, 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti sosial, Amich Alhumami, dari Departemen Sosial Antropologi, Universitas Sussex, Inggris, dalam sebuah tulisannya menyatakan bahwa uang mempunyai empat esensi moralitas, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, melambangkan penghargaan dan penghormatan di antara sesama anggota masyarakat dalam suatu bangunan struktur sosial yang berlapis-lapis. Anggota masyarakat dari lapisan sosial yang berbeda dalam struktur hirarki sosial bisa saling berinteraksi tanpa pembatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, merawat relasi horizontal antar warga dan memperkuat harmoni sosial sehingga setiap warga memperoleh kenyamanan dan ketenteraman dalam kehidupan kemasyarakatan. Harmonium merupakan sendi dasar dalam relasi sosial yang harus dijaga melalui kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membangun dan meneguhkan solidaritas sosial untuk memperkuat ketahanan masyarakat atas dasar keterikatan emosional dan pertalian kekerabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, memperkokoh dan memantapkan daya rekat sosial guna mencegah dan mengeliminasi potensi konflik serta menghindari friksi di dalam masyarakat, bahkan yang berskala kecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat primitive menjadikan keempat esensi moralitas pertukaran di atas sebagai bingkai kehidupan yang dapat memelihara keteraturan sosial dan membangun keselarasan dalam kehidupan keseharian. Jadi, tidak mengherankan bila keseimbangan kosmik dan ketertiban sosial dapat terjaga secara berkelanjutan. Namun sayangnya, di kehidupan modern sekarang ini, nilai esensi moralitas tersebut telah bergeser jauh. Uang pun dijadikan sebagai alat tukar untuk memperdagangkan kekuasaan, kewenangan, keputusan, serta komersialisasi jabatan. Semata-mata hanya untuk menumpuk materi demi mencukupi kebutuhan konsumsi yang telah melewati batas kecukupan untuk sekedar menikmati hidup. Kebutuhan seolah tidak pernah tercukupi, bertambah dari hari ke hari, dan segala cara dilakukan untuk mendapatkan uang dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Manusia seolah tidak perduli telah melanggar nilai kepatutan, tetapi bahkan telah merusak tatanan nilai, etika, dan norma yang menjadi sendi dasar ketertiban dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Ini terbukti dengan maraknya kasus suap yang berujung pada kasus korupsi di berbagai instansi di Indonesia, yang telah merusak sistem akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Mulai dari kasus korupsi dana nonbudgeter di PT. Kantor Pos Indonesia WIlayah IV, kasus korupsi pengadaan alat pendeteksi virus flu burung di Departemen Pertanian, kasus penyuapan terkait pengadaan kapal di Ditjen Perhubungan, kasus korupsi di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, kasus korupsi penjualan kapal tanker raksasa di PT. Pertamina, kasus penyalahgunaan jabatan oleh mantan Dirut TVRI, kasus korupsi proyek Gerakan Rehabilitasi Nasional Hutan dan Lahan di Departemen Kehutanan, sampai kasus suap yang terjadi di Kejaksaan Agung. Dan masih banyak lagi kasus-kasus korupsi yang terjadi di departemen lain seperti: Departemen Luar Negeri, Departemen Sosial, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Dalam Negeri, Bank Indonesia, PT. Taspen, Komisis Yudisial, sampai ke TNI. Dan yang lebih memiriskan adalah kasus suap yang melibatkan anggota dewan yang terhormat, yang seharusnya bertindak sebagai penyambung lidah aspirasi rakyat, terkait dengan kasus alih fungsi hutan di Bintan, Kepulauan Riau, yang juga melibatkan Sekretaris Daerah setempat. Belum lagi dengan kasus alih fungsi hutan mangrove di Tanjung Api-api, Sumatera Selatan. Bahkan alam (hutan) pun dijarah demi menumpuk materi, jadi tidak mengherankan ketika alam menuntut balik dengan ketidakadilan yang diterimanya. Bencana alam pun terjadi, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga ke pemanasan global. Alam pun seolah menuntut perubahan untuk diperlakukan secara baik dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainteater dalam lakon Sandekala pun menuntut perubahan yang diawali dengan kisah perbincangan Ki Kuncen dengan seekor burung kepodang di sebuah tempat yang bernama Tabet Surawisesa. Kemudian diikuti dengan kisah camat Suroto yang seharusnya mengayomi rakyatnya malah menyalahgunakan kekuasaan serta wewenangnya telah berani menebang pohon dari hutan keramat yang dijaga oleh Ki Kuncen, yang dari generasi ke generasi sangat dijaga kesakralannya. Hal ini membuat masyarakat yang diwakili pemuda dan mahasiswa menjadi berang dan memprotes tindakan tersebut. Belum lagi permintaan pemindahan lokasi pasar malam yang dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan karena berdekatan dengan areal peribadatan, seolah tidak ditanggapi oleh sang camat hanya karena menganggap hal itu akan mengurangi uang “pemasukan”. Dan seperti biasa, suara-suara kebenaran harus dibungkam dengan cara apapun, tak ketinggalan orang-orang yang menyuarakannya pun harus ditumpas. Bagus (Chandra Kudapawana), seorang wartawan, yang juga cucu Ki Kuncen satu-stunya, yang mengungkap kasus keculasan seorang walikota, malah di PHK oleh perusahaan surat kabar tempatnya bekerja. Dan lebih tragis lagi, para pemuda dan mahasiswa yang memprotes penyalahgunaan kekuasaan harus meregang nyawa ditengah serbuan peluru yang membabi buta menyerang tubuh mereka, saat bersembunyi di Tabet Surawisesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon ini dipentaskan pada hari Selasa, 22 Juli 2008, jam 20.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail, dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Dari segi cerita, lakon ini terasa sangat pas dengan momentum dimana kasus korupsi di Indonesia semakin banyak yang terkuak, dan semoga ini menjadi penyemangat buat KPK untuk lebih menunjukkan taringnya dalam memberangus pelaku-pelaku korupsi. Pentas ini juga memberikan humor lewat bahasa tubuh dan celetukan Didon (Kodrat Firmansyah) yang cukup natural untuk membantu mehilangkan rasa jenuh dan kantuk penonton pentas yang berlangsung selama lebih dari 3 jam ini. Namun, di beberapa adegan, musik latar yang terlalu keras seolah beradu dengan suara pemain, yang membuat penonton tidak bisa mengikuti dialog antar pemain secara jelas. Belum lagi, adegan konyol si Otong yang awalnya terasa lucu, namun akhirnya terasa berlebihan dan garing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, lakon Sandekala yang diadaptasi dari novel berjudul sama, ditulis oleh Godi Suwarna, juga telah dipentaskan di Bandung pada tanggal 23 dan 24 Mei 2008, dengan menggunakan bahasa Sunda. Sandekala yang disutradarai oleh Wawan Sofwan ini pun akan kembali dipentaskan dengan menggunakan bahasa Sunda pada tanggal 23 Juli 2008, pukul 20.00 WIB, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyedihkan, ternyata masyarakat primitif justru lebih kuat dalam memegang prinsip-prinsip moralitas dalam memaknai pertukaran melalui aneka bentuk kearifan tradisional sehingga mampu menjaga keseimbangan kosmik dan keteraturan sosial. Dapat dipastikan kalau uang bukanlah “dewa” buat mereka yang harus dipuja, dikumpulkan, dengan menghalalkan segala cara. Dan Greg Kenton juga sangat berbeda dengan pelaku-pelaku korupsi di negeri ini dan dimanapun, karena dia lebih menyukai bekerja keras untuk mendapatkan dan mengumpulkan uang yang halal. Pelan-pelan menjadi kaya adalah sebuah proses membentuk kesabaran yang dinikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://neutroncobol.multiply.com/reviews&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5954648547898717650?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5954648547898717650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5954648547898717650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5954648547898717650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5954648547898717650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/sandekala-menuntut-perubahan.html' title='Sandekala Menuntut Perubahan'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8661512937244490885</id><published>2008-07-22T18:07:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:49:48.010+07:00</updated><title type='text'>Bangkit Melawan Korupsi dengan Kearifan Lokal</title><content type='html'>Selasa, 22 Juli 2008 15:14 Arief Ariyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="file:///E:/TEMP/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI2pOP2bDaI/AAAAAAAAAN8/_NMXwn-Rkz4/s1600-h/konpres_sandekala.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI2pOP2bDaI/AAAAAAAAAN8/_NMXwn-Rkz4/s320/konpres_sandekala.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228020804685073826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi Pers Pementasan Teater Sandekala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi adalah salahsatu perilaku yang menggerogoti semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi sudah membudaya dan mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua lini. Bahkan masyarakat pun secara perlahan telah menerima budaya korupsi sebagai hal yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan korupsi sebagai wabah yang membudaya diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni medium budaya. Korupsi telah merusak secara sistematik berbagai aspek kehidupan, termasuk perusakan manusia terhadap alam semesta. Hampir bisa dipastikan, korupsilah penyebab terbesar perilaku perusakan alam seperti penggundulan hutan, pengeksplotasian yang tak bertanggungjawab terhadap semua kekayaan di perut bumi, dan pencemaran lingkungan sampai ke lapisan ozon. Tak bisa ditawar lagi, kita perlu sebuah gerakan kebudayaan untuk melawan budaya korupsi dan membangkitkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang menghargai kehidupan harmonis antara sesama manusia dan antara manusia dengan alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesadaran itulah, pada hari ini rabu, 22 Juli sampai dengan tanggal 23 Juli 2008, ada pementesan teater Sandekala di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pergelaran itu diprakarsai oleh Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesian Coruption Watch, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Main Teater. Didukung oleh Komunitas Indonesia Menggugat, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Remdec, Gedung Kesenian Rumentang Siang, HUMA. Sebagai media partner, pementasan ini menggandeng Voice of Human Right , Media dan Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, School for Broadcast Media dan Jaringan Videomaker Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konferensi pers, kemarin siang di Melly’s Café, Jakarta Pusat, Andi K Yuwono salahsatu produser pementasan Teater Sandekala mengatakan, Sandekala sebenarnya adalah sebuah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah cerita berlatar sebuah kota kecil, Kawali. Cerita yang mengalir merupakan refleksi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Andi K Yuwono, pementasan ini merupakan pementasan gratis yang ditujukan bagi para siswa dan masyarakat umum. Tontonan yang gratis seperti ini diharapkan dapat memperluas sasaran kampanye melawan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagi kami ini adalah awal sebuah perlawanan berbasis kebudayaan untuk memerangi korupsi dan perusakan lingkungan dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai titik pijaknya”, kata Wawan Sofwan, sutradara pementasan saat mengakhiri konferensi pers itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief Ariyanto, tim kerja mediabersama.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.mediabersama.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8661512937244490885?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8661512937244490885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8661512937244490885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8661512937244490885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8661512937244490885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/bangkit-melawan-korupsi-dengan-kearifan.html' title='Bangkit Melawan Korupsi dengan Kearifan Lokal'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SI2pOP2bDaI/AAAAAAAAAN8/_NMXwn-Rkz4/s72-c/konpres_sandekala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8930370054056083010</id><published>2008-07-21T18:38:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T18:39:09.245+07:00</updated><title type='text'>Sandekala akan dipentaskan di GKJ</title><content type='html'>Senin, 21/07/2008 17:37 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Fani Agustina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA (bisnis.com): Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Walhi didukung oleh Mainteater dan ICW akan menggelar pementasan teater Sandekala di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 22-23 Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya diangkat dari novel berbahasa Sunda yang bertema tentang korupsi di Indonesia. Novel pemenang hadiah sastra Rancage 2008 ini merupakan karya Godi Suwarna, penulis puisi dan prosa, dalam bahasa Sunda sejak 1976.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Sofwan, sutradara dan produser pementasan teater ini, mengatakan ada empat tema besar yang ingin disampaikan yaitu korupsi, penebangan hutan, perjuangan mahasiswa pada tahun 1998 dan kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Korupsi diangkat karena seperti yang telah diketahui korupsi merupakan tindakan yang telah 'membudaya'. Ini merupakan tindakan dari seniman untuk memerangi korupsi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Sandekala juga telah dipertontonkan di Bandung pada Mei 2008. Dia mengatakan Novel Sandekala bertemakan peristiwa Mei’98 dan bulan Mei 2008 dirasa cocok karena genap 10 tahun Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, kesenian merupakan cerminan realitas sosial di mana kesenian itu berada. Jadi pementasan teater ini bisa menggambarkan realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Pementasan teater ini turut mengundang siswa SMA agar mereka bisa sadar akan masalah besar yang terjadi di Indonesia.� (tw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://web.bisnis.com/senggang/seni-budaya/1id69671.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8930370054056083010?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8930370054056083010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8930370054056083010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8930370054056083010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8930370054056083010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/sandekala-akan-dipentaskan-di-gkj.html' title='Sandekala akan dipentaskan di GKJ'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5222454448827721369</id><published>2008-07-21T13:00:00.000+07:00</published><updated>2008-07-21T13:00:03.898+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;SIARAN PRESS&lt;br /&gt;PENTAS TEATER SANDEKALA&lt;br /&gt;www.teater-sandekala.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselenggarakan oleh:&lt;br /&gt;ICW – WALHI – Perkumpulan Seni Indonesia – mainteater Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didukung oleh:&lt;br /&gt;Komunitas Indonesia Menggugat, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu,&lt;br /&gt;GK Rumentang Siang, HUMA, Remdec, Hivos, ICCO, Yayasan TIFA, Voice of Human Rights,&lt;br /&gt;Prakarsa Rakyat, School for Broadcast Media, Jaringan Videomaker Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BANGKIT MELAWAN KORUPSI, PERUSAKAN LINGKUNGAN&lt;br /&gt;DAN PELANGGARAN HAM DENGAN KEARIFAN LOKAL&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;100 tahun Kebangkitan Nasional baru usai kita peringati. Ada banyak wacana, banyak unjuk rasa, banyak refleksi, dan berbagai kegiatan. Di tengah gejolak penderitaan rakyat yang dilanda berbagai krisis kehidupan, apakah makna peringatan 100 tahun kebangkitan nasional? Mungkin untuk mengingatkan kita semua betapa masih banyak penderitaan, persoalan, dan tantangan bagi bangsa ini agar bisa benar,benar “bangkit “. Nyatanya, saat ini kebangkitan nasional hanya tinggal slogan kosong yang habis digerogoti para koruptor dan kesewenang,wenangan para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi adalah salah satu perilaku yang menggerogoti semua sendi,sendi kehidupan berbangsa dan bernegara bak virus ganas yang tak terhalangi oleh antivirus apapun. Korupsi sudah menjadi sebuah “budaya” yang mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua lini. Bahkan masyarakat pun secara perlahan telah menerima budaya korupsi sebagai sebuah kewajaran. Ini sungguh berbahaya. Jika masyarakat semakin bisa menerima korupsi sebagai sebuah hal biasa yang wajar,wajar saja, bangsa kita mungkin tak kan pernah bisa “bangkit” dari berbagai keterpurukan yang terus menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melawan korupsi sebagai “wabah yang membudaya“ diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni medium budaya. Korupsi merusak secara sistemik berbagai aspek dan dimensi kehidupan, termasuk perusakan manusia terhadap alam semesta. Hampir bisa dipastikan, korupsilah penyebab terbesar perilaku perusakan alam seperti penggundulan hutan, pengeksplotasian yang tak bertanggungjawab terhadap semua kekayaan di perut bumi, dan pencemaran lingkungan sampai ke lapisan ozon. Tak bisa ditawar lagi, kita perlu sebuah gerakan kebudayaan untuk melawan budaya korupsi dan membangkitkan kembali nilai,nilai kearifan lokal yang menghargai kehidupan harmonis antara sesama manusia dan antara manusia dengan alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesadaran itulah, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, mainteater didukung oleh Komunitas Indonesia Menggugat, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Remdec, Pengelola GK Rumentang Siang, HUMA dengan bantuan dana dari Hivos, ICCO dan Yayasan Tifa bekerja sama untuk memproduksi pementasan teater Sandekala yang diangkat dari novel berbahasa Sunda pemenang hadiah sastra Rancage 2008 karya Godi Suwarna. Sebagai media partner, pementasan ini menggandeng Voice of Human Rights (VHR) Media dan Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, School for Broadcast Media dan Jaringan Videomaker Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan ini merupakan pementasan gratis yang ditujukan bagi siswa SMA, umum dan masyarakat Sunda yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Dengan memberikan tontonan gratis diharapkan dapat memperluas sasaran kampanye yang kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami ini adalah langkah awal sebuah perlawanan berbasis kebudayaan untuk memerangi korupsi dan perusakan lingkungan dengan mengangkat nilai,nilai kearifan lokal sebagai titik pijaknya. Datang dan saksikanlah pementasan yang disutradarai Wawan Sofwan ini di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22 , 23 Juli 2008. Satukan tekad Anda untuk bersama,sama melawan budaya korupsi melalui gerakan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama seluruh penyelengaran dan pendukung pementasan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Andi K. Yuwono                            Wawan Sofwan&lt;br /&gt;Produser                                Produser/Sutradara&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Chalid Muhammad                            FX. Rudy Gunawan&lt;br /&gt;Eksekutif Produser                            Eksekutif Produser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Danang Widoyoko&lt;br /&gt;Eksekutif Produser&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5222454448827721369?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5222454448827721369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5222454448827721369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5222454448827721369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5222454448827721369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/siaran-press-pentas-teater-sandekala.html' title=''/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-416904401112585116</id><published>2008-07-17T22:18:00.002+07:00</published><updated>2008-07-31T22:23:40.874+07:00</updated><title type='text'>Teror Alam Ghaib</title><content type='html'>Ini pengalaman gue saat latihan teater tadi sore. Biasa naskahnya belum berubah juga, masih tentang pementasan Sandekala. Masalah begini, saat itu gue lagi duduk santai di pojok Gedung Rumentang Siang. Tempat itu biasa dipakai sama gue buat merogo sukmo (edan bahasana) atau istilah lainnya menghapal dialog. Mencoba nyari bentuk baru sekalian menikmati secangkir kopi hasil ngutang dari Mang Ndut. Sementara di panggung sana adegan baru sampai pada babak Warung Kersen. Berarti sebentar lagi giliran gue buat akting. Babak yang akan gue jalanin itu bercerita tentang Diah Pitaloka yang mengirimkan daun lontar berisikan tulisan Anggana (menyendiri. Di sana juga Bagus Madenda harus Trans menjadi Buyut Pawitan (kekasihnya Putri Diah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi enak-enak nyantai tiba-tiba hidung gue mencium harum Bunga Melati. Harumnya itu sangat kental, dan berbeda sekali dengan harum melati sebenarnya. Bau yang gue cium itu seakan membawa getaran dahsyat. Seketika keanehan muncul dengan tiba-tiba, gue merasa ada dialam lain. Alam yang samar dengan suara-suara tabuhan gamelan. Tapi untungnya kejadian itu tidak berlangsung lama, hanya terjadi beberapa menit saja. Dan saat itu juga, gue langsung ngeluarin ilmu yang selama ini tidak pernah digunakan yakni…….Kabur. Gue kabur Man! Hebat kan? Langsung gue nyamperin ke Kang Emul yang berperan menjadi Aki Kuncen. Gue duduk dipinggirnya tanpa ngomong apa-apa. Beberapa detik kemudian, Kang Emul berbisik “harum melati,” gumamnya. Kontan saja gue kaget plus pias. Lalu Kang Emul natap wajah gue. Ia seperti melihat sesuatu dalam diri gue. Mungkin beliau adalah seorang yang mempunyai ilmu kebatinan, hanya dengan menganggukan kepala bau bunga melati itupun hilang entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama babak giliran gue tiba, suara Diah Pitaloka telah terdengar. Gue langsung masuk ke panggung, dan selanjutnya gue sukses……. Kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://chanzart.wordpress.com/2008/07/17/teror-alam-ghaib/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-416904401112585116?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/416904401112585116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=416904401112585116' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/416904401112585116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/416904401112585116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/teror-alam-ghaib.html' title='Teror Alam Ghaib'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7479536199055710535</id><published>2008-07-17T15:26:00.002+07:00</published><updated>2008-07-17T15:30:47.575+07:00</updated><title type='text'>Sandekala Akan Ditayangkan di 36 TV Lokal</title><content type='html'>Berdasarkan kesepakatan dengan School For Broadcast Media dan atas dukungan Yayasan TIFA, pementasan Sandekala berbahasa Indonesia akan direkam dalam format DVD yang nanti akan disebarkan secara gratis kepada publik dan dapat digandakan secara bebas sepanjang tidak menghilangkan informasi mengenai penyelenggara dan pendukung pementasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Sandekala juga akan ditayangkan di 36 televisi lokal di seluruh Indonesia sebagai bahan kampanye anti korupsi, lingkungan dan pelanggaran HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada School For Broadcast Media, kami ucapkan terima kasih atas dukungannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7479536199055710535?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7479536199055710535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7479536199055710535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7479536199055710535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7479536199055710535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/sandekala-akan-ditayangkan-di-36-tv.html' title='Sandekala Akan Ditayangkan di 36 TV Lokal'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5454830355183181957</id><published>2008-07-17T14:36:00.005+07:00</published><updated>2008-07-19T14:31:38.765+07:00</updated><title type='text'>Gratis Nonton Sandekala</title><content type='html'>Menyesuaikan sistem perpajakan Indonesia yang rumit, bersama ini diumumkan bahwa akhirnya pementasan Teater Sandekala &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;digratiskan&lt;/span&gt; bagi seluruh penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara tidak menutup kemungkinan bagi pihak-pihak yang ingin menyumbang pementasan dan akan disediakan kotak sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, untuk kenyamanan penonton kami tetap memberlakukan sistem undangan. Undangan tersebut dapat diambil di hari pementasan di ticket box sesuai kapasitas yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berikut status kapasitas yang tersedia per 17 Juli 2008:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Total kapasitas gedung per pertunjukan: 800 Undangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pementasan I Berbahasa Indonesia untuk SMU&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; atau pelajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 22 Juli 2008 Pukul 14.00&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masih tersedia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pementasan II Berbahasa Indonesia untuk Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 22 Juli 2008 Pukul 20.00&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masih tersedia 70 Undangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pementasan III Berbahasa Sunda untuk Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 23 Juli 2008 Pukul 20.00&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masih tersedia 500 Undangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk informasi silahkan hubungi Lanjar di 0818404138, 3156907, 3156908&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap maklum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5454830355183181957?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5454830355183181957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5454830355183181957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5454830355183181957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5454830355183181957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/gratis-nonton-sandekala.html' title='Gratis Nonton Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2258236414042669518</id><published>2008-07-11T21:22:00.001+07:00</published><updated>2008-07-11T21:25:56.073+07:00</updated><title type='text'>Tentang Harga Tiket</title><content type='html'>Menjawab pertanyaan dari banyak kalangan tentang harga tiket yang diberlakaukan, bersama ini diinformasikan bahwa harga tiket baik untuk pementasan tanggal 22 dan 23 pukul 20.00 adalah Rp. 25.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk pementasan bagi pelajar termasuk diskusinya, tidak diberlakukan tiket namun berupa undangan terbatas yang ditujukan bagi 80 sekolah yang sudah diseleksi. Dengan demikian tiket pelajar seharga Rp. 15.000,- tidak diberlakukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap maklum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2258236414042669518?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2258236414042669518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2258236414042669518' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2258236414042669518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2258236414042669518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/tentang-harga-tiket.html' title='Tentang Harga Tiket'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-1982098943820144193</id><published>2008-07-04T14:37:00.001+07:00</published><updated>2008-07-04T15:16:14.734+07:00</updated><title type='text'>Sandekala di Layar TV</title><content type='html'>Sandekala telah ditayangkan di TVRI sebagai bentuk dukungan perluasan informasi kampanye anti korupsi, lingkungan dan pelanggaran HAM. Di Jawa Barat, TVRI Stasiun Bandung telah menayangkannya pada tanggal 21 dan 25 Juli 2008 lalu. Adapun untuk siaran nasional, TVRI akan melakukannya pada tanggal 25 Juli dan 1 Agustus 2008 nanti pada pukul 23.15 (tentative). Siaran tersebut merupakan program budaya Sunda sehingga pementasan yang ditayangkan merupakan pementasan di Bandung yang berbahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang tidak sempat hadir silahkan menonton tayangan tersebut. Terima kasih kepada TVRI yang telah memberikan ruang untuk kampanye ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak bisa berbahasa Sunda, tentunya masih ada peluang untuk menonton Sandekala versi bahasa Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki - Jakarta, pada tanggal 22 Juli 2008 pukul 20.00. Mohon maaf jumlah tiket sudah terbatas. Khusus pementasan untuk pelajar tanggal 22 Juli 2008 tiket telah habis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-1982098943820144193?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/1982098943820144193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=1982098943820144193' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1982098943820144193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1982098943820144193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/sandekala-di-layar-tv.html' title='Sandekala di Layar TV'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-1164830166759448819</id><published>2008-07-02T18:29:00.004+07:00</published><updated>2008-07-02T18:36:22.716+07:00</updated><title type='text'>Lomba Penulisan Opini "Anti Korupsi" Tingkat SMU se-Jakarta</title><content type='html'>TERM OF REFFERENCE&lt;br /&gt;LOMBA PENULISAN OPINI “ANTI KORUPSI” TINGKAT SMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah sangat mengakar di berbagai lapisan birokrasi dan instusi pemerintahan, memerlukan upaya-upaya pencegahan yang melibatkan seluruh anggota masyarakat. Upaya strategis yang masih memerlukan dukungan masyarakat secara luas adalah menumbuhkan semangat anti korupsi pada kalangan generasi muda sehingga di masa depan, secara pasti bangsa kita benar-benar akan terbebas dari praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Keberadaan KPK saat ini, setidaknya telah berhasil menciptakan kondisi yang membuat para koruptor besar menahan aksi-aksi korupsi mereka. Namun apa yang dilakukan KPK baru menyentuh sebagian kecil saja dari permasalahan korupsi dan upaya-upaya pemberantasannya. Tanpa dukungan kongkrit dari masyarakat, entah itu hanya berupa upaya minimal tidak mendukung praktik korupsi sampai upaya yang lebih besar seperti melakukan kampanye anti korupsi sendiri, KPK akan kewalahan memerangi korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh kampanye anti korupsi yang dilakukan atas inisiatif sendiri adalah pementasan teater “Sandekala” oleh sejumlah seniman yang berkolaborasi dengan sejumlah LSM. Naskah “Sandekala” karya Godhi Suwarna yang memang bermuatan perlawanan terhadap korupsi dan perusakan lingkungan menjadi sebuah media untuk mengajak masyarakat ikut bersama-sama melawan korupsi. Jalan kebudayaan untuk mengkampanyekan berbagai persoalan sosial bisa lebih efektif karena sifatnya yang lebih persuasive. Bertolak dari pementasan Sandekala yang sudah digelar di Bandung bulan Mei 2008 dan akan dipentaskan di Jakarta 23-24 Juli 2008 dengan fokus penonton siswa SMU, akan diadakan sebuah lomba penulisan opini untuk siswa SMU yang menjadi penonton pementasan teater Sandekala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan lomba ini terkait dengan upaya untuk menumbuhkan semangat anti korupsi di kalangan generasi muda. Melalui lomba penulisan opini yang dikaitkan dengan pementasan teater Sandekala, siswa SMU yang menonton selain terstimulus untuk melakukan apresiasi, juga dimotivasi untuk menuangkan pendapat mereka dalam bentuk tulisan opini. Diharapkan setidaknya setiap SMU mengirimkan satu tulisan dari siswa yang mereka tunjuk sehingga jika ada 80 SMU yang menonton, akan terkumpul 80-an tulisan yang mewakili opini generasi muda tentang korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema lomba penulisan opini ini tidak berhubungan langsung dengan cerita dalam pementasan teater Sandekala karena pertunjukan tersebut hanya menjadi semacam “alat” untuk merangsang gagasan dan pendapat siswa SMU tentang korupsi. Tema untuk lomba penulisan ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Korupsi dan Masa Depan Bangsa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dampak Korupsi Terhadap Lingkungan Hidup&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika Ada Seorang Koruptor di Keluarga&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Setiap peserta bebas memilih satu tema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lomba hanya boleh diikuti oleh seorang siswa mewakili setiap sekolah yang diundang dalam pementasan Sandekala dan diskusi pembahasan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tulisan harus merupakan karya asli siswa dan mendapatkan rekomendasi dari sekolah yang bersangkutan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tulisan belum pernah dipublikasikan di majalah sekolah maupun media umum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peserta adalah siswa kelas 1, 2, atau 3 yang masih aktif (bukan alumnus)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Panjang tulisan 3 sampai 5 halaman ketik computer, 1,5 spasi, font Times News Roman 12 poin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bentuk tulisan adalah opini , bukan artikel ilmiah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memakai bahasa Indonesia popular, tidak harus baku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Identitas dan alamat peserta ditulis di bagian bawah tulisan dengan jelas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyertakan foto kopi kartu pelajar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah dikirim via pos ke alamat panitia selambat-lambatnya 30 agustus 2008&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan Juri mutlak dan tidak bisa digangu gugat&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;HADIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara I : Rp. 1.000.000,-&lt;br /&gt;Juara II : Rp. 750..000,-&lt;br /&gt;Juara III : Rp. 500.000,-&lt;br /&gt;Juara Harapan I sampai V masing-masing mendapatkan Rp. 300.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang mendapatkan juara I hingga Juara Harapan V rencananya akan diterbitkan dalam buku beserta beberapa tulisan peserta lain yang dianggap layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWAN JURI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Indonesian Corruption Watch&lt;/li&gt;&lt;li&gt;WALHI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkumpulan Seni Indonesia&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYELENGGARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama antara Indonesian Corruption Watch, WALHI dan Perkumpulan Seni Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALAMAT SEKRETARIAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Salemba Tengah No. 39-BB, Jakarta 10440&lt;br /&gt;Tel. 021 3156907, 3156908 Fax. 021 3900810 Mobile 0811182301&lt;br /&gt;email: &lt;a href="mailto:sandekala@gmail.com"&gt;sandekala@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.teater-sandekala.blogspot.com/"&gt;http://www.teater-sandekala.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-1164830166759448819?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/1164830166759448819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=1164830166759448819' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1164830166759448819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1164830166759448819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/07/lomba-penulisan-opini-anti-korupsi.html' title='Lomba Penulisan Opini &quot;Anti Korupsi&quot; Tingkat SMU se-Jakarta'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-782410270272072254</id><published>2008-06-27T22:04:00.001+07:00</published><updated>2008-06-27T22:07:43.520+07:00</updated><title type='text'>Tiket - Tiket - Tiket</title><content type='html'>Kenapa tidak sekarang untuk berusaha mendapatkan tiket?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbatas, dari kapasitas 800 kursi hanya tinggal tersedia 200 lembar tiket untuk tanggal 22 Juli 2008 Pukul 20.00 sementara untuk tanggal 23 Juli 2008 tiket tersedia hanya 300 lembar. Khusus untuk pelajar pada tanggal 22 Juli 2008 tiket telah habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungi kami apabila anda ingin menonton. Terlambat maka akan gigit jari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-782410270272072254?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/782410270272072254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=782410270272072254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/782410270272072254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/782410270272072254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/tiket-tiket-tiket.html' title='Tiket - Tiket - Tiket'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6805213923999217324</id><published>2008-06-14T19:02:00.000+07:00</published><updated>2008-07-29T19:05:13.269+07:00</updated><title type='text'>Terinspirasi "Sandekala"</title><content type='html'>14 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: ELGIANI YASSIFA Y.N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU hari sepulang sekolah, ibu membawa dua tiket pertunjukan teater. Tiket itu diperoleh ibu dari temannya. Kebetulan suami teman ibu tersebut sutradara Mainteater yang akan menampilkan dongeng Sunda berlatar Kota Ciamis, Panjalu, "Sandekala". Saya tertarik menonton pertunjukan tersebut. Kebetulan sekali saya belum pernah menonton teater, apalagi dalam bahasa Sunda, pasti menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tahu saya suka puisi, makanya beliau mengajak saya menonton pertunjukan tersebut. "Kalau mau belajar dan berlatih ekspresi serta penjiwaan dalam membaca puisi, orang-orang teater itu ahlinya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar keterangan ibu ini, saya jadi tertarik menontonnya, walaupun pertunjukannya malam hari. Kebetulan saya suka puisi dan sedang mempersiapkan diri mengikuti lomba baca puisi "Patriotisme" yang diselenggarakan Balai Bahasa Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai tiket yang diperoleh, kami menonton pertunjukan pada Sabtu, 24 Mei 2008 pukul 19.30 WIB. Saya dan ibu berangkat ke Gedung Rumentang Siang diantar bapak. Malam itu merupakan pertunjukan terakhir yang digelar di Kota Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di gedung tersebut, ternyata sudah banyak yang datang, mereka menunggu sampai pintu masuk dibuka. Ini pengalaman pertama saya menonton teater. Ibu agak cemas dan selalu mengingatkan, jangan sampai tertidur. Maklum saja, saya biasa tidur pukul 20.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun malam itu berbeda, saya begitu penasaran ingin mengetahui pertujukan teater. Bagaimana dongeng sunda "Sandekala" itu? Yang lebih penting, saya ingin belajar bagaimana melatih ekspresi dan penjiwaan sebagai bekal lomba baca puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 20.00 WIB pintu masuk dibuka, para penonton segera mengisi gedung. Ternyata suasana di dalam gedung jauh dari yang saya bayangkan, tidak seperti gedung bioskop. Saya melihat panggung yang sudah dihiasi lampu dan dekorasi lainnya, sungguh menakjubkan. Apalagi saat acara dimulai, alunan musik dan asap mengepul, menghanyutkan suasana dan jiwa. Saya menyimak dengan baik, walaupun ada beberapa istilah yang kurang saya pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kagum dan sangat puas dengan pertunjukannya, bahkan sampai dongeng berakhir pukul 22.30 WIB, saya tetap terjaga. Inti dongeng tersebut, menggambarkan tentang pentingnya menegakkan hukum dan hak asasi manusia, persahabatan, serta pentingnya menjaga lingkungan hidup agar tidak rusak oleh keserakahan manusia. Selain itu, harus jujur, mau berusaha, dan bekerja keras. Setiap tokoh memiliki karakter berbeda, walaupun ada cerita mistiknya, kuncen, Nyi Putri, dan onong yang istilahnya baru saya dengar saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara semuanya, tokoh dan karakter si Otong yang paling lucu, selalu mengundang tawa, walaupun akhirnya si Otong jadi gila. Pokoknya, para pemain berperan sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan tersebut betul-betul memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga. Pokoknya saya tidak menyesal, karena secara tidak langsung pertunjukan tersebut telah memberikan inspirasi bagi saya saat mengikuti lomba baca puisi "Patriotisme" yang diselenggarakan Balai Bahasa Bandung pada 27 Mei 2008. Walaupun hanya mampu meraih peringkat 3 untuk tingkat SD/MI se-Bandung Raya, tapi saya puas dan bangga, karena jumlah pesertanya lebih dari 90 orang. Apalagi saya satu-satunya dari SD Pertiwi, tempat saya sekolah, yang berhasil meraih juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng "Sandekala" telah memberikan saya inspirasi saat mengikuti lomba baca puisi. Saya jadi lebih mengenal kekayaan kebudayaan dan bahasa Sunda. Kalau ada kesempatan, saya akan menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan teater atau puisi lainnya, sehingga saya dapat pengalaman dan ilmu yang lebih banyak lagi, untuk bekal di kemudian hari. Mungkin saja suatu saat saya dapat menjadi bagian dari pertunjukan juga. Amin. (penulis adalah siswa kelas 5a sd pertiwi bandung)**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.klik-galamedia.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6805213923999217324?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6805213923999217324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6805213923999217324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6805213923999217324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6805213923999217324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/terinspirasi-sandekala.html' title='Terinspirasi &quot;Sandekala&quot;'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7962326960371010810</id><published>2008-06-06T18:16:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T18:40:40.033+07:00</updated><title type='text'>Geliat di Ruang Belakang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEQTu06I/AAAAAAAAANU/k1kUXILmww8/s1600-h/IMG_9720.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEQTu06I/AAAAAAAAANU/k1kUXILmww8/s320/IMG_9720.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208726402965099426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEQTu07I/AAAAAAAAANc/XPZ4v6p35CM/s1600-h/IMG_9727.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEQTu07I/AAAAAAAAANc/XPZ4v6p35CM/s320/IMG_9727.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208726402965099442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEgTu08I/AAAAAAAAANk/UNLDQSmbta0/s1600-h/IMG_9750.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEgTu08I/AAAAAAAAANk/UNLDQSmbta0/s320/IMG_9750.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208726407260066754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEgTu09I/AAAAAAAAANs/XxjnXHg7DfM/s1600-h/IMG_9743.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEgTu09I/AAAAAAAAANs/XxjnXHg7DfM/s320/IMG_9743.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208726407260066770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEwTu0-I/AAAAAAAAAN0/6xQBU-RQbA4/s1600-h/IMG_9738.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEwTu0-I/AAAAAAAAAN0/6xQBU-RQbA4/s320/IMG_9738.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208726411555034082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7962326960371010810?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7962326960371010810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7962326960371010810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7962326960371010810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7962326960371010810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/blog-post_06.html' title='Geliat di Ruang Belakang'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkdEQTu06I/AAAAAAAAANU/k1kUXILmww8/s72-c/IMG_9720.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-3963040658809428659</id><published>2008-06-06T18:11:00.004+07:00</published><updated>2008-06-17T18:39:22.852+07:00</updated><title type='text'>Di Belakang Panggung Sandekala 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu01I/AAAAAAAAAMs/yWxJX2rLYIg/s1600-h/IMG_9529.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu01I/AAAAAAAAAMs/yWxJX2rLYIg/s320/IMG_9529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208725604101182290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu02I/AAAAAAAAAM0/Mu7Ey6t6LHQ/s1600-h/IMG_9530.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu02I/AAAAAAAAAM0/Mu7Ey6t6LHQ/s320/IMG_9530.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208725604101182306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu03I/AAAAAAAAAM8/4qg_p4xon64/s1600-h/IMG_9541.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu03I/AAAAAAAAAM8/4qg_p4xon64/s320/IMG_9541.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208725604101182322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcWATu04I/AAAAAAAAANE/0BJyuInGpSE/s1600-h/IMG_9704.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcWATu04I/AAAAAAAAANE/0BJyuInGpSE/s320/IMG_9704.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208725608396149634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcWATu05I/AAAAAAAAANM/J6lGiJAPfPs/s1600-h/IMG_9706.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcWATu05I/AAAAAAAAANM/J6lGiJAPfPs/s320/IMG_9706.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208725608396149650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-3963040658809428659?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/3963040658809428659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=3963040658809428659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3963040658809428659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3963040658809428659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/di-belakang-panggung-sandekala_06.html' title='Di Belakang Panggung Sandekala 1'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkcVwTu01I/AAAAAAAAAMs/yWxJX2rLYIg/s72-c/IMG_9529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-580415758320204926</id><published>2008-06-06T18:07:00.003+07:00</published><updated>2008-06-17T18:38:06.096+07:00</updated><title type='text'>Di Belakang Panggung Sandekala 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbGwTu0wI/AAAAAAAAAME/Txban5zosZY/s1600-h/IMG_9357.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbGwTu0wI/AAAAAAAAAME/Txban5zosZY/s320/IMG_9357.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208724246891516674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbGwTu0xI/AAAAAAAAAMM/CWlgA9m9NdA/s1600-h/IMG_9464.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbGwTu0xI/AAAAAAAAAMM/CWlgA9m9NdA/s320/IMG_9464.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208724246891516690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbHATu0yI/AAAAAAAAAMU/h0TmxHt-6eM/s1600-h/IMG_9468.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbHATu0yI/AAAAAAAAAMU/h0TmxHt-6eM/s320/IMG_9468.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208724251186484002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbHATu0zI/AAAAAAAAAMc/HB4_tWiVv6I/s1600-h/IMG_9521.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbHATu0zI/AAAAAAAAAMc/HB4_tWiVv6I/s320/IMG_9521.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208724251186484018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbHQTu00I/AAAAAAAAAMk/VUNzEEcofsg/s1600-h/IMG_9528.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbHQTu00I/AAAAAAAAAMk/VUNzEEcofsg/s320/IMG_9528.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208724255481451330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-580415758320204926?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/580415758320204926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=580415758320204926' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/580415758320204926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/580415758320204926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/di-belakang-panggung-sandekala.html' title='Di Belakang Panggung Sandekala 2'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkbGwTu0wI/AAAAAAAAAME/Txban5zosZY/s72-c/IMG_9357.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-3636576662483462599</id><published>2008-06-06T16:59:00.006+07:00</published><updated>2008-06-17T18:38:37.459+07:00</updated><title type='text'>Dibalik Panggung 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5gTu0rI/AAAAAAAAALc/smA0-CiWzb4/s1600-h/IMG_9464.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5gTu0rI/AAAAAAAAALc/smA0-CiWzb4/s320/IMG_9464.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208707526583833266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5gTu0sI/AAAAAAAAALk/3KEj0PiBtkk/s1600-h/IMG_9468.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5gTu0sI/AAAAAAAAALk/3KEj0PiBtkk/s320/IMG_9468.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208707526583833282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5wTu0tI/AAAAAAAAALs/VRku5sPA_ro/s1600-h/IMG_9357.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5wTu0tI/AAAAAAAAALs/VRku5sPA_ro/s320/IMG_9357.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208707530878800594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL6ATu0uI/AAAAAAAAAL0/vR0zd3nAMlw/s1600-h/IMG_9521.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL6ATu0uI/AAAAAAAAAL0/vR0zd3nAMlw/s320/IMG_9521.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208707535173767906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL6ATu0vI/AAAAAAAAAL8/y0CIQuqc0-M/s1600-h/IMG_9529.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL6ATu0vI/AAAAAAAAAL8/y0CIQuqc0-M/s320/IMG_9529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208707535173767922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-3636576662483462599?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/3636576662483462599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=3636576662483462599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3636576662483462599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3636576662483462599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/dibalik-panggung-2.html' title='Dibalik Panggung 2'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEkL5gTu0rI/AAAAAAAAALc/smA0-CiWzb4/s72-c/IMG_9464.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5251271919797232157</id><published>2008-06-04T17:40:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T18:45:55.759+07:00</updated><title type='text'>Ketika Alam Kawali Murka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyMbSBLtI/AAAAAAAAAK8/hkyUpH518vs/s1600-h/Onom+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyMbSBLtI/AAAAAAAAAK8/hkyUpH518vs/s320/Onom+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207975576907886290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyMrSBLuI/AAAAAAAAALE/vGewfkBR4k4/s1600-h/Onom+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyMrSBLuI/AAAAAAAAALE/vGewfkBR4k4/s320/Onom+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207975581202853602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyM7SBLvI/AAAAAAAAALM/D7UB_G32dLQ/s1600-h/Onom+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyM7SBLvI/AAAAAAAAALM/D7UB_G32dLQ/s320/Onom+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207975585497820914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyM7SBLwI/AAAAAAAAALU/e9_UThmo5qg/s1600-h/Onom+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyM7SBLwI/AAAAAAAAALU/e9_UThmo5qg/s320/Onom+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207975585497820930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Agus Bebeng&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5251271919797232157?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5251271919797232157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5251271919797232157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5251271919797232157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5251271919797232157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/ketika-alam-murka.html' title='Ketika Alam Kawali Murka'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZyMbSBLtI/AAAAAAAAAK8/hkyUpH518vs/s72-c/Onom+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5702156767951182838</id><published>2008-06-04T14:10:00.003+07:00</published><updated>2008-06-04T16:17:27.579+07:00</updated><title type='text'>Diskusi Publik dan Press Conference</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDGLSBLpI/AAAAAAAAAKc/CJOUkw7qoJw/s1600-h/Diskusi+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDGLSBLpI/AAAAAAAAAKc/CJOUkw7qoJw/s320/Diskusi+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207923792487198354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDG7SBLqI/AAAAAAAAAKk/-wcmJy1PgKs/s1600-h/Diskusi+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDG7SBLqI/AAAAAAAAAKk/-wcmJy1PgKs/s320/Diskusi+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207923805372100258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDHLSBLrI/AAAAAAAAAKs/Ww1P3T4fDu0/s1600-h/Dikusi+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDHLSBLrI/AAAAAAAAAKs/Ww1P3T4fDu0/s320/Dikusi+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207923809667067570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDHbSBLsI/AAAAAAAAAK0/_g9EsXYcb6M/s1600-h/Prescon+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDHbSBLsI/AAAAAAAAAK0/_g9EsXYcb6M/s320/Prescon+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207923813962034882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Agus Bebeng&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5702156767951182838?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5702156767951182838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5702156767951182838' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5702156767951182838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5702156767951182838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/diskusi-publik-dan-press-conference.html' title='Diskusi Publik dan Press Conference'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEZDGLSBLpI/AAAAAAAAAKc/CJOUkw7qoJw/s72-c/Diskusi+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5978095613416480685</id><published>2008-06-04T14:00:00.002+07:00</published><updated>2008-06-04T14:07:15.446+07:00</updated><title type='text'>Di Balik Panggung 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY_GLSBLfI/AAAAAAAAAJM/Kz2wKJCFvaA/s1600-h/Make+up+6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY_GLSBLfI/AAAAAAAAAJM/Kz2wKJCFvaA/s320/Make+up+6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207919394440687090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-mLSBLaI/AAAAAAAAAIk/xIOdvbAvtDw/s1600-h/Make+up+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-mLSBLaI/AAAAAAAAAIk/xIOdvbAvtDw/s320/Make+up+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207918844684873122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-mbSBLbI/AAAAAAAAAIs/bVS72y_WK_o/s1600-h/Make+up+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-mbSBLbI/AAAAAAAAAIs/bVS72y_WK_o/s320/Make+up+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207918848979840434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-mrSBLcI/AAAAAAAAAI0/bQQ7H-x2bYI/s1600-h/Make+up+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-mrSBLcI/AAAAAAAAAI0/bQQ7H-x2bYI/s320/Make+up+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207918853274807746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-m7SBLdI/AAAAAAAAAI8/jHAoFRw-MgA/s1600-h/Make+up+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-m7SBLdI/AAAAAAAAAI8/jHAoFRw-MgA/s320/Make+up+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207918857569775058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-obSBLeI/AAAAAAAAAJE/KlSfXyYBIGg/s1600-h/Make+up+5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY-obSBLeI/AAAAAAAAAJE/KlSfXyYBIGg/s320/Make+up+5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207918883339578850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Agus Bebeng&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5978095613416480685?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5978095613416480685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5978095613416480685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5978095613416480685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5978095613416480685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/di-balik-panggung-1.html' title='Di Balik Panggung 1'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEY_GLSBLfI/AAAAAAAAAJM/Kz2wKJCFvaA/s72-c/Make+up+6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-466267180625116929</id><published>2008-06-01T17:45:00.002+07:00</published><updated>2008-06-01T17:51:30.494+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Foto Pementasan Bandung 4</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_DrSBLWI/AAAAAAAAAIE/PssDPJ48H-o/s1600-h/IMG_9905.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863820328349026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_DrSBLWI/AAAAAAAAAIE/PssDPJ48H-o/s320/IMG_9905.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_D7SBLXI/AAAAAAAAAIM/owwEzgFGjFA/s1600-h/IMG_9917.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863824623316338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_D7SBLXI/AAAAAAAAAIM/owwEzgFGjFA/s320/IMG_9917.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_ELSBLYI/AAAAAAAAAIU/zs3mZ3gKmF8/s1600-h/IMG_9927.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863828918283650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_ELSBLYI/AAAAAAAAAIU/zs3mZ3gKmF8/s320/IMG_9927.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_ELSBLZI/AAAAAAAAAIc/OybFV6qRASw/s1600-h/IMG_9931.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863828918283666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_ELSBLZI/AAAAAAAAAIc/OybFV6qRASw/s320/IMG_9931.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-bbSBLSI/AAAAAAAAAHk/7DVp9hElm_w/s1600-h/IMG_9857.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863128838614306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-bbSBLSI/AAAAAAAAAHk/7DVp9hElm_w/s320/IMG_9857.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-bbSBLTI/AAAAAAAAAHs/v7L_MA96gog/s1600-h/IMG_9860.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863128838614322" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-bbSBLTI/AAAAAAAAAHs/v7L_MA96gog/s320/IMG_9860.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-brSBLUI/AAAAAAAAAH0/ysMnxnMguzE/s1600-h/IMG_9893.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863133133581634" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-brSBLUI/AAAAAAAAAH0/ysMnxnMguzE/s320/IMG_9893.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-brSBLVI/AAAAAAAAAH8/kYyCPj9iU3E/s1600-h/IMG_9895.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206863133133581650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ-brSBLVI/AAAAAAAAAH8/kYyCPj9iU3E/s320/IMG_9895.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-466267180625116929?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/466267180625116929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=466267180625116929' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/466267180625116929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/466267180625116929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/kumpulan-foto-pementasan-bandung-4.html' title='Kumpulan Foto Pementasan Bandung 4'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ_DrSBLWI/AAAAAAAAAIE/PssDPJ48H-o/s72-c/IMG_9905.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5821424353639206630</id><published>2008-06-01T17:40:00.002+07:00</published><updated>2008-06-01T17:45:46.442+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Foto Pementasan Bandung 3</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9ubSBLOI/AAAAAAAAAHE/RJeJQSgAv-M/s1600-h/IMG_9845.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206862355744500962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9ubSBLOI/AAAAAAAAAHE/RJeJQSgAv-M/s320/IMG_9845.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9urSBLPI/AAAAAAAAAHM/rd0m3rcHR4w/s1600-h/IMG_9846.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206862360039468274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9urSBLPI/AAAAAAAAAHM/rd0m3rcHR4w/s320/IMG_9846.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9urSBLQI/AAAAAAAAAHU/CFZzv5x-qWw/s1600-h/IMG_9852.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206862360039468290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9urSBLQI/AAAAAAAAAHU/CFZzv5x-qWw/s320/IMG_9852.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9u7SBLRI/AAAAAAAAAHc/N2ZU03tM1nE/s1600-h/IMG_9855.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206862364334435602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9u7SBLRI/AAAAAAAAAHc/N2ZU03tM1nE/s320/IMG_9855.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DLSBLKI/AAAAAAAAAGk/NF3RQAzat4Y/s1600-h/IMG_9794.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206861612715158690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DLSBLKI/AAAAAAAAAGk/NF3RQAzat4Y/s320/IMG_9794.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DLSBLLI/AAAAAAAAAGs/r7ydZnWAt0g/s1600-h/IMG_9804.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206861612715158706" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DLSBLLI/AAAAAAAAAGs/r7ydZnWAt0g/s320/IMG_9804.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DbSBLMI/AAAAAAAAAG0/A2GyAn91axY/s1600-h/IMG_9818.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206861617010126018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DbSBLMI/AAAAAAAAAG0/A2GyAn91axY/s320/IMG_9818.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DrSBLNI/AAAAAAAAAG8/q_GRjezy-zc/s1600-h/IMG_9809.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206861621305093330" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9DrSBLNI/AAAAAAAAAG8/q_GRjezy-zc/s320/IMG_9809.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5821424353639206630?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5821424353639206630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5821424353639206630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5821424353639206630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5821424353639206630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/kumpulan-foto-pementasan-bandung-3.html' title='Kumpulan Foto Pementasan Bandung 3'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ9ubSBLOI/AAAAAAAAAHE/RJeJQSgAv-M/s72-c/IMG_9845.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5694900736211226492</id><published>2008-06-01T17:30:00.003+07:00</published><updated>2008-06-01T17:40:15.069+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Foto Pementasan Bandung 2</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ8f7SBLJI/AAAAAAAAAGc/F0a1udZQRaw/s1600-h/IMG_9788.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206861007124769938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ8f7SBLJI/AAAAAAAAAGc/F0a1udZQRaw/s320/IMG_9788.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7zrSBLFI/AAAAAAAAAF8/USpuVR7kqcU/s1600-h/IMG_9617.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206860246915558482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7zrSBLFI/AAAAAAAAAF8/USpuVR7kqcU/s320/IMG_9617.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7zrSBLGI/AAAAAAAAAGE/6s_xa-kP6-Q/s1600-h/IMG_9637.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206860246915558498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7zrSBLGI/AAAAAAAAAGE/6s_xa-kP6-Q/s320/IMG_9637.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7z7SBLHI/AAAAAAAAAGM/GGZ-687wcYw/s1600-h/IMG_9654.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206860251210525810" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7z7SBLHI/AAAAAAAAAGM/GGZ-687wcYw/s320/IMG_9654.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7z7SBLII/AAAAAAAAAGU/4paN06TnP5s/s1600-h/IMG_9659.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206860251210525826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7z7SBLII/AAAAAAAAAGU/4paN06TnP5s/s320/IMG_9659.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7GLSBLBI/AAAAAAAAAFc/pk3ZqgQdmv4/s1600-h/IMG_9552.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206859465231510546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7GLSBLBI/AAAAAAAAAFc/pk3ZqgQdmv4/s320/IMG_9552.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7GbSBLCI/AAAAAAAAAFk/JtRYt1SGHzU/s1600-h/IMG_9571.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206859469526477858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7GbSBLCI/AAAAAAAAAFk/JtRYt1SGHzU/s320/IMG_9571.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7GrSBLDI/AAAAAAAAAFs/lr_GJgIp4Pg/s1600-h/IMG_9581.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206859473821445170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7GrSBLDI/AAAAAAAAAFs/lr_GJgIp4Pg/s320/IMG_9581.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ7G7SBLEI/AAAAAAAAAF0/uknKmOGjgws/s1600-h/IMG_9581.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5694900736211226492?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5694900736211226492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5694900736211226492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5694900736211226492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5694900736211226492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/kumpulan-foto-pementasan-bandung-2.html' title='Kumpulan Foto Pementasan Bandung 2'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ8f7SBLJI/AAAAAAAAAGc/F0a1udZQRaw/s72-c/IMG_9788.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5659291335387880263</id><published>2008-06-01T17:20:00.003+07:00</published><updated>2008-06-01T17:57:27.341+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Foto Pementasan Bandung</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206857171718974338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5ArSBK4I/AAAAAAAAAEU/LMG8piI0D3M/s320/IMG_9299.jpg" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206857197488778130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CLSBK5I/AAAAAAAAAEc/M8IQA4WSssU/s320/IMG_9332.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5yLSBK-I/AAAAAAAAAFE/oNi86NLoR_Q/s1600-h/IMG_9415.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206858022122499042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5yLSBK-I/AAAAAAAAAFE/oNi86NLoR_Q/s320/IMG_9415.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5yLSBK_I/AAAAAAAAAFM/4AMXckoO4bQ/s1600-h/IMG_9419.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206858022122499058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5yLSBK_I/AAAAAAAAAFM/4AMXckoO4bQ/s320/IMG_9419.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5ybSBLAI/AAAAAAAAAFU/LHVImj0k7kM/s1600-h/IMG_9430.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206858026417466370" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5ybSBLAI/AAAAAAAAAFU/LHVImj0k7kM/s320/IMG_9430.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CLSBK6I/AAAAAAAAAEk/HWWzjMViIHU/s1600-h/IMG_9347.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206857197488778146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CLSBK6I/AAAAAAAAAEk/HWWzjMViIHU/s320/IMG_9347.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CbSBK7I/AAAAAAAAAEs/kiwtNCl-guc/s1600-h/IMG_9371.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206857201783745458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CbSBK7I/AAAAAAAAAEs/kiwtNCl-guc/s320/IMG_9371.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CrSBK8I/AAAAAAAAAE0/Rfmo8e6HYmo/s1600-h/IMG_9398.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206857206078712770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5CrSBK8I/AAAAAAAAAE0/Rfmo8e6HYmo/s320/IMG_9398.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto: Adrian Mulya&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5659291335387880263?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5659291335387880263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5659291335387880263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5659291335387880263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5659291335387880263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/06/kumpulan-foto-pementasan-bandung.html' title='Kumpulan Foto Pementasan Bandung'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SEJ5ArSBK4I/AAAAAAAAAEU/LMG8piI0D3M/s72-c/IMG_9299.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2225749919951408875</id><published>2008-05-31T22:38:00.001+07:00</published><updated>2008-07-15T22:41:57.974+07:00</updated><title type='text'>Kemasan Korupsi dalam Sendekala</title><content type='html'>ren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara gergaji mesin memekakan telinga. Beberapa menit kemudian, pohon-pohon bertumbangan. Dengan izin yang dimiliki, petugas kecamatan meminta pohon yang masih berdiri, dirobohkan. Maklum, dia berencana akan membuat rumah. ''Lumayanlah, tidak perlu mengeluarkan uang untuk beli kayu,'' pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat niat atasannya, petugas kecamatan yang lain pun mengikuti jejaknya. Ia meminta pohon yang melindungi tempat keramat itu dibabat habis. Surat izin itu dikeluarkan oleh camat yang dicurigai selalu korup dan memerintah dengan tangan besi. Dalam pikirannya hanya ada satu kata 'proyek', dan berkolusi dengan kontraktor pembangunan gedung olah raga, pasar dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang camat menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota, padahal tempat tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah, dan rumah sakit. Namun, suatu hari, ada kuwu yang dimarahi habis-habisan karena melaporkan wabah demam berdarah kepada wartawan sehingga camat tersebut ditegur bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan terjadilah krisis kepercayaan dari masyarakat kepada camat. Masyarakat pun merasa gerah dan kian berani mengajukan protes atas tindak tanduk camat. Alih-alih ditanggapi, protes itu berbuntut dengan penculikan terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang dinilai sangat vokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang putri camat yang kebetulan mahasiswa, pro pada para penentang ayahnya. Dia selalu membocorkan rapat-rapat musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) kepada teman-temannya. Karena itu, penculikan dalam jumlah besar bisa dihindari. Para pemimpin demonstran bersembunyi di tempat keramat dan menyusun kembali strategi untuk demonstrasi yang akan melibatkan banyak elemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya Kota Kawali dibanjiri demonstran. Unjuk rasa pun tidak terkendali. Kantor polisi dibakar, koramil dimusnahkan, pasar diserbu dan dijarah. Kawali luluh lantak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diselidiki ternyata ada sekelompok orang yang sangat brutal. Padahal, kelompok itu bukan berasal dari daerah tersebut. Bupati sebagai atasan camat langsung menurunkan petugas. Para pimpinan demonstran dicari dan dikejar. Mereka lari dan sembunyi di tempat keramat. Saat Subuh, melalui serangan fajar, para demonstran yang sembunyi dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Sandekala yang dipentaskan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jumat (23/5) ini tak hanya menyajikan panggung sandiwara. Pementasan ini menampilkan juga potret kehidupan di Indonesia yang begitu mengagungkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Dalam cerita ini diperlihatkan, begitu berkuasanya nafsu manusia. KKN di tingkat kecamatan saja bisa membuat nyawa melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa bagian, Sandekala mengembalikan memori penonton pada kejadian Mei 1998. Terlebih, saat potongan video tragedi Semanggi dijadikan latar dalam pementasan tersebut. Bagaimana mahasiswa yang berteriak menyuarakan keinginan rakyat dihadiahi peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan perjuangan sekelompok orang yang heroik begitu kental dalam cerita yang dipentaskan dengan durasi sekitar 2,5 jam. Untuk ukuran teater, durasi panjang akan membuat penonton lelah. Namun, tidak dalam Sandekala yang diangkat dari Novel Godi Suwarna dengan judul yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara, Wawan Sofwan, dengan apik menyelipkan cerita cinta sang putri camat dengan tokoh pemuda kampung yang merupakan teman kuliahnya. Kisah percintaan sederhana yang dibungkus gerakan tubuh serta dialog yang lucu membuat penonton tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun penempatan seorang putri cantik penghuni tempat keramat. Meskipun tema ceritanya terpisah, namun kehadiran putri bersama sejarah yang dibawanya yakni cerita Diah Pitaloka, membuat pementasan tidak menjemukan. Bahkan, kalau diperhatikan secara seksama, setting panggung mewakili tempat yang berarti besar dalam sejarah Sunda yakni Prasasti Kawali dan cerita Putri Diah Pitaloka. Dalam sejarah Sunda, prasasti Kawali merupakan cikal bakal dari Padjajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan Sandekala, merupakan kebahagiaan tersendiri buat Wawan Sofwan. Karena sejak lama ia memimpikan menggarap teater bertemakan korupsi. Ada beberapa novel yang dibidik Wawan yakni Korupsi karya Pramudya Ananta Toer dan Ladang Perminus karya Ramadhan KH. Namun secara tak sengaja, ia membaca novel berbahasa sunda berjudul Sandakela. Pilihan pun jatuh ke Sandekala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.republika.co.id/jurnalhaji/detail.asp?id=335863&amp;amp;kat_id=89&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2225749919951408875?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2225749919951408875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2225749919951408875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2225749919951408875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2225749919951408875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/kemasan-korupsi-dalam-sendekala.html' title='Kemasan Korupsi dalam Sendekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8251748609239088967</id><published>2008-05-30T00:16:00.003+07:00</published><updated>2008-06-01T18:37:57.794+07:00</updated><title type='text'>Ketika Timah Panas Itu Bersarang dalam Dada Anak-anak Bangsa</title><content type='html'>Kamis, 29 Mei 2008 23:59 Wida Waridah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Jumat, 23 Mei 2008, saya berjalan sendiri menyusuri sudut Kota Bandung. Dari Gedung Kesenian Rumentang Siang, menyusuri Jalan Sunda, lantas berbelok di Jalan Lengkong Kecil, dan berakhir di Jalan Lengkong Besar. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul 23:15. Sudah larut ternyata, sedang pertunjukan yang baru saja saya tonton rasanya masih berputar dalam kepala. Durasi dua setengah jam itu cukup membuat saya berpikir ulang, kembali pada peristiwa 10 tahun yang lalu, Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jadinya jika semua elemen pendukung keberlangsungan negara adalah sebuah rezim yang korup? Sandekala, sebuah pertunjukan garapan Wawan Sofwan yang diadaptasi dari novel karya Godi Suwarna menjawabnya dengan gamblang. Pertunjukan tersebut mau tidak mau telah menggiring ingatan saya pada peristiwa 10 tahun yang lalu di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan ini berkisah tentang seorang Camat yang korup, memerintah dengan tangan besi. Seorang kuwu dimarahi habis-habisan karena melaporkan wabah demam berdarah kepada wartawan sehingga Camat itu ditegur oleh Bupati. Melakukan kolusi dengan kontraktor pembangunan gedung olah raga, pasar, dan lain-lain. Bahkan Camat itu menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota padahal tempat tersebut dekat sekali dengan Mesjid Agung, sekolah, dan rumah sakit. Dan yang paling menyakitkan, Camat itu berani menebang pohon dari tempat keramat yang selama ini sangat dilindungi oleh masyarakat. Masyarakat mulai gerah, sampai akhirnya berani mengajukan protes, namun protes itu diabaikan. Malahan salah satu tokoh masyarakat yang sangat vokal diculik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya” atau ”like father like son” begitu sebuah pepatah mengatakan. Tapi sepertinya pepatah itu tidak kena pada Dewi, anak dari seorang Camat yang korup. Putri Camat yang korup inilah yang kelak malah membocorkan rapat-rapat para pejabat di rumahnya kepada teman-temannya. Sehingga, penculikan yang lebih banyak bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD_wwbSBK3I/AAAAAAAAAEM/mgtm6pQtVyA/s1600-h/sandekala3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206144409011301234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD_wwbSBK3I/AAAAAAAAAEM/mgtm6pQtVyA/s400/sandekala3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu adegan dalam pertunjukan teater Sandekala  Foto: Utche Felagonna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin demonstran bersembunyi di sebuah tempat keramat dan menyusun kembali strategi untuk demonstrasi yang akan melibatkan banyak kelompok. Esok harinya terjadi demonstrasi besar-besaran. Awalnya unjuk rasa terkendali tapi tiba-tiba jadi tidak terkontrol, kantor polisi dibakar, koramil dimusnahkan, pasar diserbu dan dijarah, kantor camat dihancurkan. Kota luluh lantak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diselidiki ternyata ada sekelompok orang yang sangat brutal, padahal kelompok tersebut bukan berasal dari daerah itu. Bupati sebagai atasan Camat langsung menurunkan petugas. Para pimpinan demonstran diburu. Mereka lari dan sembunyi di tempat keramat. Saat Subuh, melalui serangan fajar, para demonstran yang sembunyi itu dibinasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis, begitulah yang terjadi di atas panggung, begitu juga dengan peristiwa Mei 1998. Timah panas yang keluar dari moncong para pembela negara itu akhirnya bersarang di dada anak-anaknya sendiri yang semestinya dilindungi kehidupannya. Sepuluh tahun telah berlalu, peristiwa itu masih membekas dalam ingatan saya, dalam ingatan Anda juga saya kira.[end]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wida Waridah, kontributor Mediabersama.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Sumber: mediabersama.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8251748609239088967?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8251748609239088967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8251748609239088967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8251748609239088967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8251748609239088967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/ketika-timah-panas-itu-bersarang-dalam.html' title='Ketika Timah Panas Itu Bersarang dalam Dada Anak-anak Bangsa'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD_wwbSBK3I/AAAAAAAAAEM/mgtm6pQtVyA/s72-c/sandekala3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5135518816005445292</id><published>2008-05-29T18:30:00.013+07:00</published><updated>2008-05-30T19:15:01.878+07:00</updated><title type='text'>Sandekala, Reformasi di Pentas Teater</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD6VurSBK1I/AAAAAAAAADc/NM69lF9OeyE/s1600-h/sandekala1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD6VurSBK1I/AAAAAAAAADc/NM69lF9OeyE/s400/sandekala1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205762848411691858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;29 Mei 2008 - 14:5 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosmi Julitasari S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aki, penjaga (kuncen) hutan keramat di Kawali, gelisah. Kenaikan harga BBM, demonstrasi mahasiswa, pergantian pemimpin, pemanasan global, sampai pemecatan cucunya, Bagus Magenda, yang wartawan begitu meresahkan hatinya. Di tengah kegalauan hati, ia ungkapkan kelelahannya menjaga hutan keramat. Lelah menghadapi jiwa-jiwa serakah yang begitu ingin mengeksploitasi kemurnian hutan keramat yang diamanatkan untuk tetap dijaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelelahan sang Aki mencapai puncak. Namun justru di saat itu datang beberapa kaki tangan Camat yang memaksa mengambil kayu dari hutan keramat tanpa mengindahkan - apalagi menghormati - wewenang Aki sebagai kuncen tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan cerita itu menjadi titik awal pementasan teater Sandekala pada 23-24 Mei 2008 di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Lakon itu dimainkan Teater Main pimpinan Wawan Sowfan yang juga sutradara dan penulis naskah lakon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pementasan ini mengungkapkan semua permasalahan yang dihadapi rakyat di kelas bawah. Mungkin bagi sebagian orang uang sebesar 60 ribu rupiah tidak berarti apa-apa, tapi bagi mereka yang berada di lapisan ekonomi paling bawah, uang itu bisa berarti jauh," ujar Wawan Sofwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini merujuk pada tokoh Dadang, tukang ojek yang ngotot tidak mau membayar uang keamanan Rp 60 ribu rupiah kepada preman setempat. Dadang kemudian bergabung dengan tukang ojek lain yang bergabung dengan mahasiswa, pemuka agama setempat, dan - tentu saja - Bagus Magenda. Mereka bersatu memprotes petinggi kecamatan yang bersikeras mengadakan pasar malam. Kesulitan ekonomi yang kian menjepit, ditambah pasar malam yang diadakan berdekatan dengan sarana ibadah, rumah sakit, dan sekolah, membuat warga berkeberatan terhadap pasar malam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga protes, namun Suroto, Camat Kawali, jalan terus. Ia tidak peduli meski Dewi, anak perempuannya, terus memprotes. Dewi bahkan bergabung dengan warga yang memprotes kebijakan Suroto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi yang dilakukan Camat Suroto menjadi sorotan cerita dalam pementasan teater berbahasa Sunda ini. Korupsi pula yang menjadi pangkal permasalahan cerita. Suroto memerintah Kecamatan Kawali dengan sewenang-wenang dan penuh praktik korupsi. Ia berkolusi dengan pemilik toko bahan bangunan untuk proyek pembangunan sarana olah raga supaya bisa mendapatkan untung besar - yang tentu saja masuk ke kantong pribadi. Dan seperti yang terjadi di awal cerita, ia memerintahkan bawahannya untuk menebang pohon keramat di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik terus berkembang dan semakin menajam. Seorang warga begitu vokal memprotes kesewenang-wenangan Camat hilang - diduga diculik oleh aparat setempat, sementara yang lain diburu untuk ditangkap. Mereka yang diburu lari bersembunyi di hutan keramat, tempat yang justru menjadi ladang pembantaian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita kemudian berujung pada penembakan para aktivis warga yang bersembunyi di hutan. Dengan cerdas Wawan Sofwan menggambarkan pertumpahan darah melalui air berwarna merah yang dikucurkan oleh sosok perempuan misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater Sandekala mementaskan cerita yang merujuk pada masa reformasi 1998 dan diambil dari novel berjudul sama karya Godi Suwarna, sastrawan Sunda. Berkat novel Sandekala, Godi Suwarna meraih penghargaan Rancage tahun 2008, penghargaan tahunan yang diberikan untuk sastra Sunda, Jawa, dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD6WJ7SBK2I/AAAAAAAAADk/9QNlK3yKAgk/s1600-h/sandekala2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD6WJ7SBK2I/AAAAAAAAADk/9QNlK3yKAgk/s400/sandekala2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205763316563127138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pementasan teater berbahasa Sunda di tanah Pasundan semestinya menjadi hal yang menarik, apalagi mengangkat tema korupsi dan lingkungan. "Namun sepertinya masyarakat Bandung kurang apresiatif terhadap pementasan teater. Gedung Kesenian Rumentang Siang tidak pernah terisi penuh hingga pertunjukan terakhir," kata Andi K Yuwono, produser pementasan teater ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai kendala dan kekurangan di sana-sini, teater ini berhasil mengingatkan kembali pada reformasi yang bergolak 10 tahun lalu. Masih ada setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bangsa ini. Penanggulangan kemiskinan, taktik ekonomi untuk mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok, pencegahan dan pemberantasan berbagai bentuk praktik korupsi, serta penerimaan berbagai pendapat dan kritik sebagai konsekuensi atas perwujudan demokrasi, masih sering dirnafikan, meski satu dekade telah lewat. "Semoga pementasan teater ini mengingatkan kembali masyarakat Indonesia pada peristiwa reformasi 1998," kata Wawan Sofwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Sandekala akan dipentaskan kembali di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 22-23 Juli 2008. Di ibu kota negara Sandekala akan dipentaskan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. (E4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: VHRmedia.com -  foto: Ida Widaningsih&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5135518816005445292?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5135518816005445292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5135518816005445292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5135518816005445292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5135518816005445292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/sandekala-reformasi-di-pentas-teater.html' title='Sandekala, Reformasi di Pentas Teater'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SD6VurSBK1I/AAAAAAAAADc/NM69lF9OeyE/s72-c/sandekala1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-9160871017058290448</id><published>2008-05-28T20:32:00.001+07:00</published><updated>2008-05-28T20:34:53.885+07:00</updated><title type='text'>Sandekala Mei 1998</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sandekala memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandeka- la bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Sasak Lombok, kata yang sama berarti waktu setelah salat asar menjelang magrib. Bagi penduduk etnis Sasak, sandekala diartikan sebagai titik rawan. Saat itu, semua orang, anak-anak dan dewasa harus menghentikan aktivitas sejenak untuk menyongsong waktu salat magrib dan mengaji. Malah, bayi tidak boleh dibawa ke luar rumah, agar tidak kerasukan makhluk gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditarik garis merahnya, semua berakhir pada masa jeda atau transisi, ketika siang baru saja beranjak, sementara hari belum menapaki malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan membacanya sebagai sebuah semangat perlawanan, dengan empat tema besar, korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, persoalan lingkungan, dan kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan tidak sendiri menggarapnya. Dia bekerjasama dengan mainteater yang biasa menggarap teater kontemporer berbahasa Indonesia. Bahasa? Ya, Sandekala ditampilkan dalam dua bahasa, Sunda dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, Sandekala menggunakan bahasa ibu dari penulisnya, Godi Suwarna, bahasa Sunda. Pementasan berlangsung dari Jumat (23/5) hingga Sabtu (24/5). Pementasan berbahasa Indonesia bakal berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tanggal 22 hingga 23 Juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan mengaku tidak sengaja membeli novel karya Godi berjudul Sandekala, yang mendapatkan penghargaan Sastra Rancage 2008. "Temanya sangat menarik dan sangat kontektual. Peristiwa Mei 1998. Bukankah tahun ini persis sepuluh tahun reformasi," ungkap dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berawal dari kerakusan seorang camat yang memerintah dengan tangan besi di kawasan Kawali, Ciamis. Dia tidak segan-segan menyikat seluruh proyek yang ada di depannya, asalkan jelas pemasukan buat kantongnya sendiri. Malah, dia tidak menampik teguran dari Ki Kuncen soal penebangan di hutan keramat, Tabet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking rakusnya, camat yang mengepalai beberapa tukang pukul ini juga meneror para tukang ojek. Setiap tukang ojek harus memberinya kutipan. Kalau tidak membayar bakal babak belur seperti Dadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, si anak camat tidak tahan dengan kelakuan bapaknya. Bermodalkan pengalaman unjukrasa ketika menjadi mahasiswa di kampusnya, dia bersama Pandu, kekasihnya yang berasal satu kampung melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdemonstrasi. Terlebih ketika camat tidak mau memindahkan pasar di alun-alun kota yang berdekatan dengan tempat ibadah. Masyarakat mulai gerah dan semakin berani. Akibatnya unjuk rasa semakin menjadi dan tidak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini digambarkan lewat potongan-potongan klip video dokumentasi unjukrasa di Jakarta, 10 tahun lalu. Desingan peluru, pemukulan oleh aparat, tangisan, dan korban kekerasan mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan demi kekerasan ini ternyata sudah bukan lagi dalam lingkup perintah camat, melainkan bupati. Para pengunjuk rasa yang bersembunyi di hutan keramat, dibinasakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunda Kuno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, pementasan teater ini juga memasukkan unsur kearifan lokal dalam visualisasinya. Adapun yang diambil adalah aksara Sunda kuno dalam prasasti Astana Gede atau dikenal dengan sebutan prasasti Kawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur dalam perang Bubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan upaya kami untuk menghidupkan kembali budaya lokal yang selama ini dipinggirkan," kata Wawan dalam pengantar sandiwaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan teater Sandekala ini bekerja sama dengan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Voice Of Human Right, Transparancy International Indonesia, Indonesian Corruption Watch, dan Wahana Lingkungan Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandekala bisa jadi punya arti baru lagi. Setidaknya dari pementasan itu, bisa menjadi motivasi untuk perjuangan gerakan antikorupsi. [SP/Adi Marsiela]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Suara Pembaruan, 27 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-9160871017058290448?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/9160871017058290448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=9160871017058290448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/9160871017058290448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/9160871017058290448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/sandekala-mei-1998.html' title='Sandekala Mei 1998'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-1841246624116692654</id><published>2008-05-26T15:34:00.003+07:00</published><updated>2008-05-26T17:48:08.080+07:00</updated><title type='text'>Sandekala dipentaskan di Bandung</title><content type='html'>Prakarsa Rakyat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, Mainteater didukung oleh Komunitas Indonesia Menggugat, Elsam, INFID, Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Pengelola GK Rumentang Siang dengan bantuan dana dari Hivos, ICCO dan Yayasan Tifa bekerja sama untuk memproduksi pementasan teater Sandekala yang diangkat dari novel berbahasa Sunda pemenang hadiah sastra Rancage 2008 karya Godi Suwarna. Sebagai media partner, pementasan ini menggandeng Voice of Human Rights Media dan Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, Forum Wartawan Bandung dan Jaringan Videomaker Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 22 Mei 2008 rangkaian pementasan teater Sandekala sebagai peringatan 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi diawali dengan diskusi publik. Sebagai pembicara panitia menghadirkan Dede Yusuf, Acep Iwan Saidi, Ucok Homicides dan Sely Martini dari ICW. Dalam diskusi tersebut dibahas bagaimana seniman bergerak di ranah sosial baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk karyanya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ucok Homicides sebagai pelaku seni, megatakan bahwa seniman tidak harus melulu menuangkan karya sebagai bentuk respon sosial. Namun dia menambahkan bahwa seniman sebagai bagian dari entitas sosial harus bekerja di akar rumput bersama masyarakat walau perannya kecil dalam pengorganisasian masyarakat. Menurut Acep Iwan Saidi, seniman mempunyai peran yang penting dalam menyuarakan masalah sosial, sepertinya halnya ketika Godi menulis Sandekala yang bertema anti korupsi, lingkungan dan HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Gubernur Jawa Barat yang baru, Dede Yusuf memberikan pengalaman pribadi ketika masih aktif sebagai artis bahwa seniman terkadang masih terjebak pada feodalisme budaya ketika bekerja. Khusus mengenai korupsi, dia menambahkan bahwa sudah saatnya pejabat tidak berada di atas namun seharusnya berada di bawah rakyat sebagai bentuk pelayanan dan melaksanakan fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan Sandekala sendiri berlangsung pada tanggal 23 dan 24 Mei yang lalu bertempat di Gedung Kesenian Rementang Siang pada pukul 13.00 dan 20.00. Walaupun kapasitas gedung tidak penuh, nampak antusiasme penonton dari kalangan muda dan perempuan cukup tinggi. Hampir 70 persen dari penonton merupakan kombinasi kaula muda dan perempuan. Wawan Sofwan sebagai sutradara berhasil menuangkan naskah Sandekala dalam panggung dengan tata panggung yang apik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godi Suwarna sebagai penulis novel yang diadaptasi juga hadir dalam pementasan tersebut. Bahkan panitia memberikan kejutan kepada Godi pada tanggal 23 Mei, tepat sebagai peringatan ulang tahunnya yang ke 52. Nampak banyak seniman Bandung turut memberikan ucapat selamat kepada Godi ketika pementasan hari pertama usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya Sandekala akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta pada tanggal 22 dan 23 Juli mendatang. Pementasan akan menggunakan bahasa Indonesia untuk memperluas target penonton dan juga tentunya bahasa Sunda seperti yang sudah dipentaskan di Bandung. (aky)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber www.prakarsa-rakyat.org&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-1841246624116692654?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/1841246624116692654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=1841246624116692654' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1841246624116692654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1841246624116692654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/sandekala-dipentaskan-di-bandung.html' title='Sandekala dipentaskan di Bandung'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8762764853166212124</id><published>2008-05-24T20:23:00.000+07:00</published><updated>2008-05-28T20:27:56.636+07:00</updated><title type='text'>Wajah Pemerintahan Karut-marut</title><content type='html'>BANDUNG(SINDO) – Suatu hari di sebuah desa, seorang camat memaki habis-habisan kuwu yang membocorkan kerahasiaan informasi tentang korupsi yang dilakukannya kepada wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi itu dilakukan camat dengan seorang kontraktor pembangunan gedung olahraga dan pasar.Parahnya lagi, dia telah menyetujui penyelenggaraan Pasar Malam di Alun-Alun Kota.Padahal, di lokasi tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah,dan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu, warga setempat mulai hilang kepercayaan kepada camat tersebut. Hingga akhirnya sang camat terbukti bersalah dan dipenjara setelah melalui segala proses hukum.Kejadian tersebut membekas di hati warga bahwa memilih pemimpin bukan hanya dari kepintaran tapi keindahan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal cerita itu begitu menarik ditampilkan dalam teater bertajuk Sandekala “Sandiwara Cinta” di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Kosambi, Kota Bandung,kemarin. Cerita yang diambil dari novel Bahasa Sunda karya Godi Suwarna itu ditampilkan selama dua hari pada 23–24 Mei 2008. Cerita tersebut dibalut dengan kesedihan di sebuah kota yang jauh dari pusat kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, anehnya di sana malah terjadi segala bentuk kecurangan hidup, mulai dari korupsi, perampokan, pemerkosaan, dan segudang karut-marut kota. Imbas buruknya sistem pemerintahan di pusat Ibu Kota Jakarta kepada daerah juga diceritakan di sini. Dari cerita itu, seorang putri camat yang juga seorang mahasiswa juga menentang perilaku ayahnya yang amoral. Caranya dengan membocorkan rapat-rapat kepada teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita warga sekitar melakukan demonstrasi besar- besaran dan anarkistis. Kantor camat dihancurkan, pasar dijarah, sehingga kota menjadi luluh lantak. Pementasan dengan memakan waktu kurang dari tiga jam itu disutradarai Wawan Sofwan dan didukung oleh eksekutif produser Chalid Muhamad dari Wahli, FX Rudy Gunawan (PSI),dan J Danang Widyoko dari Indonesia Corruption Wacth (ICW).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan ini juga diniatkan untuk memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 10 Tahun Reformasi 1998. Ini merupakan kerja sama teater ICW, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Walhi, Perkumpulan Praxis,Voice of Human Right (VHR), Elsam, INFID, dan Transparancy International Indonesia. (dede ibin muhibbin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Sindo, Jumat, 23 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8762764853166212124?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8762764853166212124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8762764853166212124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8762764853166212124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8762764853166212124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/wajah-pemerintahan-karut-marut.html' title='Wajah Pemerintahan Karut-marut'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4512557175582550060</id><published>2008-05-22T21:18:00.001+07:00</published><updated>2008-05-29T18:55:01.755+07:00</updated><title type='text'>Wawan Sofwan Mainkan Sandekala</title><content type='html'>Oleh: Cecep Burdansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG, TRIBUN Wawan Sofwan, aktor yang sering melanglangbuangana membawakan lakon lakon bernuansa lokal Sunda, akan memvisualkan Sandekala dalam bentuk teater di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang no 1, selama tiga hari mulai Kamis (22/5) ini sampai Sabtu (24/5). Tak tanggung tanggung, dalam satu hari akan dipentaskan dua kali, yakni pada pukul 13.00 dan 20.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sandekala" merupakan novel karya sastrawan Sunda Godi Suwarna yang dianugerahi hadiah sastra Sunda Rancage oleh Ajip Rosidi tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Sofwan sendiri merupakan aktor handal yang sudah sering keliling luar negeri, terutama Eropa dan Australia. Ia antara lain pernah keliling Eropa mementaskan monolog dengan naskah carpon Sunda karya Hadi AKS, "Oknum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan teater Sandekala ini juga akan diawali dengan diskusi yang digelar Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung Kamis (22/5) pukul 10.00. Diskusi novel Sandekala akan menghadirkan pembicara, antara lain Wakil Gubernur Jabar terpilih Dede Yusuf, Tisna Sanjaya, Acep Iwan Saidi, Danang Widoyoko/Chalid Muhammad dengan pembicara Hawe Setiawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas Sandekala ini untuk memperingati 10 tahun reformasi dan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Menurut koordinator acara, Zhu Khie, pentas Sandekala merupakan persembahan kerja sama antara Mainteater, Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar, Yayasan Tifa dan Perkumpulan Seni Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhu Kie menjelaskan, pementasan itu merupakan kampanye isu antikorupsi, lingkungan dan hak asasi manusia (HAM). Sandekala sendiri merupakan novel yang mengisahkan peristiwa hari hari tumbangnya kekuasaan Orde Baru yang diwarnai dengan pelanggaran hak asasi manusia, di mana korbannya antara lain mahasiswa.(cep)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=9674&amp;amp;kategori=7&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4512557175582550060?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4512557175582550060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4512557175582550060' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4512557175582550060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4512557175582550060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/wawan-sofwan-mainkan-sandekala.html' title='Wawan Sofwan Mainkan Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6913055015547661387</id><published>2008-05-22T20:31:00.000+07:00</published><updated>2008-05-26T20:33:05.428+07:00</updated><title type='text'>BANGKIT MELAWAN KORUPSI,  PERUSAKAN LINGKUNGAN DAN PELANGGARAN HAM DENGAN KEARIFAN LOKAL</title><content type='html'>SIARAN PRESS PENTAS TEATER SANDEKALA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100 tahun Kebangkitan Nasional baru usai kita peringati. Ada banyak wacana, banyak unjuk rasa, banyak refleksi, dan berbagai kegiatan. Ada juga orang-orang besar dan berdedikasi pada bangsa ini yang berbahagia meninggalkan Indonesia kita di momen besar ini. Ali Sadikin, mantan gubernur DKI yang berjuang untuk membangun Jakarta, Oey Hay Djoen, mantan tahanan politik di Pulau Buru, dan SK Trimurti, pejuang perempuan yang luar biasa, adalah mereka yang pergi meninggalkan kita semua di tengah hiruk-pikuk perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasioanal dan 10 tahun Reformasi. Apa makna kepergian mereka? Mungkin untuk mengingatkan kita semua betapa masih banyak penderitaan, persoalan, dan tantangan bagi bangsa ini agar bisa benar-benar “bangkit “. Nyatanya, saat ini kebangkitan nasional hanya tinggal slogan kosong yang habis digerogoti para koruptor dan kesewenang-wenangan para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi adalah salah satu perilaku yang menggerogoti semua sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara bak virus ganas yang tak terhalangi oleh antivirus apapun. Korupsi sudah menjadi sebuah “budaya” yang mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua lini. Sebagai sebuah “wabah yang membudaya “ diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni medium budaya. Korupsi merusak secara sistemik berbagai aspek dan dimensi kehidupan, termasuk perusakan manusia terhadap alam semesta. Hampir bisa dipastikan, korupsilah penyebab terbesar perilaku perusakan alam seperti penggundulan hutan, pengeksplotasian yang tak bertanggungjawab terhadap semua kekayaan di perut bumi, dan pencemaran lingkungan sampai ke lapisan ozon. Tak bisa ditawar lagi, kita perlu sebuah gerakan kebudayaan untuk melawan budaya korupsi dan membangkitkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang menghargai kehidupan harmonis antara sesama manusia dan antara manusia dengan alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesadaran itulah, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, Mainteater didukung oleh Komunitas Indonesia Menggugat, Elsam, INFID, Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Pengelola GK Rumentang Siang dengan bantuan dana dari Hivos, ICCO dan Yayasan Tifa bekerja sama untuk memproduksi pementasan teater Sandekala yang diangkat dari novel berbahasa Sunda pemenang hadiah sastra Rancage 2008 karya Godi Suwarna. Sebagai media partner, pementasan ini menggandeng Voice of Human Rights (VHR) Media dan Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, Forum Wartawan Bandung dan Jaringan Videomaker Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami ini adalah langkah awal sebuah perlawanan berbasis kebudayaan untuk memerangi korupsi dan perusakan lingkungan dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai titik pijaknya. Datang dan saksikanlah pementasan yang disutradarai Wawan Sofwan ini di Bandung, 23-24 Mei 2008 dan di Jakarta, 23-24 Juli 2008. Satukan tekad Anda untuk bersama-sama melawan budaya korupsi melalui gerakan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung 22 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi K. Yuwono&lt;br /&gt;Produser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Sofwan&lt;br /&gt;Produser &amp;amp; Sutradara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chalid Muhammad, FX. Rudy Gunawan &amp;amp; J. Danang Widoyoko&lt;br /&gt;Eksekutif Produser&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6913055015547661387?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6913055015547661387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6913055015547661387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6913055015547661387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6913055015547661387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/bangkit-melawan-korupsi-perusakan.html' title='BANGKIT MELAWAN KORUPSI,  PERUSAKAN LINGKUNGAN DAN PELANGGARAN HAM DENGAN KEARIFAN LOKAL'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2264824169532439869</id><published>2008-05-21T22:02:00.001+07:00</published><updated>2008-05-21T22:08:21.371+07:00</updated><title type='text'>Bandung Menjelang Sandekala</title><content type='html'>Akhirnya rencana demi rencana sudah hampir terpenuhi. Pada tanggal 22 Mei akan diadakan Diskusi Publik "Relevansi Seni Budaya dalam Gerakan Sosial" yang akan menghadirkan Dede Yusuf, Ucok Homicides, Aceh Iwan Saidi dan Danang Widoyoko. Diskusi akan berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat. Di sini akan dibahas bagaimana seniman menyikapi kondisi sosial yang melanda negeri ini dari sudut pandang mereka, dan bagaimana peran negara dalam memberikan peluang terhadap sikap-sikap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi berikutnya akan diumumkan kepada publik tentang apa, siapa dan bagaimana Sandekala itu sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan teater sendiri akan berlangsung pada tanggal 23 dan 24 Mei setiap pukul 13.00 (untuk pelajar) dan 19.30 (untuk umum). Silahkan berbondong-bondong untuk mengikuti acara tersebut di atas. Jangan sampai kehabisan tempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2264824169532439869?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2264824169532439869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2264824169532439869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2264824169532439869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2264824169532439869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/bandung-menjelang-sandekala.html' title='Bandung Menjelang Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-3126873214778256939</id><published>2008-05-21T20:34:00.000+07:00</published><updated>2008-05-26T20:36:28.176+07:00</updated><title type='text'>DISKUSI PUBLIK ”RELEVANSI SENI BUDAYA DALAM GERAKAN SOSIAL”</title><content type='html'>TERM OF REFERENCE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi. Sebuah perbendaharaan kata yang tak asing bagi Indonesia. Sebuah kata yang cukup menyengat telinga kita dalam kehidupan sehari-hari dan sering ditemukan di ruang privat dan publik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak reformasi 1998, penyakit ini semakin membahana di seluruh Indonesia dan menjadi sorotan dunia internasional. Demonstrasi yang mendengungkan tuntutan terhadap penyelesaian kasus ini sudah tak lagi terhitung mulai dari depan balai desa hingga depan Istana Negara. Penyakit ini sungguh kronis dan mewabah ke banyak kalangan, bahkan melindas kelompok yang sesungguhnya menjadi garda terdepan negara dalam penyelesaian kasus-kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, korupsi tidak pernah berdiri sendiri. korupsi di negara ini seringkali bukan sekedar menjadi dampak dari kontrol birokrasi yang lemah, melainkan sebagai akar masalah. Berbagai tragedi politik dan pelanggaran hak asasi manusia terjadi berawal dari sebuah kasus korupsi. Rezim Soeharto misalnya, mempertahankan kekuasaan yang korup dengan berbagai cara, termasuk melanggar hak-hak dasar warga negara, diantaranya agar kepentingan ekonomi dan politik rezim terjaga. Yang terjadi kemudian di Indonesia bukan sekedar aplikasi dari pemeo “power tends to corrupt” melainkan “corrupt to get and maintain power”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun reformasi dalam diksusi ini akan dibahas bagaimana masyarakat sipil, khususnya seniman melihat persoalan ini dan berbuat sesuatu untuk terlibat dalam gerakan sosial, khususnya isu korupsi, lingkungan dan HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relevankah teater dan seni budaya dijadikan medium kampanye yang dapat dipakai sebagai motivasi untuk perjuangan gerakan anti korupsi khususnya, dan penyadaran politik masyarakat pada umumnya? Disini dapat diperdebatkan bagaimana efektivitas kegiatan seni budaya, khususnya seni peran (teater) sebagai media informasi dan komunikasi publik, sekaligus sebagai media pendidikan; serta seberapa jauh peran yang dapat diambil oleh para pegiat seni budaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam konteks ini khususnya menggagas inisiatif kesadaran dan perlawanan rakyat menghadapi korupsi yang mengakar dalam birokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menggiatkan ekspresi budaya yang berorientasi dan berpihak kepada rakyat yang menjadi korban tindakan korupsi, pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengolah ruang-ruang seni budaya menjadi wadah dan sarana kampanye publik, khususnya isu-isu korupsi, HAM dan lingkungan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASIL YANG DIHARAPKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Publik menjadi lebih paham tentang korupsi dan masalah yang ditimbulkannya termasuk pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan, sehingga muncul kesadaran untuk semakin terlibat dalam memerangi korupsi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meluasnya komunitas seni budaya yang bekerja di ranah gerakan anti korupsi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terjadinya proses pembelajaran bersama dalam rangka mengembangkan gagasan-gagasan kreatif dan inovatif untuk kampanye publik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAMPAK YANG DIHARAPKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Maraknya kembalinya kebudayaan Sunda, khususnya yang berbasis seni teater dengan membangun komunitas-komunitas budaya berbasis jaringan kerja lokal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada wacana budaya yang mengangkat tema-tema sosial, khususnya korupsi, lingkungan, dan HAM melalui pemberitaan media dan feature-feature di media massa baik cetak maupun elektronik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU DAN TEMPAT&lt;br /&gt;Gedung Indonesia Menggugat – Bandung&lt;br /&gt;Tanggal 22 Mei 2008&lt;br /&gt;Pukul 10.00 – selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBICARA&lt;br /&gt;1.    Dede Yusuf&lt;br /&gt;2.    Ucok Homicides&lt;br /&gt;3.    Acep Iwan Saidi&lt;br /&gt;4.    Sely Martini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODERATOR&lt;br /&gt;Aan dan Hawe Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA&lt;br /&gt;Diskusi ini terbuka dan untuk umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYELENGGARA&lt;br /&gt;Kegiatan diskusi publik ini merupakan bagian dari pementasan Teater Sandekala yang merupakan kerja kolaborasi beberapa organisasi yaitu Indonesia Corruption Watch, Mainteater Bandung, Perkumpulan Seni Indonesia, Walhi, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Voice of Human Rights, Forum Diskusi Wartawan Bandung, Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat – Bandung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-3126873214778256939?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/3126873214778256939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=3126873214778256939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3126873214778256939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3126873214778256939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/diskusi-publik-relevansi-seni-budaya.html' title='DISKUSI PUBLIK ”RELEVANSI SENI BUDAYA DALAM GERAKAN SOSIAL”'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8849484359616964047</id><published>2008-05-20T21:15:00.000+07:00</published><updated>2008-05-28T21:17:31.896+07:00</updated><title type='text'>Diawali Diskusi oleh Dede Yusuf: Sandekala "Gentayangan" di Rumentang Siang</title><content type='html'>Oleh : Cecep Burdansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sandekala" akan gentayangan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang no 1 Bandung, selama tiga hari, Kamis (22/5) sampai Sabtu (24/5). "Sandekala" merupakan novel karya sastrawan Sunda Godi Suwarna yang dianugrahi hadiah sastra Sunda Rancage oleh Ajip Rosidi tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Sofwan, aktor yang sudah sering melanglangbuangana membawakan lakon-lakon bernuansa lokal Sunda, akan memvisualkan Sandekala dalam bentuk teater selama tiga hari di Gedung Kesenian Rumentang Siang, yakni Kamis (22/5), Jumat (23/5) dan Sabtu (24/5). Tak tanggung-tanggung, dalam satu hari akan dipentaskan dua kali, yakni pukul 13.00 dan 20.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan Sofwan sendiri merupakan aktor handal yang sudah sering keliling luar negeri, terutama Eropa dan Australia untuk mementaskan teater bernuansa Sunda. Ia antara lain pernah keliling Eropa mementaskan monolog dengan naskah carpon Sunda karya Hadi AKS, "Oknum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementas teater Sandekala ini juga akan diawali dengan diskusi yang digelar Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung Kamis (22/5) pukul 10.00. Diskusi novel Sandekala akan menghadirkan pembicara antara lain Wakil Gubernur terpilih Dede Yusuf, Tisna Sanjaya, Acep Iwan Saidi, Danang Widoyoko/Chalid Muhammad dengan pembicara Hawe Setiawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas Sandekala ini untuk memperingati 10 tahun reformasi dan 100 tahun kebangkitan nasional. Menurut koordinator acara, Zhu Khie, pentas Sandekala merupakan persembahan kerja sama antara Mainteater, Indonesian Corruption Watch (ICW) dan wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jabar, Yayasan Tifa dan Perkumpulan Seni Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhu Kie menjelaskan, pementasan itu merupakan kampanye isu anti korupsi, lingkungan dan hak asasi manusia (HAM). Sandekala sendiri merupakan novel yang mengisahkan peristiwa hari-hari tumbangnya kekuasaan Orde Baru yang diwarnai dengan pelanggaran hak asasi manusia, di mana korbannya antara lain mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=9490&amp;amp;kategori=7&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8849484359616964047?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8849484359616964047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8849484359616964047' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8849484359616964047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8849484359616964047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/diawali-diskusi-oleh-dede-yusuf.html' title='Diawali Diskusi oleh Dede Yusuf: Sandekala &quot;Gentayangan&quot; di Rumentang Siang'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5661369924711472625</id><published>2008-05-16T19:17:00.002+07:00</published><updated>2008-05-16T19:20:48.898+07:00</updated><title type='text'>Poster Sandekala</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SC17-8R4cZI/AAAAAAAAADE/UxMPzH6N5ds/s1600-h/poster+50x70cm.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200949465946026386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SC17-8R4cZI/AAAAAAAAADE/UxMPzH6N5ds/s400/poster+50x70cm.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5661369924711472625?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5661369924711472625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5661369924711472625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5661369924711472625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5661369924711472625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/poster-sandekala_16.html' title='Poster Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SC17-8R4cZI/AAAAAAAAADE/UxMPzH6N5ds/s72-c/poster+50x70cm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-3488615576127598695</id><published>2008-05-13T20:27:00.004+07:00</published><updated>2008-05-18T19:12:36.519+07:00</updated><title type='text'>Diskusi Relevansi Seni Budaya dalam Gerakan Sosial</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SCmb_8R4cYI/AAAAAAAAAC8/mmYyobp19EQ/s1600-h/banner+diskusi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199858767591141762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SCmb_8R4cYI/AAAAAAAAAC8/mmYyobp19EQ/s320/banner+diskusi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selaku penyelenggara bersama, yang terdiri dari Indonesian Corruption Watch, Mainteater Bandung, Perkumpulan Seni Indonesia, dan Walhi, kami bermaksud untuk mementaskan teater “Sandekala”, adaptasi novel karya Godi Suwarna yang mendapatkan penghargaan Rancage tahun 2008. Pementasan ini merupakan kampanye isu anti korupsi, lingkungan dan HAM serta peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkuat wacana tema pementasan, kami juga akan mengadakan diskusi publik dengan tema ”Relevansi Seni Budaya dalam Gerakan Sosial”. Oleh karena itu kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk terlibat dalam diskusi tersebut sebagai peserta yang akan dilaksanakan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/tanggal: Kamis, 22 Mei 2008&lt;br /&gt;Waktu: Pukul 10.00 - selesai&lt;br /&gt;Tempat: Gedung Indonesia Menggugat, Jl. Perintis Kemerdekaan, Bandung&lt;br /&gt;Pembicara: Dede Yusuf, Ucok Homicides, Acep Iwan Saidi, Danang Widoyoko&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Moderator: Sulhan Syafe’ii dan Hawe Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara/Saudari dapat hadir dalam diskusi tersebut. Atas kerjasamanya yang baik kami ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara akan dilanjutkan setelah makan siang dengan konferensi pers pementasan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-3488615576127598695?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/3488615576127598695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=3488615576127598695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3488615576127598695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/3488615576127598695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/diskusi-relevansi-seni-budaya-dalam.html' title='Diskusi Relevansi Seni Budaya dalam Gerakan Sosial'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SCmb_8R4cYI/AAAAAAAAAC8/mmYyobp19EQ/s72-c/banner+diskusi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6667003137821921907</id><published>2008-05-12T19:34:00.006+07:00</published><updated>2008-05-12T20:13:31.691+07:00</updated><title type='text'>Poster Sandekala</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SCg_-MR4cXI/AAAAAAAAAC0/g_E2TLKh_xg/s1600-h/flyer.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199476107479904626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SCg_-MR4cXI/AAAAAAAAAC0/g_E2TLKh_xg/s320/flyer.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhirnya materi publikasi sudah berbentuk setelah sekian lama mendekam dalam ide-ide yang dituangkan di kepala dan komputer. Cantik dan brilian! Terima kasih kepada Asih yang sudah bersusah payah. Bravo!&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Catatan: Logo belum diperbaiki jadi tampilan akan beda dengan versi cetaknya. Maaf apabila ada yang terlewatkan.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6667003137821921907?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6667003137821921907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6667003137821921907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6667003137821921907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6667003137821921907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/poster-sandekala.html' title='Poster Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SCg_-MR4cXI/AAAAAAAAAC0/g_E2TLKh_xg/s72-c/flyer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7961094104252668603</id><published>2008-05-07T15:27:00.001+07:00</published><updated>2008-05-07T15:51:54.986+07:00</updated><title type='text'>KPK agar Usut Dalang Korupsi Lingkungan</title><content type='html'>6 Mei 2008 - 18:45 WIB - Hervin Saputra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VHRmedia.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi didesak lebih serius menyelidiki kasus-kasus korupsi yang berhubungan dengan masalah lingkungan. Potensi sumber daya alam menjadi sasaran utama korupsi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dinyatakan mantan Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Chalid Muhamad dalam acara serah terima jabatan dengan Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif Walhi periode 2005-2008, Selasa (6/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chalid mendesak KPK mendalami penyelidikan korupsi bidang lingkungan pada pembuat peraturan, tidak hanya mencermati kasus per kasus. "Lihat policy-nya. Jangan kasus per kasus. Lihat kepentingan yang ada di belakang pembuatan peraturan lingkungan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencontohkan, penegak hukum lamban merespons pengakuan anggota DPR di Mahkamah Konstitusi soal isu suap terkait uji materi Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang izin operasi 13 perusahaan tambang di wilayah hutan lindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Chalid, korupsi sumber daya alam terjadi sejak awal kepemimpinan presiden Soeharto. Namun, respons pemberantasan korupsi di bidang ini baru bergeliat beberapa waktu terakhir. Dia mensinyalir, lambannya respons tersebut karena KPK terlalu berhati-hati memberantas korupsi sumber daya alam skala besar hingga tahap pembuatan peraturan. "KPK masih agak berhati-hati," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chalid mengusulkan KPK menyelidiki korupsi bidang lingkungan hingga pusat kekuasaan, karena di pusat kekuasaanlah peraturan terkait sumber daya alam diproses. "Tidak akan terjadi apa-apa kalau penyelidikan sampai jantung kekuasaan. Negara tidak akan hancur," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dugaan korupsi yang diungkap KPK beberapa waktu terakhir ini berkaitan dengan lingkungan hidup. Di antaranya dugaan korupsi Rp 3 triliun oleh anggota DPR Al Amin Nur Nasution terkait alih fungsi lahan hutan lindung di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KPK juga menetapkan Sarjan Taher, anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, sebagai tersangka korupsi alih fungsi hutan bakau menjadi Pelabuhan Tanjung Siapi-api di Provinsi Sumatera Selatan. (E1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;©2008 VHRmedia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7961094104252668603?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7961094104252668603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7961094104252668603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7961094104252668603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7961094104252668603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/05/kpk-agar-usut-dalang-korupsi-lingkungan.html' title='KPK agar Usut Dalang Korupsi Lingkungan'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5706145250760407113</id><published>2008-04-29T21:15:00.008+07:00</published><updated>2008-04-29T21:35:37.050+07:00</updated><title type='text'>Pesan di Prasasti Kawali</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SBcuxqchVZI/AAAAAAAAACs/HlK_7YcpFYA/s1600-h/PrasastiKawali.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194672125937538450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SBcuxqchVZI/AAAAAAAAACs/HlK_7YcpFYA/s320/PrasastiKawali.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Sumber: &lt;/em&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Astana_Gede"&gt;&lt;em&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Astana_Gede&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasasti yang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terutama pada prasasti "utama" (prasasti Kawali I) yang bertulisan paling banyak. Adapun secara keseluruhan, terdapat enam prasasti. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga). Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, dapat disimpulkan bahwa prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasasti Kawali I di kawasan kabuyutan Astana Gede, Kawali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teks di bagian muka:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;nihan tapa kawa- li nu sang hyang mulia tapa bha- gya parĕbu raja wastu mangadĕg di kuta ka- wali nu mahayuna kadatuan sura wisesa nu marigi sa- kuliling dayĕh. nu najur sakala desa aja manu panderi pakĕna gawe ring hayu pakĕn hebel ja ya dina buana &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teks di bagian tepi tebal: &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;hayua diponah-ponah hayua dicawuh-cawuh inya neker inya angger inya ninycak inya rempag&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bahasa Indonesia:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Teks di bagian tepi tebal:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jangan dimusnahkan! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangang semena-mena! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia dihormati, ia tetap. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia menginjak, ia roboh. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Astana_Gede"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5706145250760407113?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5706145250760407113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5706145250760407113' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5706145250760407113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5706145250760407113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/pesan-di-prasasti-kawali.html' title='Pesan di Prasasti Kawali'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/SBcuxqchVZI/AAAAAAAAACs/HlK_7YcpFYA/s72-c/PrasastiKawali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7287758135007662967</id><published>2008-04-29T13:27:00.001+07:00</published><updated>2008-04-29T13:34:07.175+07:00</updated><title type='text'>100 tahun Kebangkitan Nasional, 10 tahun Reformasi</title><content type='html'>Dalam rangka memperingati peristiwa 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun Reformasi, kami akan segera memanggungkan Sandekala. Teater ini akan berbicara mengenai kondisi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kehidupan di mana kita dijejali dengan banyak fakta yang memuakkan, suatu kondisi sosial yang sudah berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi masih merajalela dari atas hingga kampung, perusakan lingkungan di mana-mana bahkan yang namanya hutan lindung pun disewakan, pelanggaran HAM terjadi dari mulai saat penyusunan kertas kebijakan hingga di pasar-pasar. Setiap hari kita disuguhi berita yang hampir sama baik di koran, televisi maupun radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam "dunia nyata" ini kami akan memberikan gambaran bagaimana spiritualitas budaya lokal sudah berbicara jauh-jauh hari mengingatkan kemungkinan yang akan terjadi dalam "kenyataan" ini. Sandekala bukan hanya sebuah teater biasa, namun memuat kearifan lokal yang sering kali dipinggirkan demi kepentingan kelompok tertentu. Kami mencoba mengingatkan kembali bahwa kearifan lokal itu sudah berteriak lama sekali menunggu waktu untuk mewujud lepas dari pasungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk kampanye, pementasan teater Sandekala juga akan diiringi dengan diskusi publik untuk memperkuat gagasan yang ada. Diskusi publik akan memperbicangkan bagaimana sikap masyarakat sipil, khususnya seniman melihat konteks sosial yang ada. Konteks budaya lokal, khususnya Sunda, akan memperlihatkan bagaimana relevansi gerakan masyarakat sipil dalam menghadapi konteks sosial yang "tidak dicita-citakan". Untuk persiapan kami akan mengajak beberapa seniman atau budayawan untuk ikut terlibat dalam diskusi ini, selain itu juga tentunya para aktivis yang berkecimpung dalam tema-tema yang dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi akan dilakukan pada tanggal 22 Mei 2008 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Diskusi ini merupakan diskusi terbuka dan kami mengundang siapa pun yang tertarik untuk ikut berdiskusi. Sedangkan pementasan dalam bahasa Sunda sendiri akan dimulai pada tanggal 22 hingga 24 Mei 2008 bertempat di Gedung Rumentang Siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diskusi publik dan pementasan di Jakarta, kami akan segera memberikan informasi kepastian waktu dan tempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7287758135007662967?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7287758135007662967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7287758135007662967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7287758135007662967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7287758135007662967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/100-tahun-kebangkitan-nasional-10-tahun.html' title='100 tahun Kebangkitan Nasional, 10 tahun Reformasi'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5196248083224877227</id><published>2008-04-28T09:04:00.002+07:00</published><updated>2008-05-02T16:10:16.009+07:00</updated><title type='text'>Kawali</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;PRASASTI KAWALI&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Situs Astana Gede atau Situs Kawali merupakan salah satu situs dari masa klasik. Di sini terdapat enam prasasti yang dipahatkan pada batu alam. Keenam prasasti ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda Kuno. Dilihat dari paleografi dan bahasanya, diperkirakan berasal dari&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;abad ke-14 Masehi. Selain itu, dari nama-nama yang disebutkan di dalamnya dapat dipastikan berasal dari abad ke-14 Masehi. Menurut naskah &lt;b&gt;&lt;i&gt;Carita Parahyangan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang berasal dari akhir abad ke-16 Masehi, nama-nama itu pernah menjadi raja, yaitu Rahyang Niskala Wastu Kañcana dan Rahyang Dewa Niskala, seperti yang tersebut di dalam prasasti Batutulis Bogor. Sehingga dengan demikian, Rahyang Niskala Wastukencana berasal dari Kawali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kawali terletak di Kampung Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Menurut cerita rakyat dan babad, di daerah ini terkenal adanya sebuah kerajaan bernama &lt;i&gt;Galuh&lt;/i&gt;. Nama itu sendiri sekarang masih melekat pada nama sebuah desa bernama &lt;i&gt;Bojong Galuh&lt;/i&gt;, yang juga disebut &lt;i&gt;Karangkamuliaan&lt;/i&gt;. Tempat tersebut oleh penduduk dan juga oleh &lt;b&gt;&lt;i&gt;Babad Galuh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dianggap sebagai pusat bekas kerajaan Galuh (meskipun belum menampilkan bukti otentik kesejarahan yang primer). Dilihat dari pandangan keagamaan, dalam hal ini agama Hindu, tempat itu sangat baik karena terletak di muara, tempat pertemuan dan aliran sungai &lt;i&gt;Citanduy&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Cimuntur&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berpijak pada arti katanya yang umum, kawali berarti kuali (alat masak dari tanah). Tentang kedudukan Kawali sebagai pusat pemerintahan, ditegaskan dalam Pustaka Nusantara II/2, yang berisi: “&lt;i&gt;Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajannya bernama Kawali. Pada masa sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ juga&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengertian Galuh dan Sunda antara 1333-1482 Masehi harus dihubungkan dengan Kawali, walaupun di Pakuan tentu ada seorang penguasa daerah. Keraton Galuh sudah ditinggalkan atau fungsinya sebagai tempat kedudukan pemerintahan pusat sudah berakhir. Raja yang jelas berkedudukan di kawali adalah Ajiguna Linggawisesa menantu Prabu Linggadewata. Ia menikah dengan Dewi Uma Lestari alias Ratu Santika. Dari perkawinan ini lahir Ragamulya yang kemudian menggantikan ayahandanya dan Suryadewata leluhur raja-raja Talaga. Adik Ajiguna Linggawisesa bernama Pujasari diperistri oleh Patih Srenggana dan menjadi leluhur raja-raja Tanjung Barat yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Prabu Ajiguna memerintah tahun 1333-1340 Masehi. Ia sezaman dengan Tribuwonotunggadewi Jayawisnuwardani (1328-1350 M) penguasa Majapahit dan ibunda Hayam Wuruk.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Setelah wafat Prabu Ajiguna Linggawisesa dipusarakan di Kiding. Penggantinya adalah Prabu Ragamulya Luhur Prabawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350 M). Ia berputera dua orang yaitu Linggabuana dan Bunisora yang kedua-duanya menjadi penguasa di Kawali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti Kawali I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti dipahatkan pada batu alam, berbentuk persegi empat tidak beraturan dengan ukuran: panjang kanan 125 cm, panjang kiri 120 cm, lebar atas 46 cm, lebar bawah 57 cm, serta tebal 10 cm. Prasasti yang diletakkan dalam posisi tidur, bertuliskan pada sisi depan yang berjumlah 10 baris tulisan dan setiap barisnya diberi garis lurus, sedangkan tulisan selanjutnya ditulis pada keempat sisinya. Prasasti Kawali I berisikan: “&lt;i&gt;Inilah tanda bekas beliau yang mulia Prabu Raja Wastu [yang] berkuasa di kota Kawali, yang memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit [di] sekeliling ibukota, yang memakmurkan seluruh desa. Semoga ada penerus yang melaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya di dunia&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti Kawali II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti dipahatkan pada batu alam, berbentuk akolade (kwadrat) yang tidak simetris dengan ukuran tinggi: 125 cm dan lebar 80 cm. Prasasti yang diletakkan dalam posisi berdiri ditulis dalam tujuh baris tulisan, diakhiri dengan garis horisontal. Tulisannya tidak serapi Prasasti Kawali I. Prasasti Kawali II berisikan: “&lt;i&gt;Janganlah dirintangi janganlah diganggu yang memotong akan hancur yang menginjak akan roboh&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti Kawali III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti dipahatkan pada batu alam dalam posisi berdiri, tingginya 120 cm. Prasasti yang berjumlah dua baris ini ditulis di bagian tengah prasasti. Prasasti Kawali III berisikan: “&lt;i&gt;Semoga ada yang menghuni di Kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan agar unggul dalam perang&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti Kawali IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti dipahatkan pada batu alam dalam posisi berdiri, tingginya 120 cm. Seperti halnya Prasasti Kawali III, tulisannya yang berjumlah dua baris ditulis di bagian tengah prasasti. Prasasti Kawali IV berisikan: “&lt;i&gt;Sang Hyang Lingga Bingba&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti Kawali V&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti dipahatkan pada batu alam, dengan ukuran panjang sisi kanan 75 cm, panjang sisi kiri 55 cm, lebar bawah 60 cm, dan lebar atas 113 cm. Tulisan yang terdiri dari satu kata itu ditulis di sebelah kiri garis-garis lurus yang membentuk kotak-kotak. Kotak-kotak yang berjumlah 45 buah (9 x 5 kotak) tersebut seperti kalender (&lt;b&gt;&lt;i&gt;k&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Calibri Greek';"&gt;ό&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lenjer&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;). Di bawah &lt;b&gt;&lt;i&gt;k&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Calibri Greek';"&gt;ό&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;lenjer&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; terdapat gambar telapak tangan dan sepasang telapak kaki. Prasasti Kawali V berisikan: “&lt;i&gt;Demikianlah&lt;/i&gt;.” Kemungkinan, prasasti ini merupakan prasasti penutup, meskipun prasasti-prasasti lainnya belum dapat diurutkan secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti Kawali VI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Prasasti dipahatkan pada batu alam dengan ukuran: panjang 72 cm dan lebar 62 cm. Prasasti yang ditemukan dalam posisi tidur ditulis dalam 6 baris tulisan. Prasasti Kawali VI berisikan: “&lt;i&gt;Ini peninggalan dari [yang] &lt;b&gt;astiti&lt;/b&gt; [dari] rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi bisa sengsara&lt;/i&gt;.” Astiti berasal dari bahasa Sansekerta &lt;i&gt;sthiti&lt;/i&gt; yang kemudian menjadi &lt;i&gt;athisti&lt;/i&gt;, dan mengalami perubahan lagi menjadi &lt;i&gt;astiti&lt;/i&gt; yang berarti tetap, teguh, koko, stabil, tidak bergerak, tidak berubah, kekal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5196248083224877227?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5196248083224877227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5196248083224877227' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5196248083224877227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5196248083224877227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/kawali.html' title='Kawali'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8390710810705202096</id><published>2008-04-18T16:56:00.003+07:00</published><updated>2008-04-18T17:10:49.165+07:00</updated><title type='text'>Sandekala Sudah 60% Menuju Panggung</title><content type='html'>Setelah tertatih merangkak sekian lama, Sandekala sudah kini sudah "berbentuk". Dalam diskusi kemarin antara produser dengan tim produksi dan artistik di Bandung, nampak bahwa Sandekala sudah siap 60%. Ini cukup mengejutkan karena proses sudah sedemikian cepat. Latihan yang intens setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu terus berjalan. Komitmen seluruh tim sungguh menggembirakan yang terlihat dalam keseriusan menjalani proses latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pembiayaan? Pertanyaan yang wajar muncul untuk kelangsungan sebuah pementasan. Lampu hijau! Begitulah jawaban yang diberikan oleh produser. Sudah ada satu kontrak kerjasama yang tertuang dari Hivos Southeast Asia,satu komitmen lagi sudah ada dari ICCO/Kerkinactie - Belanda, hanya tinggal menunggu waktunya. Sementara dari Yayasan TIFA dan Kedutaan Besar Belanda masih menunggu proses kelayakan dukungan. Kenyataan tersebut tentunya merupakan sebuah tambahan energi yang bisa memacu kerja-kerja selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan terus mengalir baik melalui SMS, telepon, komentar di blog bahkan dari diskusi-diskusi dengan pihak-pihak lain. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pun sudah memberikan dukungan untuk pementasan Sandekala yang sangat kental memunculkan budaya Sunda. Implementasi dukungan dari DKJ akan diwujudkan dalam bentuk kerjasama kemudahan penggunaan Graha Bakti Budaya - TIM Jakarta, dimana format kerjasamanya akan diatur kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan sekolah - sekolah di Bandung untuk ikut dalam mengkampanyekan issue anti korupsi, lingkungan dan HAM nampaknya bisa membuat semuanya tersenyum. Beberapa sekolah sudah bersedia untuk ikut mengirimkan siswanya untuk menonton pementasan Sandekala pada tanggal 22 hingga 23 Mei nanti dengan harga khusus pelajar. Tentunya ini merupakan hal yang positif dimana generasi muda diharapkan memperoleh kesadaran bahwa issue yang dikampanyekan merupakan bagian penting dari kehidupan mereka di masa mendatang. Para pelajar adalah calon-calon pejuang issue tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu bagaimana Sandekala akan dipanggungkan tentunya juga harus disikapi. Keinginan agar Sandekala dipentaskan di Kawali, Ciamis juga muncul. Tentunya ini patut dipertimbangkan bersama, mengingat setting novel Sandekala karya Godi Suwarna, berada di Kawali. Apabila memungkinkan dari sisi dana dan waktu yang tersedia, dengan senang hati Sandekala akan manggung di sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8390710810705202096?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8390710810705202096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8390710810705202096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8390710810705202096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8390710810705202096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/sandekala-sudah-60-menuju-panggung.html' title='Sandekala Sudah 60% Menuju Panggung'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2337080012053628215</id><published>2008-04-11T08:18:00.005+07:00</published><updated>2008-04-18T17:16:24.331+07:00</updated><title type='text'>Adegan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_69VwUlOyI/AAAAAAAAACQ/pz_TjhiPlzY/s1600-h/adegan1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187792002223520546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: pointer; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_69VwUlOyI/AAAAAAAAACQ/pz_TjhiPlzY/s320/adegan1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_69WQUlOzI/AAAAAAAAACY/e64PO8_i0Jc/s1600-h/adegan2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187792010813455154" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: pointer; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_69WQUlOzI/AAAAAAAAACY/e64PO8_i0Jc/s320/adegan2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beginilah kerja teater. Bermula dari sini- dimulai dari latihan, persiapan, hingga pelaksanaan. Ada yang harus berkutat dengan kertas dan angka, ada yang mencurahkan ide ide kreatif di atas kertas, ada yang harus berkeringat berlatih bahkan ada yang sibuk menuangkan air ke gelas-gelas. Semua saling tertaut tak dapat berjalan sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2337080012053628215?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2337080012053628215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2337080012053628215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2337080012053628215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2337080012053628215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/adegan.html' title='Adegan'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_69VwUlOyI/AAAAAAAAACQ/pz_TjhiPlzY/s72-c/adegan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4385908199270022005</id><published>2008-04-11T08:00:00.010+07:00</published><updated>2008-05-13T08:40:02.499+07:00</updated><title type='text'>Ensamble</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Produksi mainteater kali ini, melibatkan pemain dari beberapa kelompok teater yang ada di Bandung, diantaranya: Studiklub Teater Bandung, Toneel, Actors Unlimited, Lakon Teater, Laskar Panggung Bandung, dan Teater Sunda Kiwari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_65MwUlOvI/AAAAAAAAAB4/WQjHKwJ7aCI/s1600-h/foto+kru.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187787449558186738" style="margin: 0px auto 10px; display: block; cursor: pointer; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_65MwUlOvI/AAAAAAAAAB4/WQjHKwJ7aCI/s320/foto+kru.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita harus selalu bersama-sama, paskibraka tidak bisa berjalan sendirian, begitupun dengan kita. Bagaimana bendera kita akan berkibar jika satu atau dua hilang. Semangat-bersama gagasan itulah yang penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pemain “SANDEKALA”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Tjetje Raksa sebagai &lt;em&gt;Wa Ahmad&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Dewi Candra sebagai &lt;em&gt;Dewi&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Moel Mge sebagai &lt;em&gt;Ki Kuncen&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Abdiana Gun Gunawan S. Sebagai &lt;em&gt;Suhali, Rahman, Onom&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Giri Mustika Roekmana sebagai &lt;em&gt;Otong&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Puti Puspita Hadiati sebagai &lt;em&gt;Nyi Mojang/Dyah&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Tohari Yosdollac sebagai &lt;em&gt;Camat Suroto&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Rinrin Candraresmi sebagai &lt;em&gt;Bu Dea&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;IGN Arya Sanjaya sebagai &lt;em&gt;Zamzam, Onom&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Teten Hendra sebagai &lt;em&gt;Tisna&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Dian Remeh sebagai &lt;em&gt;Ayi&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Ahmad Setiawan sebagai &lt;em&gt;Boja&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Aninnata Rengganis sebagai &lt;em&gt;Bi Lasih&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Wildan Kurnia sebagai &lt;em&gt;Eman, Onom&lt;/em&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Udin Gana sebagai &lt;em&gt;Warga, Onom, Purohita&lt;/em&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;E&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;. Suryanto sebagai &lt;em&gt;Ronda&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Deden Bell sebagai &lt;em&gt;Dadang&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Yussak Anugrah sebagai &lt;em&gt;Hansip, Juned&lt;/em&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Surti Rahayu Sejati sebagai &lt;em&gt;Bincarung&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Kemal Ferdiansyah sebagai &lt;em&gt;Pandu&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Chandra Kudapawana sebagai &lt;em&gt;Bagus&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Ria Ellysa Mifelsa sebagai &lt;em&gt;Bu Camat&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Dwi Setiono sebagai &lt;em&gt;Lelaki, Rosadi, Onom&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Kodrat Firmansyah sebagai &lt;em&gt;Didon&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Afif Bahrul Ichsan sebagai &lt;em&gt;Onom&lt;/em&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4385908199270022005?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4385908199270022005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4385908199270022005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4385908199270022005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4385908199270022005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/ensamble.html' title='Ensamble'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_65MwUlOvI/AAAAAAAAAB4/WQjHKwJ7aCI/s72-c/foto+kru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4626972818862368303</id><published>2008-04-10T09:53:00.008+07:00</published><updated>2008-04-13T18:51:56.354+07:00</updated><title type='text'>Proses Latihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_67lQUlOxI/AAAAAAAAACI/wi5-JRR0Bes/s1600-h/olah+tubuh2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_67lQUlOxI/AAAAAAAAACI/wi5-JRR0Bes/s320/olah+tubuh2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187790069488237330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Begitulah proses lakukan dilakukan sebagai persiapan pementasan Sandekala. Tentunya banyak cerita yang mengalir dalam berproses bersama. Terlihat sangat santai, namun sebetulnya semua yang terlibat sangat serius melakukannya. Demi sebuah pementasan yang berhasil, keseriusan juga merupakan modal awal. Tanpa keseriusan dan disiplin yang tinggi, sebuah pementasan hanya akan berakhir dengan cacian, itu pun kalau akhirnya jadi dipentaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_67BwUlOwI/AAAAAAAAACA/fskJv6ds2fY/s1600-h/olah+tubuh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_67BwUlOwI/AAAAAAAAACA/fskJv6ds2fY/s320/olah+tubuh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187789459602881282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Tunggu saja hasilnya nanti ketika semua sudah berganti wajah menjadi tokoh yang diperankan, ketika lampu sudah menyala, dan ketika penonton duduk di kursi masing-masing. Semoga...  &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://teater-sandekala-adegan/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4626972818862368303?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4626972818862368303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4626972818862368303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4626972818862368303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4626972818862368303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/proses-latihan_10.html' title='Proses Latihan'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_67lQUlOxI/AAAAAAAAACI/wi5-JRR0Bes/s72-c/olah+tubuh2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-8094315970665735848</id><published>2008-04-03T18:06:00.003+07:00</published><updated>2008-04-03T23:39:34.856+07:00</updated><title type='text'>Mengelola Pementasan Sandekala</title><content type='html'>Dalam mengelola sebuah produksi teater sebetulnya tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip manajemen kegiatan lain. Hal ini akan juga terlihat dalam pengelolaan sistem keuangan, pengumpulan bukti dan pelaporan. Terus terang memang tidak akan sekaku kegiatan lainnya yang mudah sekali dilihat dinamikanya. Mungkin perbedaan dinamika ini yang akan membedakannya di mana dalam teater harus ada banyak fleksibilitas yang bisa dicerna secara logika manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami berbicara soal anti korupsi, maka kami pun harus mentaati prinsip prinsip dasar tersebut. Di Teater Sandekala, kami sejak awal sudah menyepakati bersama bahwa pengelolaan keuangan haruslah dilakukan oleh orang yang mampu, menggunakan sistem keuangan yang dapat diterima secara wajar dan bukti-buktinya lengkap. Di sinilah kami akhirnya bersepakat bahwa kegiatan yang ditujukan untuk publik luas ini laporan keuangannya akan diaudit oleh auditor publik sehingga dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 2 hari ini, pihak produksi sedang mempersiapkan proses dan alur pengelolaan keuangan. Semua uang baik dukungan individu, donor, sponsor bahkan dari organisasi pelaksana harus dikumpulkan dalam satu rekening. Pencairannya juga harus sesuai dengan kebutuhan dan disetujui oleh penganggungjawab bidang dan produser selanjutnya pelaksana keuangan akan mencairkannya. Sebelum bukti-bukti pengeluaran terkumpul maka pengajuan dana kebutuhan selanjutnya tidak akan bisa dilakukan. Bagi kebanyakan orang mungkin ini dianggap ribet dan menyulitkan. Apakah begitu? Seharusnya tidak, karena inilah sebetulnya titik penting dalam pengelolaan keuangan demi tranparansi dan akuntabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengelola uang tentunya juga harus ada uang. Darimana uang itu didapat? Kami mempunyai beberapa koridor penggalian dukungan dana. Sesuai tema besar tentang anti korupsi, lingkungan dan pelanggaran HAM, maka tema tersebut itu telah jelas menjadi koridor kami. Untunglah, hingga saat ini sudah ada beberapa komitmen dari pihak-pihak yang sepakat dengan kami. Tinggal menunggu waktu sebentar, begitulah kira-kira gambaran besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menunggu kontrak kerjasama, kawan-kawan di Bandung sedang sibuk hilir mudik mempersiapkan hal-hal lainnya terutama berkaitan dengan perannya yang juga menjadi bagian penting dari pertunjukan itu sendiri. Termasuk dalam hal ini adalah membuka peluang kerjasama dengan beberapa SMA sebagai bagian dari kampanye yang akan dilakukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-8094315970665735848?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/8094315970665735848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=8094315970665735848' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8094315970665735848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/8094315970665735848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/mengelola-pementasan-sandekala.html' title='Mengelola Pementasan Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5381438218922540018</id><published>2008-04-02T21:07:00.000+07:00</published><updated>2008-05-28T21:09:38.423+07:00</updated><title type='text'>Sandékala dina Téater</title><content type='html'>RIRIBUTAN jaman presidén Soeharto geus rék nincak 10 taun. Harita, Indonésia sasatna geunjleung ku rupa-rupa kajadian. Puseur dayeuh kahuruan. Mahasiswa demontrasi. Toko jeung sawatara wawangunan diranjah terus diduruk. Geus kitu Soeharto ngécagkeun kalungguhanana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajadian nu matak ketir téh bisa jadi karasa kénéh ku nu ngalamanana mah. Unggal bulan Méi éta kajadian sok dipiéling. Gambaran kumaha gangasna oknum masarakat ditémbongkeun deui. Bugang patulayah. Nagara ngadadak geunjleung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman kajadian mangsa awal révolusi téh milu mangaruhan kana karya sastra Sunda. Nu pangnémbrésna mah, nya dina novél Sandékala beunang Godi Suwarna. Ieu novél kungsi dilélér Hadiah D.K. Ardiwinata jeung Hadiah Sastra Rancagé 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu natrat dina éta novél téh tangtu lain sual cutatan kajadian jaman krisis ékonomi jeung reformasi. Sandékala jadi dokuméntasi paripolah jelema. Digambarkeunana dina suasana satir, sakapeung sari-sari karikatural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikep otoritér pamaréntah digambarkeun ngaliwatan tokoh camat jeung kuwu. Padahal, dina seuhseuhanana mah, ieu téh kritik ka sakur pamingpin nu boga paripolah sakama-kama. Bréh wéh dedegan pamingpin nu mawa karep sorangan, bari dibungbuan ku tradisi nu geus jadi kulit jadi daging: korupsi jeung kolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan korupsi tétéla henteu sirna ku datangna reformasi. Pasualan teu weléh aktual tur jadi gunem catur ti mangsa-mangsa. Ti dinya bisa kagambar, najan ieu novél nyutat kaayaan taun 1998, tapi dina enas-enasna masih kénéh aktual. Nya ti dinya pamianganana, pangna Wawan Sofyan saparakanca naratas pikeun nyieun adapatasi novél Sandékala dina wangun téater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Téater Sandékala baris dipintonkeun di Bandung jeung Jakarta. Nu ngagarapna, Wawan Sofyan, geus moal disaha-saha dina dunya téater mah. Dina sastra Sunda, méméhna Wawan kungsi nyieun monolog tina carpon “Oknum” karya Hadi AKS. Malah nepi ka dipintonkeun di Ustrali sagala rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung, téater Sandékala baris dipintonkeun di G.K. Rumentang Siang, tanggal 23-24 Méi 2008. Geus kitu miang ka Jakarta, tempatna di Graha Bakti Budaya (DKJ), 8-9 Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagelaran téater Sandékala meunang pangrojong ti Indonesian Corruption Watch, Mainteater, Perkumpulan Seni Indonesia, jeung WALHI. Keur ngeuyeubanana, baris aya diskusi publik deuih, tempatna di Gedung Indonésia Menggugat (Bandung) 22 Méi 2008, jeung di Galeri Cipta, TIM (Jakarta), dina bulan Juli 2008.***(Dan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: http://cupumanik.com/manik/seratan/sandekala-dina-teater/&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5381438218922540018?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5381438218922540018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5381438218922540018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5381438218922540018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5381438218922540018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/sandkala-dina-tater.html' title='Sandékala dina Téater'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4636715111055594581</id><published>2008-04-01T20:53:00.004+07:00</published><updated>2008-04-01T21:05:48.937+07:00</updated><title type='text'>Awalan:1 April 2008</title><content type='html'>Akhirnya... Bagi kami bukan kata akhir tapi penegasan sebuah awalan pementasan. Sambil sedikit &lt;em&gt;degdegan&lt;/em&gt;, proses awal telah terjadi hari ini. Dan tentunya hari ini bukan peringatan April Mop bagi kami sendiri. Ini fakta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu tim pementasan Sandekala telah melakukan pendekatan kepada berbagai pihak untuk bergabung bersama dalam sebuah tim kerja, baik sebagai &lt;em&gt;crew&lt;/em&gt; artistik maupun sebagai pemain. Sudah banyak yang tertarik untuk terlibat, bahkan memberi penegasan tertulis untuk bergabung. Ya, bagi kami ini merupakan awalan yang bagus untuk sebuah kerja bersama untuk saling mengerti dan berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore hari ini, tanggal 1 April 2008, sekitar 20 orang sudah berkumpul di sebuah tempat di Bandung. Tidak untuk kasak kusuk tapi membaca naskah sebagai pemahaman awal kira-kira bentuk pementasannya seperti apa. Sungguh wajar dan sepertinya keharusan bahwa pemaknaan terhadap sebuah naskah harus dilakukan secara teliti agar tidak melenceng dari alur yang diharapkan. Diskusi dan diskusi adalah kata kunci untuk mencerna baik setiap kalimat yang nantinya terlontar. Teater adalah dunia untuk berdialog, kalau pihak yang melontarkan kalimat tidak paham maka dialog tak akan mungkin terjadi dengan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak tahap-tahap yang harus kami lakukan agar pementasan ini berhasil. Keterbatasan bagi kami harus disiasati, tidak untuk diterima sebagai takdir yang nyelonong. Kami sadar bahwa masih ada keringat yang harus basah di tubuh kami, dan otak-otak kami masih harus bergerak untuk memecahkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat, semangat, semangat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4636715111055594581?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4636715111055594581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4636715111055594581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4636715111055594581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4636715111055594581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/04/awalan1-april-2008.html' title='Awalan:1 April 2008'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6851584180384170687</id><published>2008-03-31T18:58:00.004+07:00</published><updated>2008-03-31T19:10:16.914+07:00</updated><title type='text'>Godi Suwarna, "Saya Tinggalkan Dunia Hitam"</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_DUj3J3UMI/AAAAAAAAABI/TjstPReDDnc/s1600-h/godi+suwarna.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183876883669274818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_DUj3J3UMI/AAAAAAAAABI/TjstPReDDnc/s320/godi+suwarna.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Foto: Dudi Sugandi/"PR"/ Sumber Pikiran Rakyat, Minggu, 01 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hareupeun kelir: Kalangkang-kalangkang wayang/ kalangkang usik-usikan, kalangkang diobah-obah/ Ieu reundeuk reujeung igel, ieu tincak reujeung ketak/ pulang-anting, pulang-anting lebah dunya hideung bodas/ Dongeng naon nu rek midang? Dalang kawasa!/ Aya raga nu tumamprak sanggeus campala noroktok/ Sabot nungguan balebat, duh peuting ngajak ngalinjing/ Renghap ranjug, renghap ranjug samemeh ajal ngolebat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;PUISI di atas ditulis oleh penyair Godi Suwarna, penyair Sunda saat ini yang karya-karyanya tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga ke dalam bahasa Inggris dan Prancis. Selain dikenal sebagai penyair, Godi dikenal pula sebagai novelis dan juga cerpenis yang tangguh. Sejumlah karya yang ditulisnya dalam bahasa Sunda dinilai banyak kalangan kritikus sastra Sunda menghembuskan angin segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam percakapannya dengan "PR" dalam berbagai kesempatan, Godi mengatakan bahwa ia termasuk orang yang menyukai tembang Sunda cianjuran. "Tembang Sunda cianjuran, ya! Saya suka dengan lantunan tembang tersebut yang dibawakan oleh Ceu Euis Komariah dan Kang Dadang Sulaeman, almarhum. Kaset-kasetnya sering saya pinjam tanpa permisi dari koleksi Pak Popo yang sangat lengkap, dan tak pernah dikembalikan! Hehehe...Urang Sunda mah kudu ceurik mun ngadengekeun cianjuran, kata Kang Rustandi. Nah, kalau itu mah saya setuju! Malah, kalau ingin nyegruk abis mah gencet saja sekalian ibu jari sama meja! Hahaha...," ujar Godi sambil tertawa ngakak, yang setiap bersua saya panggil dirinya sebagai Kangjeng Adipati Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tembang Sunda cianjuran, Godi suka pula mengapresiasi kawih-kawih Mang Koko. "Saat di SD, kami sekeluarga selalu nongkrong di depan radio setiap Jumat sore, untuk mendengarkan acara Mang Koko. Saat itu, kawih-kawih Mang Koko memang digemari masyarakat, bahkan sampai ke kampung-kampung. Ada beberapa lagu yang rumpaka-nya dibuat oleh para penyair Sunda. Antara lain dibuat oleh Kang Dedy Windyagiri dengan Sariak Layung-nya. Sampai sekarang, saya masih hapal dan bisa menyanyikan beberapa kawih Mang Koko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tembang dan kawih ada pengaruhnya pada karya-karya saya. Kang Dodong Djiwapradja pernah berkata bahwa puisi-puisi dalam kumpulan puisi Jagat Alit banyak terpengaruh oleh rumpaka tembang. Sayang, saya tidak tahu persis seperti apa pengaruhnya, karena Kang Dodong urung memaparkannya dalam diskusi yang telah direncanakan saat itu," jelas Godi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan puisi di atas yang diberi judul "Jagat Alit" dipetik dari kumpulan puisi "Jagat Alit" yang ditulis oleh penyair Godi Suwarna. Di bawah ini kami sajikan petikan percakapan dengan penyair yang mengaku sudah meninggalkan dunia hitam menuju dunia putih. "Karena rambut saya sudah memutih, maka dunia hitam saya tinggalkan," katanya kembali tertawa ngakak.&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan Kang Godi tertarik menulis puisi berbahasa Sunda, yang kemudian disusul dengan menulis cerita pendek dan novel dalam bahasa Sunda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1976, ketika liburan semester di lembur, saya mencoba nulis puisi Sunda, dikirimkan ke majalah Mangle, di antaranya Surat keur Susi di Bandung. Puisi-puisi cikal itu ternyata mendapat tanggapan cukup baik dari sastrawan Sunda senior. Dulu, Kang Usep Romli HM pernah menulis bahwa puisi saya terpengaruh Sutarji. Padahal, sumpah, saya mah lebih merasa "berhati Kang Wahyu Wibisana" nan manis romantis! Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, saya deudeuieun nulis puisi Sunda, bukan karena bisa menggaet mojang Bandung yang bernama Susi itu. Hahaha...Bahasa Sunda ternyata lebih bisa menyalurkan perasaan saya dalam bersajak. Banyak kosa kata bahasa Sunda untuk menggambarkan rasa. Coba, cara berjalan saja dalam bahasa Sunda itu sangat bermacam-macam. Ngagandeuang, ngalenghoy, ngagedig dll. Selain itu, saya lebih bisa nabeuh bahasa Sunda ketimbang bahasa Indonesia. Bahasa Sunda itu bisa digalindengkeun dengan banyaknya kemungkinan kalau kita mau murwakanti. Pokoknya nikmat dech!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertantang untuk terus ngarang cerpen dan novel karena selalu dikritik habis oleh kang Rustandi Kartakusumah, yang katanya selalu a-absurd-an. Begitulah ia selalu mengomentari cerpen-cerpen awal saya. Padahal, dibanding karya beliau yang realis dan kebarat-baratan, justru cerpen sayalah yang paling nyunda di seantero cerpen Sunda. Hahaha...Karena selalu dikritik itu saya malah ngahajakeun ngarang cerpen yang dianggap minculak dalam sastra Sunda, dengan kredo: "Menolak Tradisi Bertolak dari Tradisi". Hag, siah, gagah, yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah makna puisi "Jagat Alit" bagi Kang Godi?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu puisi kesayangan Kakang, Yi Prabu Sukapura. Itu adalah puisi saya yang paling religius. Hehehe... Puisi itu lahir ketika saya masih ABG, lagi babadeurna!. Pemuda kampung berhati koboy ngumbara di Bandung. Mangprung, dech! Saat itu, saya selalu merasa tidak akan berumur panjang! Kematian paman saya yang masih muda sangat berbekas di hati. Sering mimpi ketemu dia di alam sana. Saya terus ngabarungsinang. Gelisah! "Jagat Alit" mungkin semacam pencerahan, ya? Dijadikan judul buku kumpulan sajak saya yang pertama. Sengaja ditaruh di awal, sebagai pembukaan, semacam fatihahna lah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketika kuliah Kang Godi masuk Jurusan Bahasa Indonesia, di IKIP Bandung. Nah, apakah sastra Indonesia memberikan pengaruh yang demikian besar pada proses kreatif Kang Godi dalam menulis puisi maupun cerita pendek?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada pengaruhnya. Tapi, saya tidak tahu sebesar dan seperti apa pengaruh sastra Indonesia pada proses kreatif saya. Yang jelas, saya memang banyak membaca karya-karya sastra Indonesia sejak masih di SD. Ayah saya kepala SMP di Panawangan, Ciamis. Perpustakaan sekolahnya cukup banyak mengoleksi karya sastra. Saya membaca "Siti Nurbaya," "Salah Asuhan" dll. Tapi, juga gemar membaca cerita silat Kho Ping Ho, semisal serial "Bu Kek Siansu," "Bhu Pun Su," sama khusuknya dengan melahap karya-karya sastra Indonesia. Terpaksa maling-maling karena ayah melarang saya membaca buku-buku seperti itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk IKIP, saya sangat terkesan dengan kumpulan cerpen "Godlob," karya Danarto. Luar biasa. Seperti ngabandungan dongeng aheng. Apalagi itu yang berjudul gambar jantung terpanah yang bedarah-darah. Tokohnya Rintrik. Kita diajak masuk ke dunia mimpi yang matak hookeun. Selalu terbayang-bayang latar dan suasananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca berulang-ulang "Priangan Si Jelita." Dikecemel sampai lecek! Kang Ramadhan itu hebat. Beliau menciptakan bahasa Indonesia yang sangat nyunda. Merdu namun bisa juga nyereset di hati. Saya membaca bundel majalah Horison lama dan Budaya Jaya koleksi Pak Popo Iskandar, membaca karya sastra maupun pemikirannya yang berkembang saat itu.&lt;br /&gt;Jadi, pengaruh mungkin bukan saja dari Indonesia yang nyastra, tapi mungkin juga dari cerita silat, cerita ditektip, komik, petualangan dll. Sampai sekarang, kalau membaca saya tidak pernah pilih-pilih yang sastra atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Daya dorong apakah yang membuat Kang Godi tetap bersikukuh menulis karya sastra berbahasa Sunda dan bukan karya sastra berbahasa Indonesia?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang waktu muda selalu merasa sedang sakarat, ternyata berjodoh dengan bahasa Sunda yang juga sering dinyatakan sedang sakarat awal. Nah, siapa tahu nanti saya jadi bujangga terakhir macam Ronggo Warsito itu. Haha...Bahasa Sunda itu, pasti juga bahasa-bahasa ibu lainnya, memiliki bahan yang tidak terbatas untuk diutak-atik menjadi bahasa sastra. Saya terus mencoba menggali berbagai kemungkinan dari kelebihan bahasa Sunda dibanding bahasa Indonesia. Misalnya, memaksimalkan undak usuk basa, atau bahkan mencampur aduknya sekalian. Itu mengasyikan. Akhirnya, saya lebih fasih dan sangat nikmat menulis dalam bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika saya membaca puisi di acara-acara pertemuan penyair internasional di Bandung dan Jakarta, ternyata sambutan peserta sangat baik. Menyenangkan bisa membuat penyair-penyair bule itu saregep menyimak sajak Sunda. Ternyata, kita tidak kalah sama sastra lainnya. Tapi ketang, mungkin mereka mah cuma kasima sama penampilan saya yang sed saeutik ti dukun teluh! Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapakah sastrawan Sunda, Indonesia, dan juga sastrawan Barat maupun Timur yang memberikan pengaruh kepada Kang Godi?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil saya memang mengagumi Kang Wahyu Wibisana. Saat di SD saya membaca carpon beliau yang berjudul "Dehem" sampai ngaceng! Hahaha...Tapi, saya tidak tahu apakah ada pengaruh beliau dalam karya-karya saya. Coba diselidik saja, ya? Yang jelas, setelah saya kenal dekat, beliau sering ngagebrag saya supaya lebih gorejag. Mun geus ancrub kudu daek bobolokot, itu piwuruk beliau. Jadi, pengaruhnya mungkin lebih kepada sikap dalam berkesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu siapa sastrawan Indonesia, Barat atau Timur yang mempengaruhi saya. Tapi, saya senang dan berulang-ulang membaca novel "Taman Kate-Kate" karya Maria Dermout, yang lebih aheng ketimbang karya-karya Gabriel Garcia Marquez. Terasa lebih dekat di hati, tidak nun jauh di Amerika Latin sana! Sewaktu muda, pernah mencoba-coba menulis lirik seperti "Tukang Kebun"-nya Rabindranath Tagore. Tapi teu kataekan! Jadinya malah ngagerebeg dalam kumpulan sajak "Blues Kere Lauk." Haha... (Soni Farid Maulana/"PR") ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6851584180384170687?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6851584180384170687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6851584180384170687' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6851584180384170687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6851584180384170687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/godi-suwarna-saya-tinggalkan-dunia.html' title='Godi Suwarna, &quot;Saya Tinggalkan Dunia Hitam&quot;'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z45Db59mfIM/R_DUj3J3UMI/AAAAAAAAABI/TjstPReDDnc/s72-c/godi+suwarna.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-4506935327371128074</id><published>2008-03-27T19:20:00.000+07:00</published><updated>2008-03-27T19:22:54.360+07:00</updated><title type='text'>Godi Suwarna Kembali Terima Hadiah Rancage 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.beritacerbon.com/"&gt;www.beritacerbon.com&lt;/a&gt; - Teguh Raharjo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG : Sastrawan Sunda Godi Suwarna kembali mendapatkan penghargaan sastra tertinggi untuk jenis sastra yang menggunakan bahasa ibu. Godi Suwarna dinobatkan sebagai peraih hadiah Rancage 2008 atas karyanya Sandékala dengan Saéni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandékala merupakan sebuah roman karya Godi Suwarna yang diterbitkan oleh penerbit Kelir, Bandung. Godi Suwarna akan menerima hadiah piagam dan uang Rp5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hadiah ini, Godi menjadi sastrawan Sunda yang pernah meraih tiga kali Hadiah Rancagé, semuanya untuk karya, yaitu tahun 1993 untuk kumpulan sajaknya Blues Kéré Lauk dan tahun 1996 untuk kumpulan cerita péndéknya Serat Sarwasatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godi dalam Sandékala, menggunakan sebutan orang pertama “uing” (dari “kuring”, digunakan di lingkungan akrab di pedésaan) dan bahasa dialék Ciamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ada tiga orang sasterawan yang telah mendapat Hadiah Sastera Rancagé tiga kali. Yaitu sasterawan Jawa Suparto Brata, yaitu tahun 2000 (untuk jasa), 2001 (untuk karya kumpulan cerpén Trém) dan 2005 (untuk karya roman Donyané Wong Culika). Dan yang seorang lagi ialah sasterawan Bali I Nyoman Manda yang tahun ini mendapat hadiah lagi untuk karya. Sebelumnya dia mendapat hadiah untuk jasa (1998) dan untuk karya (2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan Rancage 2008 siberikan melalui penilaian terhadap sastra berbahasa Sunda yang terbit selama 2007 sebanyak 32 judul buku. Penilaian tersebut tidak termasuk buku-buku pelajaran berbahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Yayasan Rancage Ajip Rosidi mengatakan secara garis besar yang bisa dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah Rancagé 2008 terdiri dari 3 kumpulan sajak, 6 roman, 4 kumpulan cerita péndék dan 3 uraian tentang pengalaman di kampung, pengalaman naik haji dan utaian tentang pentingnya memelihara hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah ditetapkan, buku cetak ulang, kumpulan karya bersama dan karya Ajip Rosidi tidak dinilai untuk mendapat hadiah Rancagé.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada hal yang menarik dalam karya-karya fiksi yang terbit tahun 2007 itu, terutama karya Hadi AKS, Itto Margawaluya dan Godi Suwarna yaitu bahwa meréka seperti bersepakat menuliskan kehidupan daérah asalnya dengan mempergunakan bahasa lokal pula,” katanya. (BC-111)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-4506935327371128074?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/4506935327371128074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=4506935327371128074' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4506935327371128074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/4506935327371128074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/godi-suwarna-kembali-terima-hadiah.html' title='Godi Suwarna Kembali Terima Hadiah Rancage 2008'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-2643981471256693952</id><published>2008-03-27T18:50:00.001+07:00</published><updated>2008-04-30T15:45:07.754+07:00</updated><title type='text'>Sekilas Penulis dan Sutradara Sandekala</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 153, 102);"&gt;GODI SUWARNA, penulis novel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Tasik, menetap di Ciamis. Mulai mengarang puisi dan prosa dalam bahasa Sunda sejak tahun 1976 sampai sekarang. Sajak, cerpen, dan naskah novelnya telah memenangkan beberapa kali penghargaan karya sastra dari LBSS, Hadiah Sastra Rancage, Hadiah Sastra DK Ardiwinata, dan Hadiah Sastra Oeton Moechtar. Selain mengarang, juga suka bermain drama sejak kecil. Saat kuliah mendirikan Teater IKP Bandung. Bermain di Studiklub Teater Bandung, mengikuti Utan Kayu International Literary Bienale, dan International Poetry Festival Indonesia. Sejak tahun 1998 mengagagas acara nyiar lumar, berupa pergelaran kesenian semalam suntuk di Hutan Keramat, Astana Gede, Kawali, peninggalan Kerajaan Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 102);"&gt;WAWAN SOFWAN, sutradara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Panjalu, 17 Oktober 1965. Lulusan Jurusan Pendidikan Kimia IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia) mulai aktif di dunia teater tahun 1985 di Teater IKIP Bandung, kemudian di STB sejak tahun 1988. Pentas dalam lakon-lakon antara lain: Impian di Tengah Musin, Don Carlos, Tembok Besar, Julius Caesar, dll. 1994 mendirikan mainteaterbandung. 1999-2000 berpartisipasi dalam berbagai festival di Melbourne dan forum Internasional pekerja teater dan workshop Commedia del Arte di Berlin (2000). Sejak tahun 1999 menyutradarai: Art, Disco Pigs, God is a Dj, Faust I, Opera La Boheme, Saudagar Venesia, Musical HONK, musical “Marry Did You Know”, Fashion Performance, Opera “Mozart”, Kehidupan di Teater, dan Nyai Ontosoroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monolog-monolognya (Dam, Oknum, Zarathustra, Fragmen Faust, Happy 1000…1000 Bahagia, Laporan untuk akademi, Indonesia Menggugat,Pidato 1 Juni Bung Karno, Kontrabass) dipentaskan di beberapa kota di Indonesia, Malaysia, Australia, Rusia, Jerman dan Belanda. Mendapat beasiswa dari International Theater Institut Germany untuk magang di kelompok Musical Triebwerk Theater-Hamburg. Dosen tamu di University Malaya-Kuala Lumpur (KL) dan Sutradara Tamu di Sumunda Theater Company-KL. Saat ini aktif sebagai perancang pertunjukan; sutradara teater, musical, opera, dan pengajar akting.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-2643981471256693952?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/2643981471256693952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=2643981471256693952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2643981471256693952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/2643981471256693952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/sekilas-penulis-dan-sutradara-sandekala.html' title='Sekilas Penulis dan Sutradara Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7070310681238523387</id><published>2008-03-26T18:22:00.000+07:00</published><updated>2008-03-26T18:27:33.190+07:00</updated><title type='text'>Sasaran Penonton Teater Sandekala</title><content type='html'>Jumlah penonton yang akan datang selama 2 hari berturut-turut di Bandung (sehari 2 kali pentas) tidak kurang dari 1.600 penonton sedangkan di Jakarta 1.500 penonton (3 kali pentas). Mereka berasal dari kalangan pelajar SMA, mahasiswa, kaum muda, para politisi, kelompok professional, anggota DPR, dan masyarakat umum lainnya termasuk komunitas Sunda di Jakarta dan sekitarnya. Selain penonton yang datang langsung, kami menargetkan pertunjukan ini bisa diulas di berbagai media cetak maupun elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai medium kampanye, kami akan mengundang beberapa SMA yang potensial untuk bekerjasama dalam kampanye ini. Tema anti korupsi, lingkungan dan pelanggaran HAM sebetulnya merupakan wacana sehari-hari yang sering dimuat dalam media, namun kami mengambil bentuk lain agar ada pendekatan tersendiri yang (mungkin) lebih efektif. Kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pementasan tidak hanya berakhir di atas pentas semata, namun akan direkam dalam format VCD/DVD yang selanjutnya diedarkan secara gratis untuk memperluas jangkauan kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan dari banyak pihak tentunya akan mempermudah pelaksanaan kampanye ini, tentu dengan berbagai catatan bahwa tidak ada kepentingan yang bertolak belakang dengan tema yang digulirkan. Semakin banyak dukungan akan membuat pementasan ini semakin mudah diakses kelompok yang selama ini jarang bersinggungan dengan tontonan yang digelar di gedung gedung pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami, kampanye seharusnya murah, langsung mengena dan meninggalkan kesan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7070310681238523387?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7070310681238523387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7070310681238523387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7070310681238523387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7070310681238523387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/sasaran-penonton-teater-sandekala.html' title='Sasaran Penonton Teater Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-5641064240662087553</id><published>2008-03-26T18:14:00.001+07:00</published><updated>2008-03-26T18:19:07.935+07:00</updated><title type='text'>Sekilas Cerita Sandekala</title><content type='html'>Pementasan teater ini berkisah tentang seorang Camat yang korup yang memerintah dengan tangan besi. Ada kuwu yang dimarahi habis-habisan karena melaporkan wabah demam berdarah kepada wartawan sehingga Camat tersebut ditegur oleh Bupati. Melakukan kolusi dengan kontraktor pembangunan gedung olah raga, pasar, dan lain-lain. Sang Camat menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota padahal tempat tersebut dekat sekali dengan mesjid agung, sekolah dan rumah sakit. Dan yang paling menyakitkan adalah Camat berani menebang pohon dari tempat keramat yang selama ini sangat dilindungi oleh masyarakat. Mulailah terjadi krisis kepercayaan yang membuat masyarakat mulai gerah. Masyarakat kian berani mengajukan protes atas tindak tanduk Camat tersebut namun protes itu tak ditanggapi. Malahan salah satu tokoh masyarakat yang sangat vokal, diculik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang putri camat, yang kebetulan mahasiswa, pro pada para penentang ayahnya. Dia yang selalu membocorkan rapat-rapat muspika di rumahnya kepada teman-temannya sehingga penculikan yang lebih banyak bisa dihindari. Para pimpinan demostran bersembunyi di sebuah tempat keramat dan menyusun kembali strategi untuk demonstrasi yang akan melibatkan banyak elemen. Esok harinya di kota Kawali terjadi demonstrasi besar besaran. Awalnya unjuk rasa terkendali tapi tiba-tiba jadi tidak terkontrol dan cenderung anarkis: kantor polisi dibakar, koramil dimusnahkan, pasar diserbu dan dijarah, kantor camat dihancurkan. Kota Kawali luluh lantak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diselidiki ternyata ada sekelompok orang yang sangat brutal, padahal kelompok tersebut bukan berasal dari daerah itu. Bupati sebagai atasan Camat langsung menurunkan petugas. Para pimpinan demonstran dicari dan dikejar. Mereka lari dan sembunyi di tempat keramat. Saat Subuh, melalui serangan fajar, para demonstran yang sembunyi tersebut dibinasakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-5641064240662087553?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/5641064240662087553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=5641064240662087553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5641064240662087553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/5641064240662087553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/sekilas-cerita-sandekala.html' title='Sekilas Cerita Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-1488011274836260690</id><published>2008-03-26T18:07:00.000+07:00</published><updated>2008-03-26T18:09:52.560+07:00</updated><title type='text'>Kegiatan di Pementasan Sandekala</title><content type='html'>Kegiatan ini akan dikemas dalam sebuah rangkaian kegiatan yang meliputi pementasan dan diskusi publik. Berikut penjelasan secara rinci masing-masing kegiatan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Pementasan teater Sandekala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lokasi pementasan teater Sandekala selain di Bandung dengan menggunakan Bahasa Sunda juga akan dilakukan di Jakarta dengan menggunakan Bahasa Sunda dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Diskusi Publik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agar pementasan Sandekala tidak hanya mengedepankan estetika semata, maka serangkaian kegiatan juga menggelar diskusi-dikusi publik. Ada dua diskusi publik yang akan dilaksanakan dengan tema diskusi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Relevansi seni budaya dalam gerakan anti korupsi&lt;/strong&gt;. Relevankah teater dijadikan medium kampanye yang dapat dipakai sebagai motivasi untuk perjuangan gerakan anti korupsi khususnya, dan penyadaran politik masyarakat pada umumnya? Disini dapat diperdebatkan bagaimana efektivitas kegiatan seni budaya, khususnya seni peran (teater) sebagai media informasi dan komunikasi publik, sekaligus sebagai media pendidikan; serta seberapa jauh peran yang dapat diambil oleh para pegiat seni budaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam konteks ini khususnya menggagas inisiatif kesadaran dan perlawanan rakyat menghadapi korupsi yang mengakar dalam birokrasi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Refleksi 10 Tahun Reformasi: Korupsi Sebagai Akar&lt;/strong&gt;. Diskusi ini akan memperbincangkan pembelajaran 10 tahun terakhir perang melawan korupsi. Banyak kasus yang sudah diproses oleh penegak hukum, namun tak sedikit juga yang masih terlewatkan begitu saja. Alih-alih memberi efek jera dari jatuhnya hukuman, ternyata masalah korupsi tidak juga terselesaikan, bahkan korupsi semakin merajalela dari atas hingga ke pelosok desa. Bagaimana pegiat anti korupsi menyikapi persoalan ini dan strategi apa yang dirasa tepat untuk diterapkan dalam penyelesaian masalah korupsi.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-1488011274836260690?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/1488011274836260690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=1488011274836260690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1488011274836260690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/1488011274836260690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/kegiatan-di-pementasan-sandekala.html' title='Kegiatan di Pementasan Sandekala'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7311716096151452721</id><published>2008-03-26T18:03:00.000+07:00</published><updated>2008-03-26T18:05:54.152+07:00</updated><title type='text'>Teater Sebagai Medium</title><content type='html'>Pada satu sisi, pementasan teater memiliki fungsi sebagai cermin dari sebuah situasi masyarakat di mana teater itu tinggal. Dalam setiap pementasannya, setiap orang akan bercermin pada apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Dengan begitu maka teater tidak akan kehilangan daya kritisnya dalam menanggapi kondisi zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi fungsi di atas maka pemilihan naskah sangat menentukan. Ada berbagai macam naskah teater, mulai yang klasik para pengarang luar negeri dan dalam negeri mulai yang klasik sampai modern. Tapi kadang naskah tersebut sudah ketinggalan zaman. Atau kalaupun dipentaskan mesti melalui sebuah penafsiran. Ada kesan dipaksakan supaya tetap kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka diperlukan berbagai macam upaya dalam mengadakan naskah teater tersebut. Salah satu diantaranya adalah mengadaptasi dari sebuah novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dalam pementasan ini mengambil sebuah novel berbahasa Sunda Sandekala (Sandyakala), karya Godi Suwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan mengapa kami mengambil novel ini sebagai bahan untuk adaptasi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Novel ini mengambil setting peristiwa Mei 1998. Sebuah peristiwa yang sulit dilupakan oleh rakyat Indonesia: demonstrasi besar-besaran. Tumbangnya kekuasaaan orde baru, lengsernya Soeharto dan pergantian presiden yang 30 tahun lebih tak pernah terjadi. Peristiwa yang sangat mengharubirukan anak bangsa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meskipun setting peristiwa di sebuah kota kecamatan yang jauh dari pusat kekuasaan, tapi di situ tergambarkan bahwa apa yang terjadi saat itu di Jakarta ,mengimbas juga ke daerah-daerah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Novel ini telah memenangkan lomba sastra daeng kanduruan Ardiwinata penulisan novel oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda 1998 dan Hadiah Sastra Rancage 2008. Dengan begitu kualitas novel ini tidak diragukan lagi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7311716096151452721?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7311716096151452721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7311716096151452721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7311716096151452721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7311716096151452721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/teater-sebagai-medium.html' title='Teater Sebagai Medium'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-7327234813967081045</id><published>2008-03-25T21:16:00.000+07:00</published><updated>2008-03-25T21:21:16.247+07:00</updated><title type='text'>Sandekala Akan Dipentaskan</title><content type='html'>Korupsi. Sebuah perbendaharaan kata yang tak asing bagi Indonesia. Sebuah kata yang cukup menyengat telinga kita dalam kehidupan sehari-hari dan sering ditemukan di ruang privat dan publik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak reformasi 1998, penyakit ini semakin membahana di seluruh Indonesia dan menjadi sorotan dunia internasional. Demonstrasi yang mendengungkan tuntutan terhadap penyelesaian kasus ini sudah tak lagi terhitung mulai dari depan balai desa hingga depan Istana Negara. Penyakit ini sungguh kronis dan mewabah ke banyak kalangan, bahkan melindas kelompok yang sesungguhnya menjadi garda terdepan negara dalam penyelesaian kasus-kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, korupsi tidak pernah berdiri sendiri. korupsi di negara ini seringkali bukan sekedar menjadi dampak dari kontrol birokrasi yang lemah, melainkan sebagai akar masalah. Berbagai tragedi politik dan pelanggaran hak asasi manusia terjadi berawal dari sebuah kasus korupsi. Rezim Soeharto misalnya, mempertahankan kekuasaan yang korup dengan berbagai cara, termasuk melanggar hak-hak dasar warga negara, diantaranya agar kepentingan ekonomi dan politik rezim terjaga. Yang terjadi kemudian di Indonesia bukan sekedar aplikasi dari pemeo “power tends to corrupt” melainkan “corrupt to get and maintain power”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 10 tahun reformasi bergulir. Sudah banyak nyawa yang hilang diterjang peluru, bahkan beberapa yang diculik tak pernah kembali. Darah sudah membasahi negeri ini bersama air mata orang-orang yang ditinggal pergi para pejuang reformasi. Adakah perubahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pementasan ini kami menggunakan bahasa Sunda, selain bahasa Indonesia, sebagai upaya menghidupkan kembali budaya lokal yang selama ini dipinggirkan. Naskah Sandekala ini merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Godi Suwarna. Sebuah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah kota kecil, Kawali. Novel yang ditulis asli dalam Bahasa Sunda itu memperoleh penghargaan sastra Rancage 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-7327234813967081045?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/7327234813967081045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=7327234813967081045' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7327234813967081045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/7327234813967081045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/sandekala-akan-dipentaskan.html' title='Sandekala Akan Dipentaskan'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-166768064378484827.post-6074995723879516837</id><published>2008-03-17T22:33:00.000+07:00</published><updated>2008-07-31T22:34:08.758+07:00</updated><title type='text'>Godi Suwarna: Loyal guard of Sundanese heritage</title><content type='html'>From the long white hair to the sarong-style trousers and leather sandals from the West Java town of Garut, everything about Godi Suwarna says “artist”.But the Sundanese writer does not care what people think. He believes in his choice to become an artist, a decision many people find hard to accept.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a writing career spanning more than three decades, perhaps Godi’s greatest achievement has been winning the Rancage Literary Award three times.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He received the prize most recently earlier this year for his novel Sandekala, which deals with the reform movement. To launch his social criticism of the reform movement in his village, he drew a lot of inspiration from the Pandawa characters in the epic Mahabharata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His other winning works were an anthology of poems, Blues Kere Lauk, in 1993 and a collection of short stories, Serat Serasatwa, in 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most of Godi’s work is written in Sundanese, although as a student he often wrote in Indonesian, including some stories published in the Sunday edition of Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Writing in Sundanese is really satisfying for me,” he says. “It has a much richer vocabulary for feelings than Indonesian does. For a writer, the vocabulary is like your ammunition store.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But then, traditional Sundanese art and culture are in his blood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Born on May 23, 1956, Godi spent his childhood in the hamlet of Cirikip, in Panawangan, Ciamis, more than 150 kilometers east of Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His parents were both junior high school teachers, his father of drawing and his mother vocational skills.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His mother is also a singer of traditional songs from Cianjur, while his father plays kecapi, a traditional Sundanese string instrument.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Growing up on a diet of Sundanese songs, Godi liked reading Sundanese stories and literature. His parents, who subscribed to the Sundanese weekly Mangle, also read him bedtime stories as a boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His love for Sundanese culture grew stronger when, after 1965, he began listening to poetry set to music on the family’s old radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He remembers listening to Mang Koko, who played kecapi and read poems written by Wahyu Wibisana and Dedi Indragiri. The program, broadcast by RRI state radio every Friday evening, appealed to many other local people also.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It made a big impression on me because the poetry reading was accompanied by the kecapi in a way that deeply touched the soul,” Godi says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not a single day during his childhood passed without him experiencing some form of Sundanese arts and culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Godi was in junior high school, his uncle, Mang Dedi, sent him to Kondang Kampong Children community classes in Cinyasag, Ciamis, to hone his acting skills.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He continued his studies at Pasundan high school in Tasikmalaya, a larger town where he could express his youthful artistic feelings by singing rock songs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We spent the night singing very loudly at crossroads. But then I began to write poems when I got home,” Godi says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He wrote dozens of poems in longhand — he still feels “stupid” when it comes to computers — which he has never published.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He later studied Indonesian literature at the Indonesian University of Education in Bandung. There he found a strong literary community that encouraged him to explore his creativity. He performed plays and wrote a lot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I sent ‘Surat keur Susi’ (A Letter for Susi) to Mangle and it was published. After that, many Sundanese literary men began to appreciate my work,” Godi says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The appreciation moved Godi to identify himself as a writer. He published his first anthology of Sundanese poems, Jagat Alit (Small World), in 1978. Godi says he wrote the work after meeting his uncle, who died young, in a dream. His other anthologies of poems are Jaka Tarib (1978) and Surat-surat Kaliwat (1982).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godi later turned his hand to short stories and published his first collection, Murang Maring, in 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After graduating from university in 1983, he tried teaching, but it clashed with his free soul. He lasted three months as a teacher at a junior high school in Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I could not stand the routine in facing the students,” he says. “Fortunately, I was transferred to the art department in the Education Agency.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not long afterward, Godi took a break from writing when he became involved in the theater after director Wawan S Husin asked him to join Bandung Theater Study Club.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I enjoyed being on stage … and between 1985 and 1990 I hardly wrote anything,” he says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally he decided to return to the literary world and moved to his parents’ house in Panawangan, Ciamis, in 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his hometown he started to write again and developed Sundanese theater there, especially after he married a dancer in 1991. He has four children, Denisa, 28, Rengganis, 24, Galia, 15, and Welas, 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I feel I became more productive after moving to Ciamis,” he says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For Godi, money is not important.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“As Acep Zamzam Noor (a young Sundanese artist) puts it, it is not the Sundanese literature that feeds me, but me who feeds the literature. I am a civil servant, so I can survive if I lead a modest lifestyle,” he says, laughing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He donates the fees he received from publishing his works — he says he receives Rp 50,000 for poems and Rp 100,000 for short stories — to Sundanese publications, Mangle, Cupumanik and Galura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If you publish a book, you can cover the production costs, but it’s hard to get rich,” he says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Ciamis he has advanced many ideas for preserving Sundanese arts and culture. Every year since 1998, he has organized Nyiar Lumar, a night-long talent show. The shows are held in Astana Gede Kawali, Ciamis, the jungle that was once the site of the Galuh Kingdom, and features Sundanese dances, poems and plays.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, the local youth do not seem to share his love of traditional arts and culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most of them, he says, forget about Sundanese arts and culture when they move to a big city to study.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“After studying in the city, they don’t explore their talent because the situation is different. They have so many choices. Some may continue to pursue it, but only very few,” he says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This does not deter Godi from his passion for preserving Sundanese art. Instead, he feels challenged to guard his traditional heritage and is determined to work even harder to encourage young people to be proud of their Sundanese traditions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–Yuli Tri Suwarni ,  The Jakarta Post&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2008/03/17/godi-suwarna-loyal-guard-sundanese-heritage.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/166768064378484827-6074995723879516837?l=teater-sandekala.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/feeds/6074995723879516837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=166768064378484827&amp;postID=6074995723879516837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6074995723879516837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/166768064378484827/posts/default/6074995723879516837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teater-sandekala.blogspot.com/2008/03/godi-suwarna-loyal-guard-of-sundanese.html' title='Godi Suwarna: Loyal guard of Sundanese heritage'/><author><name>Pementasan Teater Sandekala</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03736309164485336739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Z45Db59mfIM/R-oqoXJ3UII/AAAAAAAAAAg/4D71q4FeFuI/S220/buku_sandekala.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
