Teater Sandekala

Pementasan Teater Sandekala ini merupakan adaptasi Roman Sunda "Sandekala" Karya Godi Suwarna,
Pemenang Penghargaan Sastra Sunda Rancage 2008
24 Desember 2008
Opini Auditor Terhadap Pengelolaan Keuangan Sandekala

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

LAPORAN No. DSS-0208

PEMENTASAN TEATER SANDEKALA



Kami telah mengaudit Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas PEMENTASAN TEATER SANDEKALA untuk periode 3 (tiga) bulan yang berakhir pada 16 Agustus 2008. Laporan ini merupakan tanggung jawab Tim Produksi. Tanggung jawab kami adalah terletak pada pernyataan pendapat atas laporan ini berdasar audit yang kami lakukan.

Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas bebas dari salah saji yang material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas. Audit juga meliputi penilaian atas Prinsip Akuntansi yang digunakan oleh PEMENTASAN TEATER SANDEKALA, serta penilaian terhadap penyajian Laporan dan Penerimaan Kas secara keseluruah. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang meyakinkan untuk menyatakan pendapat.

Seperti dijelaskan pada Catatan Atas Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas, Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas ini disusun, dan tidak dimaksudkan sebagai penyajian sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Menurut pendapat kami, Laporan dan Penerimaan Kas yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, penerimaan dan pengeluaran kas PEMENTASAN TEATER SANDEKALA yang dikelola oleh TIM PRODUKSI untuk periode 3 (bulan) yang berakhir pada 16 Agustus 2008 sesuai dengan Standar Akuntansi yang dijelaskan dalam Catatan Atas Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Kas.




PARTHIWA
Management Consultant Bureau

TTD

Daniel S. Stephanus, S.E., M.M., M.S.A., Ak.
No. Register D-14.625


23 Desember 2008
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 9:42 PM;
ada 0 komentar
15 Agustus 2008
Bubar Tidak Berarti Selesai!

Akhirnya setelah berproses bersama selama beberapa bulan, pada tanggal 13 Agustus pukul 15.38 tim Sandekala dibubarkan secara resmi. Namun demikian, tugas-tugas pelaporan dan keuangan akan tetap berlanjut hingga ada persetujuan dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan tersebut.

Untuk tetap menjaga spririt dan kebersamaan, dalam waktu dekat seluruh anggota tim Sandekala di Bandung akan mengikuti workshop sehari tentang anti korupsi, lingkungan dan HAM. Workshop tersebut akan difasilitasi oleh IWC, WALHI dan ELSAM. Hal ini semata-mata untuk lebih membumikan isu tersebut dalam kehidupan sehari-hari seluruh anggota tim yang terlibat.

Setiap awal selalu ada akhir, namun tidak pernah selesai berjuang!
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 2:06 PM;
ada 0 komentar
11 Agustus 2008
Kata Mereka Soal Sandekala

Berikut ini adalah kutipan pendapat para penonton baik di Jakarta dan Bandung. Ada beberapa penyuntingan yang kami lakukan namun tidak merubah maksudnya. Data diperoleh dari blog, koran maupun sms yang masuk. Komentar berasal dari berbagai kalangan mulai umur 11 hingga 71 tahun.


“Pertunjukannya menghibur, seru!!” (Nurjanah - Guru SMP di Sumedang).

“Korupsi yang populer dan masif di zaman kini, dalam Sandekala tergelar penuh mistis dan simbolis. Tak ada slogan verbal, namun mampukah kita melakukan katarsis ketika korupsi itu melarut dalam darah dan menyerat di daging bangsa kita sendiri?” (Sumiyadi - Dosen Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indoesia).

“Selamat, selamat, saya suka pementasannya, semoga di Jakarta akan lebih hebat lagi, selamat!!” (Henny - anggota Panguyuban Panglawungan Sastra Sunda).

“Saya nonton hari kedua, selamat, saya suka pertunjukannya” (Yani Aman - karyawan Selasar Sunaryo Art Space).

“Sukses terus, ok!!!!” (Puspa - Guru Sekolah Dasar dan PGSD di Cimahi).

“Pasti tidak mudah menjadikan novel menjadi pementasan yang berdurasi pendek dengan ruang yang terbatas sehingga mungkin banyak detil-detil yang harus dikorbankan, akan tetapi pilihan-pilihan yang diambil untuk pementasan–secara umum–berhasil mengangkat gagasan yang saya tangkap dari novelnya yang saya tuntaskan pembacaannya karena menyaksikan pementasan di malam kedua. Mudah-mudahan saya berkesempatan menyaksikan versi Indonesianya. Wilujeng.” (Safrina Noorman - Dosen Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia).

“Sandekala berhasil mentransfer berbagai peristiwa dan gerak imajinatif dalam teks sumbernya, yakni sebuah novel ke peristiwa dan gerak visual di atas panggung. Ini berarti dua hal: 1) secara estetis ia membuat teks sastra menjadi lebih kaya dan 2) secara tematis ia lebih mengkonkretkan gagasan yang hendak dibangunnya. Walhasil, terkait dengan seni peran dalam memberantas korupsi–di mana korupsi menjadi subtema novel juga–, pementasan teater Sandekala memperlihatkan bahwa seni memiliki fungsi dan peran signifikan dalam soal itu.” (Acep Iwan Saidi - Dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung).

“Transformasi teks dari naskah drama ke pertunjukan kurang pas sehingga efeknya kepada pola permainan aktor secara keseluruhan. Efek lampu yang dihadirkan terlalu berlebihan, memiliki kecenderungan efek disko sehingga kurang memiliki korelasi dengan grand tema pertunjukan. Is-isu yang dihadirkan dalam pementasan tidak mengena kepada penonton. Aktor kurang bisa bermain dengan baik (Bagus, Dewi, Bu Camat, Tisna). Beberapa yang tampak rileks bermain (Kuncen, Wa Ahmad, Camat, Pandu, Dadang). Tokoh Otong terlalu berlebihan dari segi kostum karena dengan perilaku yang 'aneh' memang sudah dapat diterka bahwa karakternya gila.” (Mohamad Sunjaya - aktor senior, 71 tahun).

“Pertunjukan tersebut betul-betul memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga. Pokoknya saya tidak menyesal, karena secara tidak langsung pertunjukan tersebut telah memberikan inspirasi bagi saya saat mengikuti lomba baca puisi "Patriotisme" yang diselenggarakan Balai Bahasa Bandung pada 27 Mei 2008. Walaupun hanya mampu meraih peringkat 3 untuk tingkat SD/MI se-Bandung Raya, tapi saya puas dan bangga, karena jumlah pesertanya lebih dari 90 orang. Apalagi saya satu-satunya dari SD Pertiwi, tempat saya sekolah, yang berhasil meraih juara.” (Elgiani Yasiffa Y.N. - siswa kelas 5 SD Pertiwi Bandung)

“Persiapan yang dilakukan benar-benar matang sehingga mereka bisa memberikan pertunjukan yang maksimal bagi kami semua. Buat pengarang naskah atau novel salut banget. 4 jempol teracung untuk Godi Suwarna karena ceritanya benar-benar jelas sasarannya, realisik, dan lengkap dari segi horor, humor, percintaan, politik, ekonomi, perjuangan, pokoknya komplit ada di sini...HEBAT” (Steffianti Gunawan - pelajar SMA di Jakarta)

“Semangat! Keep hoping and keep trying to fight the corruption!” (Nana – pelajar SMA di Jakarta)

“Ceritanya sih pretty much about INDONESIA. masalah korupsi dibahas trus juga kemiskinan juga dibahas. settingnya tuh kerusuhan mei 98. Dan yang gw suka tuh semua genre tuh bener-bener komplit dari petualangan, horror, komedi, percintaan, thriller, folk, family, nasionalisme, dll. Gilaaaakkk keren. Gw nggak ngantuk loh. Padahal biasanya kalo nonton teater gw suka bermimpi mendenger gw mendengkur alias ketiduran (kecuali kalo musical, gw terlalu suka sama musical). dan walopun ada beberapa part yang gw bingung, tp overall dari range 1-10 gw berani kasih 8,5. Plokplokk” (Gracia Prita Anindita – pelajar SMA dan pemain teater sekolah di Jakarta).

“Dari segi cerita, lakon ini terasa sangat pas dengan momentum dimana kasus korupsi di Indonesia semakin banyak yang terkuak, dan semoga ini menjadi penyemangat buat KPK untuk lebih menunjukkan taringnya dalam memberangus pelaku-pelaku korupsi.” (Jimmy – Jakarta)

“Selamat, bagus Kang!” (Ir. Lili Mulyatna-Dosen Universitas Pasundan)

“Pementasan tadi malam asyik, kuncen harus diolah lagi nyanyinya. Komentar dan respon penonton bagus sekali, tapi rata-rata terganggu nyanyian Kang Moel” (Godi Suwarna - penulis novel Sandekala)

“Pementasan sandekala bagus, interpretasinya tepat” (Etti RS-pegawai Diparda, seniman)

“Congratulation, bagus banget pertunjukkannya. Siapa dulu dong
produser dan sutradaranya...” (Samuel Rizal – artis film)

“Congrotulation! Nice pergormance” (Agus Sarjono - sastrawan)

“Nuansa gaibnya kena, membuat merinding, tapi terganggu oleh sound yang tak seimbang” (Willem – Tikar Event Organizer)
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 5:29 PM;
ada 0 komentar
06 Agustus 2008
Suara Antikorupsi Lewat Panggung Teater




foto oleh Abimanyu

Sedih. Jangankan mau membeli tiket pementas-an. Untuk menonton pentas teater Sandekala Sunda dengan gratis saja mereka tidak mau datang. Pentas Sandekala dalam bahasa Indonesia sehari sebelumnya malah dipenuhi penonton yang rela membeli tiket. Ini hanya salah satu indikator betapa orang Sunda sudah kurang peduli pada budayanya," tutur Wawan Sofwan, sutradara teater yang mementaskan Sandekala di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, belum lama ini.

Pentas Sandekala di Jakarta bisa terlaksana berkat bantuan sejumlah aktivis, seperti Andi K Yuwono, Danang Widyoko, FX Rudi Gunawan, Agung Yudha, dan Raharjo Waluya Djati. "Dari nama- nama teman yang banyak membantu saja, terlihat mereka bukan orang Sunda. Orang Sundanya mungkin hanya Kang Teten Masduki dan para pemain kami dari Bandung," Wawan menambahkan.

Pria kelahiran Panjalu, Ciamis, Jawa Barat itu, tentu tidak sedang mengecam orang Sunda. Ia juga tahu persis teman-temannya yang membantu pementasan Sandekala tidak begitu mempersoalkan bahasa dan suku bangsa. Perhatian para aktivis yang mau bekerja keras mengusung Sandekala dari Bandung ke Jakarta lebih banyak dilandasi alasan isi dan pesan dari pentas itu. Praktik korupsi yang harus diberantas.

Sekadar informasi awal, Sandekala diangkat dari karya Godi Suwarna. Pemenang Hadiah Kebudayaan Rancage 2008 itu memang berkisah tentang praktik korupsi. Bukan korupsi yang melibatkan politisi di parlemen. Bukan korupsi yang penuh intrik politik dan melibatkan menteri di kabinet kita. Sama sekali bukan. Praktik korupsi dilakukan seorang camat di sebuah tempat di Ciamis, Jawa Barat.

"Naskah teater yang berkaitan dengan isu korupsi sedikit. Saya juga baru temukan isu itu di karya Kang Godi. Ini naskah luar biasa yang mencakup isu korupsi, pelestarian alam, percintaan, dan sejarah Sunda. Setting waktunya berwarna. Dari mulai kisah Dyah Pitaloka yang tewas pada Tragedi Bubat hingga Reformasi 1998," tuturnya.

Itulah Wawan yang lahir pada 17 Oktober 1965. Itulah sutradara berdarah Sunda dan berkeinginan mengangkat budaya Sunda lewat karya-karyanya.

Karier sebagai sutradara tidak seketika datang. Ia memulai dari rasa sukanya pada dunia akting. Pernyataannya soal rasa suka pada akting pun tidak sama dengan pernyataan para aktor sinetron, yang suka pada seni akting, tapi aktingnya saat bersedih malah membuat penonton terbahak.

Wawan, demikian ia sering disapa temannya, sejak kuliah di Jurusan Kimia Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKPI ) Bandung, sudah berkecimpung di dunia teater. "Saya belajar akting di Student Center IKIP Bandung dan menimba ilmu Studiklub Teater Bandung," ujar mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia IKIP itu.

Di lingkungan kampus itulah ia berinteraksi dengan Teten Masduki, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam saat itu. "Saya tak bisa melupakan Kang Teten yang tidak pernah bosan bicara soal kebangsaan dan daya rusak korupsi," ia menambahkan.

Ketertarikannya pada dunia teater dan keprihatinanya pada praktik korupsi terus berlangsung hingga kini. Bukti sederhananya, ia sudah memantapkan diri untuk hidup di dunia teater hingga kini. Bukti tambahan, dengan semangat dan hati riang, ia membaca, mempelajari dan kemudian mementaskan Sandekala.

Guru

Dunia pendidikan bukan tidak menarik hatinya. Tapi, untuk menjadi guru kimia, jelas ia sudah kehilangan energi. Bukan apa-apa, hatinya sudah terpatri pada dunia teater. Seusai kuliah di kampus yang sekarang berganti nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, ia sempat dilanda kegalauan. Benarkah dunia teater bisa menjadi ladang hidupnya?

Seusai menarik napas panjang dan berdoa, hatinya mantap. Apa yang harus terjadi, terjadilah. Dunia akting jadi pilihan hidup. "Soal rezeki, kumaha engke (Bagaimana nanti, Red). Pasti aya rezeki ti gusti (Pasti ada rezeki dari Tuhan, Red)," katanya dalam bahasa Sunda.

Kegundahannya beralasan. Sangat mudah menemukan para pekerja seni di dunia teater yang hidupnya pas-pasan. Untunglah, sang kekasih hati, Een Rihaeni, sangat mendukung pilihan Wawan.

Keduanya satu jurusan di ruang kuliah dan ruang latihan teater. Rupanya diskusi soal rumus-rumus kimia dan dialog saat di ruang latihan dan panggung pementasan semakin merapatkan hubungan mereka.

Tidak salah jika Wawan pun kemudian memilih Een yang sekarang menjadi menjadi guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 13 Bandung menjadi pandamping hidupnya.Cinta kasih dan kesepakatan untuk mengikat diri dalam perkawinan melahirkan Vania dan Sheyla.

Lulus kuliah pada 1991 hasratnya untuk mengolah tubuh dan suara saat beraksi di panggung semakin membuncah. Ia terlibat dalam pentas King Liar, Impian di Tengah Musim, Julius Caesar, dan sejumlah pementasan lainnya.

Rupanya ia tidak puas dengan hanya tampil sebagai aktor dan sutradara. Ia mengembangkan kemampuannya di dunia monolog. Maka penggemar dunia akting di Indonesia, khususnya di Bandung, bisa menyaksikan penguasaan olah suara dan bahasa tubuhnya lewat pentas Dam, Laporan untuk Akademi, Zarathustra, dan The Story of Tiger. "Yang tak terlupakan ialah saat saya membawakan monolog Indonesia Menggugat di sebuah pura tua di Singaraja. Saya lakukan monolog bukan di panggung, tapi di tengah lapangan. Tahunnya lupa, tapi yang pasti acara berlangsung nyaris tengah malam. Jadi, saya membacakan pidato Bung Karno dari tanggal 31 Mei hingga I Juni. Suasananya sangat khas. Susah menggambarkannya," kata Wawan.

Uniknya lagi, sebelum pementasan, Wawan berjumpa dengan seorang tua yang ucapannya tidak terlupakan. Pria itu menerangkan bahwa ibu kandung Bung Karno punya rumah yang tidak jauh dari pura tempat acara berlangsung.

Pria itu pula banyak bicara soal Kerajaan Panjalu dan beberapa kerajaan lain di wilayah sebelah Barat Pulau Jawa. "Padahal saya tidak pernah mengatakan pada pria itu bahwa saya berasal dari Panjalu. Aneh," kenang sang sutradara yang pernah menyutradarai Faust I karya Goethe, Saudagar Venesia karya Shakespeare, Nyai Ontosoroh karya karya Pramudya Ananta Toer dan Faiza Marzuki, dan sejumlah pementasan lainnya.

Pilihan Wawan di dunia teater rupanya tidak salah. Kekhawatirannya soal kesejahteraan keluarga tidak terbukti. Titik terang dunia rezeki sedikit terbuka takkala ia mendapat beasiswa dari Goethe Institut Jerman untuk belajar bahasa Jerman dan mempelajari research theater dari tahun 1995-1996. Undangan dari berbagai pihak di luar negeri untuk belajar dan mementaskan karyanya berdatangan.

Pria penyabar itu malah sempat bergabung di kelompok Main Theater Melbourne, Australia. Dengan modal pengalamannya, pekerjaan untuk menjamin kehidupan keluarga pun berdatangan. Sekarang ia menjadi pengajar acting for singer di Gita Svara Jakarta, dan memberikan kursus privat bagi mereka yang ingin menambah keterampilan aktingnya.

Soal keuangan, relatif lebih aman baginya. Apalagi sang kekasih yang sudah menjadi pendamping hidupnya tetap giat mengajar.

Keresahan dan kesedihannya bertumpu pada satu hal. Punahnya budaya Sunda. Jumlah orang Sunda yang mau menggunakan bahasa Sunda semakin menyusut. Apalagi yang mau mempelajari sejarah dan kearifan lokal orang Sunda. "Pentas Sandekala dalam bahasa Sunda di Bandung juga kurang peminat. Tapi saya tetap optimistis bisa membangkitkan lagi budaya Sunda lewat teater berbahasa Sunda, jika menyaksikan semangat teman-teman berlatih teater Sunda meskipun dengan honor ala kadarnya," ia menegaskan. [SP/Aa Sudirman]


Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/06/Personal/per01.htm
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 9:44 PM;
ada 0 komentar
03 Agustus 2008
Dukumentasi Foto Pementasan Sandekala

Karena kesibukan kami, untuk sementara foto-foto dokumentasi Sandekala, baik di belakang atau di panggung bisa dilihat di www.adriansight.multiply.com/photos

Silahkan melihatnya di blog tersebut. Selanjutnya kami akan upload ke blog Sandekala setelah kesibukan kami mulai mereda.

Harap maklum dan terima kasih.
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 7:52 PM;
ada 0 komentar
28 Juli 2008
Teater...

jadi dari minggu kemaren sebenernya gue punya cerita yang belom sempet gue posting...
hari selasa tanggal 22 Juli 2008...
gue dan beberapa eman teater gue pergi nonton teater d TIM...
wuih..pergaulan meluas..hingga jakarta..
naik trans BSD..asooy..abis ntu naik kopaja..uah..beda jauh banget..
nyampe d sana jam stengah 2 sedangkan acara akan dimulai pukul 2...namun apadaya urusan perut memang sangat mendesak..jadi kami makan dulu..nasgor kambing,ayam n gue makan gado2..maksudnya biar cepet tapi apa daya..makanan gue dateng terakhir sekitar pukul 2 kurang 10...
huahua...makan dalam waktu 10 menit....manstap...
nonton teater..yang ternyata belum mulai..yah dah buru2 makan...

Pementasan kali ini memang ditujukan untuk para pelajar terutama SMA..serbagai generasi bangsa...
Dengan judul Sandekala..teater untuk memerangi korupsi ini dimulai pada pukul 02.30...
Untuk memperingati hari anti korupsi teater ini diadakan...
Dan klo menurut say, persiapan yang dilakukan benar2 matang sehingga mereka bsa memberikan pertunjukan yang maksimal bagi kami semua...
buat pengarang naskah atau novel...salut banget...4 jempol teracung untuk anda.....
Mr. Godi Suwarna...kenapa???
karena ceritanya benar2 jelas sasarannya,realisik, dan lengkap dari segi horor, humor, percintaan, politik, ekonomi, perjuangan, pokoknya komplit ada di sini...HEBAt

teater dengan waktu 2 jam setengah pun erlalu tanpa terasa...ketikqa kami akan pulang kami semua bertemu dengan SAMMY..alias Samuel Rizal
wuah dari deket tambah ganteng aja tuh orang...
keren,,imut..rambutnya baru tumbuh gtu...owh...
n kita foto bareng gtu ma dya..sempet wawancara pula...
seorang sammy ternyata juga peduli dengan masalah sosial yang sedang marak diperbincangkan yaitu mengenai korupsi....

So,teman2 semua jangan pernah sekali2 melakukan KORUPSI karena itu merupakan tindakan terlarang n dapat menyengsarakan rakyat atau orang di sekitar kita...

BUat para pemimpin negara..tolong kuatkan kembali iman anda semua..karena anda kami pilih untuk memperjuangkan nasib kami bukan memakan uang kami...

bagi KPK selamat bertugas..memberantas segala bentuk korupsi yang dapat membuat negara kit asemakin terbelakang..

Untuk INDONESIA tercinta...teruslah berjuang..sehingga negara bersih dari KORUPSI

ditulis oleh steffi



Sumber: http://tepikirpikir.blogspot.com/
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 10:42 PM;
ada 0 komentar
Melawan Korupsi Lewat Teater

by : Dwi Fitria

Di tabet Surawisesa, sebuah hutan keramat tempat prasasti kerajaan Galuh berada, seorang Kuncen sedang mengungkapkan keresahannya. Ia gerah melihat kondisi daerahnya yang diwarnai oleh ketidakadilan dan sifat korup para pejabatnya. Ia berdialog dengan suara seekor burung kepodang yang konon adalah utusan putri Dyah Pitaloka yang tewas dalam peristiwa tegal Bubat.

Wilayah ini diperintah oleh seorang camat bernama Suroto. Seorang pejabat yang lalim. Setiap tindakannya seolah tak pernah lepas dari keserakahan dan ketamakan. Ia kerap berkolusi dengan para kontraktor yang membangun prasarana di wilayahnya, menyetujui diadakannya pasar malam di alun-alun kota yang letaknya amat dekat dengan masjid agung, sekolah, dan rumah sakit.

Tanpa tendeng aling-aling, camat juga berani menebang pepohonan di tabet yang sesungguhnya amat dikeramatkan juga dilindungi oleh warga sekitarnya. Tindakannya ini memancing kemarahan warga, yang merasa tradisi turun-temurunnya telah disepelekan oleh si camat.

Sekelompok pemuda yang muak melihat tindak-tanduk camat berencana mengadakan demonstrasi besar-besaran. Saat berlangsung demonstrasi menjadi tak terkendali, sekelompok penyusup memprovokasi, dan demonstrasi pun berubah jadi anarki.

Cerita ini adalah bagian dari lakon teater berjudul Sandekala yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, pada 22 dan 23 Juli 2008 lalu. Pertunjukan menghabiskan waktu sekitar dua jam, dan cukup banyak dihadiri penonton.

Lakon ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama, pemenang hadiah sastra Rancage 2008. Novel ini ditulis oleh Godi Suwarna dengan menggunakan bahasa Sunda. Godi menulis novel ini terinspirasi peristiwa 1998, titik kulminasi ketika keadaan Indonesia memanas dan demonstrasi terjadi di mana-mana.

Pun adaptasi naskah panggung oleh Wawan Sofwan, sesungguhnya juga dibuat berbahasa Sunda. " Tetapi begitu kami mendapatkan tawaran untuk main di Taman Ismail Marzuki, kami juga membuat versi bahasa Indonesianya bagi penonton yang tak memahami bahasa asli lakon ini," kata Godi Senin (21/7) lalu. Pertunjukan yang memakan waktu kurang lebih dua jam itu cukup banyak dihadiri penonton.

Lakon Korupsi

Setelah menggarap lakon Nyi Ontosoroh yang dipentaskan pada akhir Juli 2007 lalu, Wawan Sofwan berkeinginan untuk menampilkan lakon lain bertema korupsi. Saat itu yang terpikirkan olehnya adalah Korupsi karya Pramoedya dan Ladang Perminus karya Ramadhan KH. Pilihan jatuh pada karya Ramadhan KH.

Pikiran Wawan berubah ketika seorang pejabat provinsi Jawa Barat mengatakan bahwa teater Sunda sudah tidak diminati lagi karena ketinggalan zaman dan temanya sudah terlalu usang. Pernyataan sepihak ini kemudian mendorongnya untuk membuat sebuah lakon berbahasa Sunda. Tanpa sengaja ia menemukan novel Sandekala. Novel bernuansa kritik sosial yang mengambil seting 1998 ini, dirasakan Wawan amat cocok dijadikan naskah Drama. Ditambah lagi tahun ini menggenapi sepuluh tahun reformasi.

Menurut Andy K Yuwono, salah satu produser pementasan ini, muatan sosial tak hanya korupsi, kesadaran akan kelestarian lingkungan, gerakan mahasiswa, juga khazanah kearifan lokal juga ikut terkandung dalam lakon ini. Dalam cerita juga dikisahkan perwujudan Dyah Pitaloka dan mahluk penghuni alam "lain" yang dikisahkan muncul untuk memberikan peringatan kepada masyarakat.

Sehingga diharapkan penonton kemudian pulang dengan penyadaran di kepalanya tentang masalah-masalah aktual yang masih menjadi problem serius di negeri ini.

Agar tak menguap begitu saja, sebelum pertunjukan malam hari, diadakan juga pertunjukan siang hari pada 22 Juli 2008 yang khusus diperuntukkan bagi para siswa sekolah menengah. Lepas pementasan diadakan sebuah diskusi untuk merangsang penyadaran masalah korupsi di kalangan siswa. Undangan disebarkan ke sekitar 80 sekolah yang diharapkan bisa menjaring hingga 800 orang pelajar.

Selama pertunjukan beberapa gangguan teknis semisal sound, terasa sedikit mengganjal jalannya pertunjukan. Di luar hal itu, muatan tentang masalah korupsi yang hingga saat ini masih merajalela di nyaris seluruh sendi kehidupan di Indonesia, adalah sebuah hal yang wajib dicermati, dan tak boleh alpa direnungkan.

Pertunjukan ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Seni Indonesia, Mainteater, WALHI, dan Indonesian Corruption Watch. Sebelumnya lakon ini telah dipentaskan di Bandung pada 23 dan 24 Mei 2008 lalu.

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Halaman%20Muka&rbrk=Feature&id=59335&postdate=2008-07-27&detail=Halaman%20Muka
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:38 PM;
ada 0 komentar
Teater Sandekala: Melawan Korupsi Melalui Seni

Wahyu Arifin

VHRmedia.com, Jakarta - Korupsi menjadi budaya yang mengakar dalam sendi kehidupan, sehingga kasus korupsi seperti menjadi kewajaran. Di tengah kewajaran yang tidak wajar itu sejumlah kelompok masyarakat sipil mencoba terus mengingatkan bahaya korupsi.

Budaya dilawan dengan budaya. Hal itu yang mendasari pemikiran para pegiat Perkumpulan Seni Indonesia untuk mementaskan teater Sandekala di Taman Ismail Marjuki Jakarta, Selasa (22/7) malam dan Rabu (23/7) malam.

Wawan Sofwan, sutradara yang juga penulis lakon Sandekala mengatakan, teater ini adalah drama yang disadur dari novel berjudul sama karya Godi Suwarna. "Temanya sangat menarik. Setting-nya peristiwa 1998 yang belum lama ini diperingati 10 tahunnya. Saya juga ingin mengangkat kembali kesenian masyarakat Sunda," kata Wawan di Jakarta, Senin (21/7).

Menurut Wawan, pementasan ini mengusung empat tema besar sebagai moral cerita, yaitu antikorupsi, pelanggaran HAM, persoalan lingkungan, dan kearifan lokal. Di antara tema itu yang paling menonjol adalah tema antikorupsi.

Untuk penggarapan Wawan Sofwan menggandeng tokoh-tokoh di bidang tersebut, antara lain Danang Widyoko (Wakil Ketua Badan Pekerja ICW), Chalid Muhammad (mantan Direktur Eksekutif Walhi), dan FX Rudy Gunawan (Perkumpulan Seni Indonesia).

Danang Widyoko yang juga sebagai eksekutif produser mengaku ICW sangat mendukung pementasan teater ini, karena dapat menjadi salah satu cara alternatif melawan korupsi. "Korupsi sering kali hanya dilihat sebagai kasus. Padahal, korupsi sudah menjelma menjadi budaya. Dan ini merupakan salah satu media untuk melawannya," ujarnya.

Produser pementasan Andi K Yuwono mengatakan, pementasan ini akan melibatkan 80 siswa SMA dari Bandung. Teater ini sudah dipentaskan dalam bahasa Sunda di Bandung, Mei lalu. Di Jakarta, teater ini akan dipentaskan selama dua hari. Hari pertama pementasan berbahasa Sunda dan hari berikutnya pementasan berbahasa Indonesia. "Kami melibatkan siswa SMA agar mereka mengerti bahaya korupsi. Mereka kami ajak sebagai peserta aktif dalam acara diskusi tentang pementasan Sandekala," ujarnya. (E1)

Sumber: www.VHRmedia.com
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:21 PM;
ada 0 komentar
Mengangkat Isu Korupsi dan Kejahatan Lingkungan

Maya Handhini

Jakarta – Dengan telaten, ibu Pandu memijit anaknya yang sakit. Pandu sakit akibat terlalu lelah berunjuk rasa untuk melawan Pak Camat yang gemar korupsi dan melakukan pelanggaran HAM di Desa Kawali, Ciamis.

Pak Camat, penguasa tempat tinggal Pandu, mempunyai segala sifat buruk yang pantas dihujat seluruh rakyatnya. Ia yang berperut buncit ini senang mengganggu gadis-gadis di desanya. Ia juga dikenal bertangan besi dan rakus melahap seluruh proyek yang terhidang di hadapannya. Begitu rakusnya, Pak Camat senang meneror. Salah satu korban terornya adalah tukang ojek.

“Bagaimana hasil hari ini, sudah dapat berapa dari kutipan pada ojek. Kalau mereka tidak mau membayar, kamu pukul saja hingga babak belur,” kata Pak Camat kepada Kuwu anak buahnya. Salah satu yang menjadi korban kerakusan Pak Camat adalah Dadang. Akibat tidak bisa memberi kutipan, Dadang babak belur dipukul oleh kaki tangan Camat rakus tersebut.

Tapi, kezaliman tidak bertahan selamanya. Masyarakat Desa Kiwali lama-lama gerah juga melihat kerakusan dan kebrutalan Pak Camat. Demonstrasi pun terjadi dan semakin tidak terkontrol.


Sindiran

“Sandekala”, cerita yang diangkat dari pemenang hadiah sastra Rancage 2008 karya Godi Suwarna dipentaskan selama dua hari, Selasa (22/7) dan Rabu (23/7), di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam dua bahasa, Indonesia dan bahasa Sunda.

Judul Sandekala diambil dari aksara Suna Kuno dalam prasasti Astana Gede, atau dikenal dengan sebutan prasasti Kawali.

“Namun, lebih tepatnya Sandekala adalah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah cerita,” ujar Wawan Sofwan, sutradara.

Wawan memang memilih setting 1998 untuk menuturkan krisis sosial dan moral yang terkandung di dalam “Sandekala”. Untuk melukiskan demonstrasi yang besar, Wawan mengambil video klip dokumenter unjuk rasa pada 1998.
“Kekerasan demi kekerasan ini ternyata sudah bukan lagi dalam lingkup perintah camat, melainkan hingga bupati. Pementasan ‘Sandekala’ ini sengaja kita angkat untuk mengingatkan bahwa saat ini korupsi sudah terjadi di mana-mana,” kata Wawan.

“Sandekala” yang dipentaskan Mainteater ini didukung oleh banyak pihak dan LSM, seperti Perkumpulan Seni Indonesia, ICW, Walhi, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Remdec, Pengelola GK Rumentang Siang, HUMA, dan didanai oleh Hivos, ICCO dan Yayasan Tifa.

Dukungan sebanyak ini tidak mengherankan karena naskah “Sandekala” ini sarat dengan pesan moral dan pesan sosial. Cerita yang diangkat dari karya Godi Suwarna yang memenangkan hadiah sastra Rancage 2008 ini menyinggung soal “penyakit” akut yang menggerogoti moral dan keuangan bangsa, yaitu korupsi. Selain itu, ada persoalan lingkungan yang kian hari kian mengerikan.

“Kasus yang menyangkut lingkungan hidup sering kali sarat dengan kasus korupsi,” kata Chalid Muhammad, eksekutif produser, pada jumpa pers, Senin (21/7). Menurut Chalid yang juga bekerja untuk Walhi, pementasan ini merupakan metode baru untuk mengampanyekan lingkungan.

Itu sebabnya, penyelenggara juga mengundang para pelajar untuk menonton pementasan dan mengajak mereka berdiskusi. Sebuah upaya pendidikan tentang buruknya korupsi kepada generasi muda.


Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/23/hib01.html


oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:18 PM;
ada 0 komentar
Mementaskan "Sandekala", Mengritik Korupsi




Abimanyu

Kelompok Mainteater beraksi pada pementasan "Sandekala" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (22/7). Pementasan yang mengadopsi novel karya Godi Suwarna menceritakan gejolak kerusuhan Mei 1998 dan digarap sutradara Wawan Sofwan untuk memperingati 100 tahun Harkitnas dan 10 tahun reformasi.

Korupsi telah menjadi sebuah "budaya" yang mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua bidang pemerintahan. Seperti virus yang mematikan, korupsi telah menggerogoti segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melihat kenyataan itu, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, dan Mainteater didukung oleh beberapa organisasi masyarakat menggelar pentas teater yang bertajuk Sandekala di Taman Izmail Marzuki (TIM), Selasa (22/7).

Pementasan teater yang disutradarai oleh Wawan Sofyan ini, adaptasi dari novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna Sandekala yang memenangi penghargaan Sastra Rancage 2007.

Menurutnya, melawan korupsi sebagai "wabah yang membudaya" diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni melalui budaya pula.

"Kami tidak punya media lain untuk mengkritik kebobrokan korupsi, sebagai orang budaya kami melakukannya lewat budaya juga," ujar Wawan Sofyan, sutradara sekaligus produser seusai pementasan.

Ia mengatakan, korupsi merusak secara sistematik berbagai aspek dan dimensi kehidupan.

"Korupsi sangat berbahaya bagi perkembangan negara kita. Teater ini sebagai bentuk kampanye kami agar semua orang tahu sejauh mana kehancuran di negeri kita saat ini," tambahnya.

Pementasan teater yang menghadirkan sebanyak 25 tokoh dan dimainkan oleh berbagai kelompok teater ini berkisah tentang Suroto, Camat Kawali Ciamis yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Dengan kekuasaannya itu, dia berbuat sewenang-wenang termasuk merampas hak-hak warga setempat demi kepentingan pribadi. Ia melakukan kolusi dengan para kontraktor untuk pembangunan gedung olahraga dan pasar. Ia juga menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota, padahal tempat tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah dan rumah sakit. Ia pun menggunakan kekuasaannya sebagai camat untuk meraup keuntungan yang tentu saja masuk ke kantong pribadinya.

Menurut Wawan, dipastikan korupsi juga sebagai penyebab terbesar terjadinya kerusakan lingkungan. Pernyataan tersebut merujuk pada tokoh Suroto yang pada pementasan awal menyuruh para pengawalnya untuk menebang hutan keramat yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat suci dan telah dikeramatkan sejak abad ke-13.

Penggundulan hutan mengakibatkan ketidakseimbangan alam. Hal ini tergambar ketika hutan tersebut digunduli, muncul belalang dalam jumlah yang banyak juga berbagai "penghuni hutan" yang selama ini tidak ada. Termasuk arwah putri kerajaan Galuh, Diah Pitaloka yang konon jenazahnya dimakamkan di tempat tersebut.

Melihat perilaku camat itu mulailah terjadi krisis kepercayaan yang membuat masyarakat mulai gerah. Berawal dari korupsi hingga akhirnya timbulah krisis kepercayaan yang membuat masyarakat menjadi gerah. Masyarakat mengajukan protes atas tindak tanduk camat tersebut, namun protes itu tidak ditanggapi. Malahan, salah seorang tokoh masyarakat yang sangat vokal, Bagus Magenda diculik. Tokoh Bagus adalah bekas wartawan yang dipecat dari pekerjaannya karena memberitakan seorang pejabat yang korupsi. Celakanya, pejabat itu adalah kenalan dari pemilik surat kabar tersebut.

Demonstrasi

Putri sang camat yang kebetulan mahasiswa mendukung penentang ayahnya. Dia yang selalu membocorkan rapat-rapat muspika di rumahnya kepada teman-temannya sehingga penculikan yang lebih banyak bisa dihindari.

Para pimpinan demonstran bersembunyi di sebuah tempat keramat dan menyusun kembali strategi untuk demonstrasi yang melibatkan banyak orang. Besoknya terjadilah demonstrasi besar-besaran.

Awalnya, unjuk rasa terkendali tapi tiba-tiba jadi tidak terkontrol dan cenderung anarkis. Kantor polisi dibakar, koramil dimusnahkan, pasar diserbu dan dijarah, serta kantor camat dihancurkan.

Bupati sebagai atasan camat langsung menurunkan petugas. Para pemimpin demonstran dicari dan dikejar. Cerita ini kemudian berujung penculikan dan penembakan terhadap para aktivis yang bersembunyi di hutan. Penggambarannya seperti kerusuhan Mei 1998.

Pertunjukan Sandekala ini memang selain mengkritik korupsi dan kerusakan lingkungan, juga mengingatkan kita pada masa reformasi Mei 1998. [DMF/N-5]


Sumber: Suara Pembaruan
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:16 PM;
ada 0 komentar
Kilas Balik Reformasi Indonesia

Pentas Teater "Sandekala"


[JAKARTA] Pentas teater Sandekala yang bercerita tentang kilas balik sejarah Indonesia mencapai reformasi, akan dipentaskan selama dua hari di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 22-23 Juli 2008 setiap pukul 20.00 WIB. Pertunjukan teater dwi -bahasa, yakni Indonesia dan Sunda tersebut mengangkat tema Bangkit melawan korupsi, perusakan lingkungan, dan pelanggaran HAM dengan kearifan lokal.

Rencananya, pentas teater Sandekala akan ditonton oleh para siswa dari 80 sekolah di Jakarta. Para pelajar akan menyaksikan pertunjukan teater yang dilanjutkan dengan diskusi, pada Selasa (22/7), pukul 14.00-16.00 WIB, di TIM. Sementara pentas teater Sandekala berbahasa Sunda akan digelar pada Rabu (23/7), pukul 20.00 WIB.

Eksekutif Produser J Danang Widoyoko yang juga wakil dari ICW mengatakan, korupsi telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Terbukti, hampir sebagian besar masyarakat Indonesia melakukan tindak korupsi. Para petinggi negara sampai karyawan kantoran melakukan korupsi.

Dikatakan, meski telah merdeka, Indonesia tetap saja menjadi bangsa terjajah. Kekayaan alam Indonesia tidak bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Kenyataan tersebut membuat Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, dan mainteater Bandung, menggelar pergelaran budaya tentang realita Indonesia. Diharapkan melalui pentas seni tersebut, masyarakat bisa melihat kondisi kehancuran bangsa saat ini.

"Semua orang pernah melakukan korupsi, hanya saja berbeda jumlah nilainya. Para petinggi korupsi dengan nilai besar, sebaliknya karyawan dalam jumlah kecil. Jadi korupsi sudah membudaya," kata Danang, saat ditemui di Jakarta, Senin ( 21/7).

Pergelaran budaya Sandekala diangkat dari novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna, yang juga berhasil memenangkan Sastra Rancage 2008. Sandekala bercerita tentang perang Bubat yang memanas di sebuah kerajaan Galuh, di Astanagede, daerah Kawali-Ciamis, pada Mei 1998 lampau. Kondisi kerajaan kala itu, tak ubahnya seperti kondisi di Jakarta saat kerusuhan Mei 1998 terjadi. [EAS/U-5]


Sumber: Suara Pembaruan
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:12 PM;
ada 0 komentar
26 Juli 2008
Refleksi Kerusuhan Mei 1988

Saturday, 26 July 2008



LAKON SANDEKALA, Seorang aktris sedang menghayati peran dalam pementasan lakon bertajuk Sandekala di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada (22/7). Pagelaran tersebut dalam rangka mengenang peristiwa kerusuhan Mei 1988 dan memperingati 10 tahun reformasi.

Peristiwa kerusuhan Mei 1998 lalu belum hilang dari ingatan kolektif bangsa ini. Peristiwa nahas itu kembali dikenang lewat pementasan lakon Sandekala.

SANDEKALAsebenarnya sebuah cerita rakyat dari Jawa Barat tentang makhluk halus (semacam Buto Ijo,raksasa jahat dalam pewayangan Jawa).

Walau belum banyak orang melihatnya, mitos ini cukup kental dipercaya masyarakat Sunda,terlebih di Situs Astana Gede atau Situs Kawali yang merupakan salah satu situs dari masa klasik di Kampung Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis,Provinsi Jawa Barat. ”Sandekala” sendiri berasal dari kata ”sande” yang berarti ‘gelap’ dan ”kala”yang berarti ‘waktu’.

Inti mitos dari masyarakat Pasundan tersebut adalah jangan bermain hingga waktu gelap (larut malam). Sebuah pesan yang memang berlaku pada zaman dahulu dan sangat jarang dilakoni anak muda masa kini. Saat keseringan main hingga lupa waktu, Sandekala akan memakannya atau mendapat celaka atau penyakit saat bermain di waktu itu.

Cerita bermula dari seorang Camat Kawali, Suroto, yang menyalahgunakan jabatan dengan menebang pohon di Tabet (hutan keramat). Padahal, kesakralan hutan tersebut sangat dijaga warga desa dari generasi ke generasi sejak abad ke-13. Di situ ada makam Putri Kerajaan Galuh, Dyah Pitaloka, serta makhluk halus lainnya.

Tindakan tersebut diprotes Pandu, mahasiswa dari Kawali.Tak membuat jera penguasa, masyarakat merencanakan untuk demo. Namun, keburu tercium pihak aparat muspika dan mereka diamankan. Termasuk bagi Bagus Madenda,bekas wartawan yang dipecat dari pekerjaannya karena memberitakan seorang pejabat yang korupsi. Celakanya, pejabat itu adalah kenalan dari pemilik surat kabar tersebut.

Seorang kuncen (juru kunci) di hutan Surawisesa lantas berbincang dengan burung Kepodang. Sosok burung tersebut diyakini masyarakat sebagai titipan Dyah Pitaloka untuk mengungkap kegelisahan Ki Kuncen tentang suasana negeri ini, termasuk orang-orang yang berada di sekitar Tabet. Makin lama, gonjangganjing tersebut semakin membuat resah ”penghuni” hutan keramat.

Mereka lalu menampakkan diri untuk memberi ”kila-kila”, tandatanda kepada penduduk sekitar. Dari muncul makhluk siluman, berbagai macam hama,belalang, tikus,hingga menjelma menjadi seekor ular putih. Keseimbangan alam pun terancam. Banyak hasil panen yang tidak dapat dinikmati akibat serangan hama tersebut.

Buyut Pawitan, kekasih Dyah Pitaloka terdahulu,ternyata bereinkarnasi ke tubuh Bagus Madenda. Dyah pun bernostalgia dan menghibur kegundahan hatinya. Akhirnya Bagus makin terjerembab ke dalam ”pelukan” nostalgia Dyah. Bagus kian hari kian murung.Begitu pula saat diajak demo oleh Pandu, Bagus yang ternyata cucu Ki Kuncen satu-satunya justru menolak karena pasti akan ditahan penguasa.

Tak putus asa, Pandu dan teman-teman kampung malah nekat berdemo. Pandu pun kian bersemangat karena ditemani kekasihnya meski ia adalah putri Camat yang akan didemonya. Untung kekasih Pandu ini mau membocorkan rapat rahasia yang dilakukan ayahnya dan muspika setempat sehingga penangkapan demonstran besar-besaran bisa dihindari. Kisah ini berujung dengan Kawali yang luluh lantak. Para demonstran pun lari ke Tabet Surawisesa.

Lalu, aparat mengejar dan menghabisi seluruh demonstran. Sementara Dyah Pitaloka yang tetap bernostalgia dengan Bagus malah memperlihatkan gambaran wong samar serupa Dyah yang pergi ke tanah timur. Bagus menyaksikan Dyah bunuh diri serta upacara pengembalian abu jenazah dari tanah timur. Bagus kian terseret ke pusaran masa lalu dan kemudian menghilang.

Kisah tersebut sangat mirip bila dikaitkan dengan kerusuhan Mei 1998 di Ibu Kota. Cerita yang diadaptasi dari novel Sandekala garapan Godi Suwarna ini memang terinspirasi dari tragedi memilukan sekaligus memberi perubahan bagi demokrasi Indonesia. Meski novel tersebut ditulis dalam bahasa Sunda, isinya sangat memberi ruang universal terhadap permasalahan negeri.

Tema-tema korupsi, pelanggaran hak asasi manusia,persoalan lingkungan, dan kearifan pemimpin masa lalu sangat tergambar jelas dalam novel pemenang penghargaan Sastra Rancage 2007 ini.Apalagi, novel dengan pendekatan setting local jarang ditulis orang. Begitu pun kesesuaian tema dengan kekinian yang sangat menarik dan kontekstual.

”Kami ingin mengampanyekan antikorupsi, sosialisasi hak asasi manusia, menceritakan persoalan lingkungan serta kearifan lokal yang telah dicontohkan pemimpin masa lalu. Semoga bisa menggugah anak bangsa untuk melakukan perubahan lebih baik,” ujar Wawan Sofwan, sutradara dan produser Sandekala yang pentas di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki,Jakarta (22/7 dan 23/7).

Menariknya, di hari pertama, pementasan teater yang didukung penuh oleh Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesia Corruption Watch, WALHI, Mainteater, dan komunitas nonprofit lainnya ini menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di hari keduanya. Tak hanya mengampanyekan sesuatu,pementasan ini juga menaikkan teater Sunda yang selama ini bersembunyi entah di mana.

Dengan dukungan artistik gaya zaman prasejarah, pementasan selama tiga jam ini di awal terasa hambar. Namun, di satu jam terakhir, aura sebenarnya baru muncul. Tambahan audio visual di layar tentang suasana kerusuhan Mei 1998 justru mempercantik pementasan. (didik purwanto)


Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/budaya/refleksi-kerusuhan-mei-1988.html
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:30 PM;
ada 0 komentar
25 Juli 2008
Sandekala, dari Novel ke Teater, dari Teater ke Televisi








Oleh Diki Umbara

Sandekala adalah novel karya Godi Suwarna, seniman asal Tasikmalaya yang lahir 42 tahun yang lalu. Godi merupakan seniman yang sangat produktif telah menghasilkan beragam karya, puisi, cerpen, novel serta naskah drama.

Sandekala belum lama dipentaskan dalam format teater disutradarai oleh Wawan Sofyan di Taman Ismail Marzuki. Pementasan teater yang menghadirkan sebanyak 25 tokoh dan dimainkan oleh berbagai kelompok teater ini berkisah tentang Suroto, Camat Kawali Ciamis yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Dengan kekuasaannya itu, dia berbuat sewenang-wenang termasuk merampas hak-hak warga setempat demi kepentingan pribadi. Ia melakukan kolusi dengan para kontraktor untuk pembangunan gedung olahraga dan pasar. Ia juga menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota, padahal tempat tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah dan rumah sakit. Ia pun menggunakan kekuasaannya sebagai camat untuk meraup keuntungan yang tentu saja masuk ke kantong pribadinya.Kang Godi, sebagai penulis begitu cerdik menulis novel ini, terkadang serius namun beberapa bagian dibuat lucu, guyonan khas Sunda.

Kembali ke media yang digunakan, ini cukup menarik karena ada konvergensi atau tepatnya ”konversi” dari satu media ke media lainnya, dari novel (media cetak) ke teater (media ruang), dan dari teater ke televisi (media eketronik). Dan bisa jadi nantinya dari televisi ke media internet (youtube,dsb).

Pementasan teater sendiri dimainkan oleh Mainteater dari Bandung, pementasan sendiri ada dua yakni yang berbahasa Indonesia serta yang berbahasa Sunda. Sayang saya sendiri tidak sempat menyaksikan pementasan yang berbahasa Sunda, padahal dipastikan saya akan mengerti pementasan yang berbahasa Sunda karena sebagai orang Cianjur saya memahami betul bahasa ini.

Bagi penulis sendiri, meliput secara utuh acara teater untuk keperluan acara televisi merupakan pengalaman pertama. Tidak terlalu banyak persiapan untuk peliputan dengan menggunakan multicamera ini. Untungnya saya sempat melihat rehearsal pementasan teater yang dilakukan oleh sutrdara dan para pemain. Pengambilan gambar atau shooting dilakukan dengan tehnik live on tape. Sandekala berdurasi dua setengah jam rencananya akan dibagi menjadi 3 episode dan akan ditayangkan di semua televisi lokal yang tergabung di Afiliasi TV Lokal Indonesia. Saat ini Sandekala sedang memasuki tahap penyuntingan gambar.

Saya tidak tau persis seberapa banyak perubahan adaptasi dari karya novel ini ke dalam media teater. Namun kalau dari teater ke televisi benar-benar tidak ada perubahan kecuali hanya perpindahan media saja serta pembagian episode karena untuk penyesuaian durasi bagi keperluan on air.

Pementasan Sandekala terselenggara oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti ICW, ELSAM, WALHI, Praxis, Forum Diskusi Wartawan Bandung. Acara ini diliput untuk keperluan dokumentasi serta tayangan televisi oleh SBM atau School for Broadcast Media Jakarta. Klik link ini untuk melihat detail pemetasan Sadekala. Jika penasaran, untuk anda di daerah sedikit bersabar karena pementasan sandekala akan segera hadir di televisi lokal dimana anda tinggal.

Sumber: http://dikiumbara.wordpress.com/2008/07/25/sandekala-dari-novel-ke-teater-dari-teater-ke-televisi/
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:42 PM;
ada 0 komentar
24 Juli 2008
Menyalakan Dupa

Kamis, 24 Jul 2008 | 13:47 WIB

TEMPO Interaktif, :Imaji di layar yang disemprotkan dari proyektor menunjukkan gambar-gambar demonstrasi mahasiswa pada 1998. Suara berdendang dalam logat Sunda menjelaskan bahwa situasi negeri sedang sakit. Ada kabar burung yang beredar soal pergantian pemimpin.

Pentas dibuka dengan suara menggelora diikuti petikan alat musik Sunda. Lampu kuning bercampur merah tersemburat di panggung yang telah diset layaknya kuburan dengan beberapa batu nisan berbagai ukuran dan bentuk. Selanjutnya adalah lakon seorang bapak tua berpakaian serba hitam yang menyalakan dupa di depan sebuah makam. Ia berkomunikasi dengan suara gaib seorang perempuan. "Negeri sedang bergejolak, petinggi negeri lupa diri, pejabat cuma menyengsarakan rakyat. Pejabat sendiri yang menjarah kekayaan negara," ujar Ki Kuncen ketika ditanyai soal kegelisahannya.

Itu adalah cuplikan awal penampilan kelompok teater Mainteater di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Selasa malam lalu. Mereka mementaskan pertunjukan berjudul Sandekala, yang diangkat dari novel karya Godhi Suwarna dengan judul sama. Ceritanya tentang seorang camat yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Si Camat juga berani menebang pohon dari Tabet Surawisesa, tempat keramat kompleks kuburan itu berada.

Kisah si Camat (yang diperankan Tohari Yosdollac) beserta para penentangnya dipadu dengan kesaksian peristiwa Mei 1998. Atmosfer pengap itu dirasakan oleh Kuncen (Moel Mhe) di Tabet Surawisesa. Ini menjadi kisah utama dalam lakon Sandekala. Kebetulan cucu si Kuncen, bernama Bagus (Chandra Kudapawana), adalah mantan wartawan yang pernah mengungkap kasus korupsi si Camat.

Secara umum, lakon ini menyajikan drama dua dunia, yakni dunia gaib dan dunia nyata. Dunia nyata adalah soal pergolakan politik tersebut. Sementara itu, pada dunia gaib, dikisahkan interaksi Kuncen dengan Dyah Pitaloka (Puti Puspita Hadiati), yang dianggap sebagai titisan korban peristiwa di Tegal Bubat dan kerap menunjukkan diri dalam wujud ular putih raksasa, termasuk juga interaksi Bagus dengan Dyah, yang ternyata memiliki hubungan khusus di kehidupan sebelumnya.

Menyaksikan lakon teater ini membutuhkan perhatian yang cermat. Soalnya, adegan beralih dari dunia nyata ke dunia gaib dan sebaliknya dengan cepat. Selain itu, lakon ini bisa dibilang terlalu njelimet. Terlalu banyak subplot. Alur cerita pun berjalan lambat. Total pertunjukan menghabiskan waktu lebih dari 150 menit. Menurut sutradara Wawan Sofwan, perjalanan cerita dalam lakon ini sudah ditekan menjadi lebih padat. "Inilah pilihan kami," ujarnya. Wawan menambahkan, ada berbagai idiom dalam bahasa Sunda yang butuh penjelasan lebih panjang dalam bahasa Indonesia, sehingga memakan waktu lebih lama. Kesulitan lainnya, tutur Wawan, adalah menggabungkan kisah dua dunia itu. "Kalau ada adegan yang dihilangkan, akan mempengaruhi adegan lainnya," kata pria 43 tahun yang sebelumnya menyutradarai pentas Nyai Ontosoroh itu.

Setelah pementasan Selasa malam dalam bahasa Indonesia itu, Mainteater kembali membawakannya pada Rabu malam dalam bahasa Sunda. Lakon yang ditampilkan dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional ini juga telah dibawakan dua kali di Bandung pada 23 dan 24 Mei lalu. TITO SIANIPAR


Sumber: http://www.tempointeraktif.com/read.php?NyJ=cmVhZA==&MnYj=MTI4OTI1
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:23 PM;
ada 0 komentar
23 Juli 2008
Nonton Sandekala

posting tgl 23 Juli 2008

kemarin siang gue pergi ke taman ismail marzuki, nonton teater.
di gbb, judulnya sandekala.
tentang korupsi gitu. jadi ceritanya dihubungkan antara kerusuhan mei 98, dyah pitaloka yang zaman perang bubat itu,
sama ya itu tadi, korupsi.
yaudahlah ya, soal ceritanya sih panjang banget dan ribet.
kalau ditulis di sini nggak oke, lebih oke kalau nonton sendiri! hehehe.

setelah teater itu,
ada diskusi yang dibuka sama pihak penyelenggara sandekala.
nah karena kebetulan acara kemarin itu diadain khusus pelajar smp-sma,
jadi ya yang dateng tu pelajar semua.
dan otomatis penanya dan diskusinya disesuaikan sama kalangan pelajar gitu.
gue jujur aja udah nggak mood nanya kemarin.
udah pusing, mana perut laper, masuk angin pula.
hahahahhahahahah. asli madesu banget deh ah kemarin tuh.

diskusi berjalan kira-kira satu jam lebih gitu.
dan banyak yang bisa dipelajari dari keenam narasumber yang ngeladenin pertanyaan kita.
tapi yang paling gue inget dari diskusi kemarin,
dan yang paling bikin gue semangat,
adalah omongan dari seorang narasumber (anjrit gue lupa siapa, padahal tadi udah inget!).
dia bilang :
"korupsi itu kan dilakukan berjamaah,
jadi kita ngelawannya juga harus berjamaah!"

WOOW.
semangat! keep hoping and keep trying to fight the corruption!
haaaaaaaa. :D


Sumber: http://blognyanazh.blogspot.com/
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:25 PM;
ada 0 komentar
nonton TEATER nyokk

- Wednesday, July 23, 2008 -

kemarenm tanggal 22 july, gw nonton teater lohh di TIM. gw bersama 16 anak teater SURAT (Santa Ursula Teater) pergi berbondonkbondonkk ke sana.

pokonya jam 11.30 kita keluar kelas. (padahal lagi adegan si pin merayu inggrid. huaa) terus ganti baju dan jam 12 kita cabcuss naik transBSD. yeahh. di bus sih gw duduk b3 ama eva dan xty (lovelovelove) truss turun di halte mana gt trus naik KOPAJA (the cutest bus in the whole world). abis itu turun dah di TIM. nyammnyamm..
total cost so fat : 13.000 + 2.500 = 15.500

Abis itu ternyata jam sudah menunjukkan pukull 13.35 sedangkan pertunjukkannya jam 14.00 . which is kita cuma punya waktu 25 mnit buat makan. karena menghemat waktu dan ongkos gw makan b2 sama timur tanpa minum. karena gw sudah bawa minum dr rumah. dan menu makanan kami adalah : NASI GORENG KAMBING. yeaaa. gw gatauk dah kita makan anunya apa kagak. (JIJIX). dan sumpah tuh makanan keluarnya lama boneng. akir2nya keluarnya baru jam 13.55. dengan semangat 45, gw dan timur makan dengan brengos. gw dan timur selesai makan hanya dengan waktu 3 menit sajah. LUAR BIASA. akirnya kita ke TIM nya tuh mepet2 jam 14.05 kira2. untung saja tidak telat. pas masuk teaternya blom dimulai dah..
total cost : 15.500 + 10.000

judulnya adalah SANDEKALA. ceritanya sih pretty much about INDONESIA. masalah korupsi dibahas trus juga kemiskinan juga dibahas. settingnya tuh kerusuhan mei 98. dan yang gw suka tuh smua genre tuh bner2 komplit dari petualangan, horror, komedi, percintaan, thriller, folk, family, nasionalisme, dll. gilaaaakkk keren. gw nggak ngantuk loh. padahal biasanya kalo nntn teater gw sukabermimpi mendenger gw mendengkur alias ketiduran (kcuali kalo musical, gw terlalu suka sama musical). dan walopun ada beberapa part yang gw bingung, tp overall dari range 1-10 gw berani kasih 8,5. plokplokk..

okok tapi there's some problem during the show..
1. gara2 makan kambing, gw jadi kebelet kentut.
yudah lah gw kntut ajah di TIM. maav yah teman2 dari skolah lain yang duduk di belakang gw. nggak nahan, cuy.
2. karena kebnyakan kntut, gw jadi laper lagi. (eh bener gak yah?)
nah di salah satu scene di mana ada acara makan kue, gw semakin tidak karuan. hasrat ingin makan terus muncul. terus gw grasakgrusuk merengek ingin makan seperti baby huey mintasirloin steak nggak pake lemak ditambah mashed potato sama fresh vegetables ditambah teh botol sosro. ampe2 si christy kewalahan.
maav nek, hasrat makan cucumu ini memang kuat!
3. kayaknya gw agak toa deh.
pokoknya ada adegan si Dadang abis ngobrol dan mau pergi. tp masalahnya jaket yang dia lepasin ituh nggak dia bawa. terus yudah:
pg : (ngomong biasa) itu jaketnya ketinggalan woy.
Dadang : oh iya jaketnya lupa.
bu desiongg : itu kayanya dya denger kmu ngmng apa deh. jangan2 ntar kuenya dianterin ke sini lagi.
HUAAAAAA. gw maluu. kayaknya gw nggak toa2 amat dehh. huaaah gw cuma gomong biasaaa. underline donkk!!

abis nntn kan mo ada forum diskusi tuh, gw mendengar percakapan seperti ini :
nana : eh, liat deh yg di belakang itu? mirip Samuel Rizal nggak c??
eva : na, itu memang Samuel Rizal
abis itu kita foto deh ama Samuel Rizal. and untuk ukuran artis, dya termasuk artis yang amat sangat LOW PROFILE.
hey, artis2, contohlah SAMMY. Dia tidak somong malah ramah benjed. nggak boong. gw jd ngefans lagi. terakir gw ngefans dya tuh pas jaman2nya eiffel im in love. je t'aime lah pokonya. fotonya menyusul deh. ntar gw edit.

abis itu gw pulang ama eva dan xty. di mobil saking bosannya kita ngobrol bercanda2,nyanyi tembang lawas (westlife) dan lainlain. tunggu album perdana kami. only in our house. haha. trus makan kuetiaw enak. abis itu gw nyampe rumah jam 21.00. AHH SO FINE!! seneng gw kemarenn!!

love you SURAT!!


Sumber: http://pritashizuka.blogspot.com/
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:24 PM;
ada 0 komentar
22 Juli 2008
Sandekala Menuntut Perubahan

Greg Kenton memiliki segudang bakat, padahal umurnya baru belasan tahun. Di bidang olahraga, dia jago bermain bisbol dan sepak bola. Di bidang kesenian, suaranya juga jernih ketika bernyanyi dan bisa bermain piano. Tak hanya itu, membuat sketsa dan menggambar adalah hal yang gampang buat dia. Di bidang akademik, dia bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, mulai dari membaca, menulis, IPA, dan IPS. Namun, bakat yang paling menonjol yang dia miliki adalah yang berhubungan dengan uang. Dan bakat ini sangat mendukung cita-citanya untuk menjadi menjadi orang yang kaya raya. Dia berharap dengan mempunyai uang yang sangat banyak, dia bisa membeli barang-barang dia inginkan, mengunjungi banyak tempat, serta melakukan apa saja yang dia mau. Dan untuk mewujudkan cita-citanya, dia pun mulai merintis usaha “kecil-kecilan” semenjak usianya belum memasuki usia sekolah. Dia bekerja keras untuk mengumpulkan uang, sen demi sen, dolar demi dolar. Mulai dari bisnis merapikan kamar tidur dua saudaranya, mendaur ulang sampah, menjual barang loakan, menyemir sepatu pesta orang tuanya, membersihkan pekarangan, menjual limun, menjual mainan, sampai membuat komik mini. Semuanya dia kerjakan dengan tekun dan kerja keras. Kisah Greg ini tertuang dalam buku “Lunch Money” karangan Andrew Clements, terbitan Simon and Schuster, New York. Kemudian diterjemahkan oleh Mukti Mulyana dengan judul “Uuang Jajan” dan diterbitkan oleh Little Serambi.

Menjadi orang yang kaya raya adalah tujuannya. Dan untuk menjadi kaya raya, mengumpulkan uang yang sangat banyak adalah salah satu solusinya. Uang, uang, dan uang. Alat tukar untuk bertransaksi bisnis ini menjadi barang yang sangat penting. Namun jauh sebelum konsep uang dikenal sebagai alat transaksi, dikalangan primitif sistem pertukaran dalam kehidupan sehari-hari masih dilakukan dengan menggunakan benda atau barang. Proses ini lazim disebut dengan sistem barter, dimana benda atau barang yang dipertukarkan itu ditaksir dengan suatu nilai yang disetujui dan disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah transaksi. Bahkan, masyarakat primitif menganggap kalau pola pertukaran dalam bentuk barter ini mengandung nilai moralitas tertentu yang sesuai dengan nilai-nilai esensial yang diyakini oleh masyarakat bersangkutan. Karena bagi mereka, transaksi peralihan kepemilikan suatu benda atau barang dari satu orang ke orang lainnya bukan hanya menyangkut sebuah transaksi peralihan benda atau barang semata, tetapi merefleksikan hal yang disebut para ahli antropologi sebagai cosmic balanca dan social order (Johnny Parry and Maurice Bloch, 1989).

Seorang peneliti sosial, Amich Alhumami, dari Departemen Sosial Antropologi, Universitas Sussex, Inggris, dalam sebuah tulisannya menyatakan bahwa uang mempunyai empat esensi moralitas, yakni:

Pertama, melambangkan penghargaan dan penghormatan di antara sesama anggota masyarakat dalam suatu bangunan struktur sosial yang berlapis-lapis. Anggota masyarakat dari lapisan sosial yang berbeda dalam struktur hirarki sosial bisa saling berinteraksi tanpa pembatas.

Kedua, merawat relasi horizontal antar warga dan memperkuat harmoni sosial sehingga setiap warga memperoleh kenyamanan dan ketenteraman dalam kehidupan kemasyarakatan. Harmonium merupakan sendi dasar dalam relasi sosial yang harus dijaga melalui kebersamaan.

Ketiga, membangun dan meneguhkan solidaritas sosial untuk memperkuat ketahanan masyarakat atas dasar keterikatan emosional dan pertalian kekerabatan.

Keempat, memperkokoh dan memantapkan daya rekat sosial guna mencegah dan mengeliminasi potensi konflik serta menghindari friksi di dalam masyarakat, bahkan yang berskala kecil sekalipun.

Masyarakat primitive menjadikan keempat esensi moralitas pertukaran di atas sebagai bingkai kehidupan yang dapat memelihara keteraturan sosial dan membangun keselarasan dalam kehidupan keseharian. Jadi, tidak mengherankan bila keseimbangan kosmik dan ketertiban sosial dapat terjaga secara berkelanjutan. Namun sayangnya, di kehidupan modern sekarang ini, nilai esensi moralitas tersebut telah bergeser jauh. Uang pun dijadikan sebagai alat tukar untuk memperdagangkan kekuasaan, kewenangan, keputusan, serta komersialisasi jabatan. Semata-mata hanya untuk menumpuk materi demi mencukupi kebutuhan konsumsi yang telah melewati batas kecukupan untuk sekedar menikmati hidup. Kebutuhan seolah tidak pernah tercukupi, bertambah dari hari ke hari, dan segala cara dilakukan untuk mendapatkan uang dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Manusia seolah tidak perduli telah melanggar nilai kepatutan, tetapi bahkan telah merusak tatanan nilai, etika, dan norma yang menjadi sendi dasar ketertiban dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Ini terbukti dengan maraknya kasus suap yang berujung pada kasus korupsi di berbagai instansi di Indonesia, yang telah merusak sistem akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Mulai dari kasus korupsi dana nonbudgeter di PT. Kantor Pos Indonesia WIlayah IV, kasus korupsi pengadaan alat pendeteksi virus flu burung di Departemen Pertanian, kasus penyuapan terkait pengadaan kapal di Ditjen Perhubungan, kasus korupsi di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, kasus korupsi penjualan kapal tanker raksasa di PT. Pertamina, kasus penyalahgunaan jabatan oleh mantan Dirut TVRI, kasus korupsi proyek Gerakan Rehabilitasi Nasional Hutan dan Lahan di Departemen Kehutanan, sampai kasus suap yang terjadi di Kejaksaan Agung. Dan masih banyak lagi kasus-kasus korupsi yang terjadi di departemen lain seperti: Departemen Luar Negeri, Departemen Sosial, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Dalam Negeri, Bank Indonesia, PT. Taspen, Komisis Yudisial, sampai ke TNI. Dan yang lebih memiriskan adalah kasus suap yang melibatkan anggota dewan yang terhormat, yang seharusnya bertindak sebagai penyambung lidah aspirasi rakyat, terkait dengan kasus alih fungsi hutan di Bintan, Kepulauan Riau, yang juga melibatkan Sekretaris Daerah setempat. Belum lagi dengan kasus alih fungsi hutan mangrove di Tanjung Api-api, Sumatera Selatan. Bahkan alam (hutan) pun dijarah demi menumpuk materi, jadi tidak mengherankan ketika alam menuntut balik dengan ketidakadilan yang diterimanya. Bencana alam pun terjadi, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga ke pemanasan global. Alam pun seolah menuntut perubahan untuk diperlakukan secara baik dan bijaksana.

Mainteater dalam lakon Sandekala pun menuntut perubahan yang diawali dengan kisah perbincangan Ki Kuncen dengan seekor burung kepodang di sebuah tempat yang bernama Tabet Surawisesa. Kemudian diikuti dengan kisah camat Suroto yang seharusnya mengayomi rakyatnya malah menyalahgunakan kekuasaan serta wewenangnya telah berani menebang pohon dari hutan keramat yang dijaga oleh Ki Kuncen, yang dari generasi ke generasi sangat dijaga kesakralannya. Hal ini membuat masyarakat yang diwakili pemuda dan mahasiswa menjadi berang dan memprotes tindakan tersebut. Belum lagi permintaan pemindahan lokasi pasar malam yang dapat mengganggu ketentraman dan kenyamanan karena berdekatan dengan areal peribadatan, seolah tidak ditanggapi oleh sang camat hanya karena menganggap hal itu akan mengurangi uang “pemasukan”. Dan seperti biasa, suara-suara kebenaran harus dibungkam dengan cara apapun, tak ketinggalan orang-orang yang menyuarakannya pun harus ditumpas. Bagus (Chandra Kudapawana), seorang wartawan, yang juga cucu Ki Kuncen satu-stunya, yang mengungkap kasus keculasan seorang walikota, malah di PHK oleh perusahaan surat kabar tempatnya bekerja. Dan lebih tragis lagi, para pemuda dan mahasiswa yang memprotes penyalahgunaan kekuasaan harus meregang nyawa ditengah serbuan peluru yang membabi buta menyerang tubuh mereka, saat bersembunyi di Tabet Surawisesa.

Lakon ini dipentaskan pada hari Selasa, 22 Juli 2008, jam 20.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail, dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Dari segi cerita, lakon ini terasa sangat pas dengan momentum dimana kasus korupsi di Indonesia semakin banyak yang terkuak, dan semoga ini menjadi penyemangat buat KPK untuk lebih menunjukkan taringnya dalam memberangus pelaku-pelaku korupsi. Pentas ini juga memberikan humor lewat bahasa tubuh dan celetukan Didon (Kodrat Firmansyah) yang cukup natural untuk membantu mehilangkan rasa jenuh dan kantuk penonton pentas yang berlangsung selama lebih dari 3 jam ini. Namun, di beberapa adegan, musik latar yang terlalu keras seolah beradu dengan suara pemain, yang membuat penonton tidak bisa mengikuti dialog antar pemain secara jelas. Belum lagi, adegan konyol si Otong yang awalnya terasa lucu, namun akhirnya terasa berlebihan dan garing.

Sebelumnya, lakon Sandekala yang diadaptasi dari novel berjudul sama, ditulis oleh Godi Suwarna, juga telah dipentaskan di Bandung pada tanggal 23 dan 24 Mei 2008, dengan menggunakan bahasa Sunda. Sandekala yang disutradarai oleh Wawan Sofwan ini pun akan kembali dipentaskan dengan menggunakan bahasa Sunda pada tanggal 23 Juli 2008, pukul 20.00 WIB, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sungguh menyedihkan, ternyata masyarakat primitif justru lebih kuat dalam memegang prinsip-prinsip moralitas dalam memaknai pertukaran melalui aneka bentuk kearifan tradisional sehingga mampu menjaga keseimbangan kosmik dan keteraturan sosial. Dapat dipastikan kalau uang bukanlah “dewa” buat mereka yang harus dipuja, dikumpulkan, dengan menghalalkan segala cara. Dan Greg Kenton juga sangat berbeda dengan pelaku-pelaku korupsi di negeri ini dan dimanapun, karena dia lebih menyukai bekerja keras untuk mendapatkan dan mengumpulkan uang yang halal. Pelan-pelan menjadi kaya adalah sebuah proses membentuk kesabaran yang dinikmatinya.

Sumber: http://neutroncobol.multiply.com/reviews
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:23 PM;
ada 0 komentar
Bangkit Melawan Korupsi dengan Kearifan Lokal

Selasa, 22 Juli 2008 15:14 Arief Ariyanto



Konferensi Pers Pementasan Teater Sandekala


Korupsi adalah salahsatu perilaku yang menggerogoti semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi sudah membudaya dan mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua lini. Bahkan masyarakat pun secara perlahan telah menerima budaya korupsi sebagai hal yang wajar.


Melawan korupsi sebagai wabah yang membudaya diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni medium budaya. Korupsi telah merusak secara sistematik berbagai aspek kehidupan, termasuk perusakan manusia terhadap alam semesta. Hampir bisa dipastikan, korupsilah penyebab terbesar perilaku perusakan alam seperti penggundulan hutan, pengeksplotasian yang tak bertanggungjawab terhadap semua kekayaan di perut bumi, dan pencemaran lingkungan sampai ke lapisan ozon. Tak bisa ditawar lagi, kita perlu sebuah gerakan kebudayaan untuk melawan budaya korupsi dan membangkitkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang menghargai kehidupan harmonis antara sesama manusia dan antara manusia dengan alamnya.

Dengan kesadaran itulah, pada hari ini rabu, 22 Juli sampai dengan tanggal 23 Juli 2008, ada pementesan teater Sandekala di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pergelaran itu diprakarsai oleh Perkumpulan Seni Indonesia, Indonesian Coruption Watch, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Main Teater. Didukung oleh Komunitas Indonesia Menggugat, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Remdec, Gedung Kesenian Rumentang Siang, HUMA. Sebagai media partner, pementasan ini menggandeng Voice of Human Right , Media dan Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, School for Broadcast Media dan Jaringan Videomaker Indonesia.

Dalam konferensi pers, kemarin siang di Melly’s Café, Jakarta Pusat, Andi K Yuwono salahsatu produser pementasan Teater Sandekala mengatakan, Sandekala sebenarnya adalah sebuah sindiran tajam yang memindahkan peristiwa 1998 dengan korupsi sebagai akar masalah ke dalam sebuah cerita berlatar sebuah kota kecil, Kawali. Cerita yang mengalir merupakan refleksi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan di Indonesia.

Masih menurut Andi K Yuwono, pementasan ini merupakan pementasan gratis yang ditujukan bagi para siswa dan masyarakat umum. Tontonan yang gratis seperti ini diharapkan dapat memperluas sasaran kampanye melawan korupsi.

”Bagi kami ini adalah awal sebuah perlawanan berbasis kebudayaan untuk memerangi korupsi dan perusakan lingkungan dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai titik pijaknya”, kata Wawan Sofwan, sutradara pementasan saat mengakhiri konferensi pers itu.

Arief Ariyanto, tim kerja mediabersama.com


Sumber: www.mediabersama.com
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:07 PM;
ada 0 komentar
21 Juli 2008
Sandekala akan dipentaskan di GKJ

Senin, 21/07/2008 17:37 WIB


oleh : Fani Agustina



JAKARTA (bisnis.com): Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Walhi didukung oleh Mainteater dan ICW akan menggelar pementasan teater Sandekala di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 22-23 Juli.

Ceritanya diangkat dari novel berbahasa Sunda yang bertema tentang korupsi di Indonesia. Novel pemenang hadiah sastra Rancage 2008 ini merupakan karya Godi Suwarna, penulis puisi dan prosa, dalam bahasa Sunda sejak 1976.

Wawan Sofwan, sutradara dan produser pementasan teater ini, mengatakan ada empat tema besar yang ingin disampaikan yaitu korupsi, penebangan hutan, perjuangan mahasiswa pada tahun 1998 dan kearifan lokal.

"Korupsi diangkat karena seperti yang telah diketahui korupsi merupakan tindakan yang telah 'membudaya'. Ini merupakan tindakan dari seniman untuk memerangi korupsi," ujarnya.

Sebelumnya, Sandekala juga telah dipertontonkan di Bandung pada Mei 2008. Dia mengatakan Novel Sandekala bertemakan peristiwa Mei’98 dan bulan Mei 2008 dirasa cocok karena genap 10 tahun Reformasi.

Menurut dia, kesenian merupakan cerminan realitas sosial di mana kesenian itu berada. Jadi pementasan teater ini bisa menggambarkan realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Pementasan teater ini turut mengundang siswa SMA agar mereka bisa sadar akan masalah besar yang terjadi di Indonesia.� (tw)


Sumber: http://web.bisnis.com/senggang/seni-budaya/1id69671.html
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 6:38 PM;
ada 0 komentar

SIARAN PRESS
PENTAS TEATER SANDEKALA
www.teater-sandekala.blogspot.com

Diselenggarakan oleh:
ICW – WALHI – Perkumpulan Seni Indonesia – mainteater Bandung

Didukung oleh:
Komunitas Indonesia Menggugat, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu,
GK Rumentang Siang, HUMA, Remdec, Hivos, ICCO, Yayasan TIFA, Voice of Human Rights,
Prakarsa Rakyat, School for Broadcast Media, Jaringan Videomaker Indonesia


BANGKIT MELAWAN KORUPSI, PERUSAKAN LINGKUNGAN
DAN PELANGGARAN HAM DENGAN KEARIFAN LOKAL


100 tahun Kebangkitan Nasional baru usai kita peringati. Ada banyak wacana, banyak unjuk rasa, banyak refleksi, dan berbagai kegiatan. Di tengah gejolak penderitaan rakyat yang dilanda berbagai krisis kehidupan, apakah makna peringatan 100 tahun kebangkitan nasional? Mungkin untuk mengingatkan kita semua betapa masih banyak penderitaan, persoalan, dan tantangan bagi bangsa ini agar bisa benar,benar “bangkit “. Nyatanya, saat ini kebangkitan nasional hanya tinggal slogan kosong yang habis digerogoti para koruptor dan kesewenang,wenangan para penguasa.

Korupsi adalah salah satu perilaku yang menggerogoti semua sendi,sendi kehidupan berbangsa dan bernegara bak virus ganas yang tak terhalangi oleh antivirus apapun. Korupsi sudah menjadi sebuah “budaya” yang mengakar di tubuh birokrasi sehingga menyatu dalam darah para birokrat di semua lini. Bahkan masyarakat pun secara perlahan telah menerima budaya korupsi sebagai sebuah kewajaran. Ini sungguh berbahaya. Jika masyarakat semakin bisa menerima korupsi sebagai sebuah hal biasa yang wajar,wajar saja, bangsa kita mungkin tak kan pernah bisa “bangkit” dari berbagai keterpurukan yang terus menimpa.

Untuk melawan korupsi sebagai “wabah yang membudaya“ diperlukan perlawanan dengan medium yang sama, yakni medium budaya. Korupsi merusak secara sistemik berbagai aspek dan dimensi kehidupan, termasuk perusakan manusia terhadap alam semesta. Hampir bisa dipastikan, korupsilah penyebab terbesar perilaku perusakan alam seperti penggundulan hutan, pengeksplotasian yang tak bertanggungjawab terhadap semua kekayaan di perut bumi, dan pencemaran lingkungan sampai ke lapisan ozon. Tak bisa ditawar lagi, kita perlu sebuah gerakan kebudayaan untuk melawan budaya korupsi dan membangkitkan kembali nilai,nilai kearifan lokal yang menghargai kehidupan harmonis antara sesama manusia dan antara manusia dengan alamnya.

Dengan kesadaran itulah, Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ICW, WALHI, mainteater didukung oleh Komunitas Indonesia Menggugat, ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Ungu, Remdec, Pengelola GK Rumentang Siang, HUMA dengan bantuan dana dari Hivos, ICCO dan Yayasan Tifa bekerja sama untuk memproduksi pementasan teater Sandekala yang diangkat dari novel berbahasa Sunda pemenang hadiah sastra Rancage 2008 karya Godi Suwarna. Sebagai media partner, pementasan ini menggandeng Voice of Human Rights (VHR) Media dan Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, School for Broadcast Media dan Jaringan Videomaker Indonesia.

Pementasan ini merupakan pementasan gratis yang ditujukan bagi siswa SMA, umum dan masyarakat Sunda yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Dengan memberikan tontonan gratis diharapkan dapat memperluas sasaran kampanye yang kami lakukan.

Bagi kami ini adalah langkah awal sebuah perlawanan berbasis kebudayaan untuk memerangi korupsi dan perusakan lingkungan dengan mengangkat nilai,nilai kearifan lokal sebagai titik pijaknya. Datang dan saksikanlah pementasan yang disutradarai Wawan Sofwan ini di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22 , 23 Juli 2008. Satukan tekad Anda untuk bersama,sama melawan budaya korupsi melalui gerakan kebudayaan.




Atas nama seluruh penyelengaran dan pendukung pementasan,

Jakarta, 21 Juli 2008

Andi K. Yuwono Wawan Sofwan
Produser Produser/Sutradara

Chalid Muhammad FX. Rudy Gunawan
Eksekutif Produser Eksekutif Produser

J. Danang Widoyoko
Eksekutif Produser
oleh Pementasan Teater Sandekala @ 1:00 PM;
ada 0 komentar
TENTANG KAMI

Pementasan Teater Sandekala

Tentang Kami:
Profil Lengkap

KEGIATAN

PEMENTASAN TEATER:

Bandung

23 - 24 Mei 2008
pukul 13.00 WIB (pelajar) dan 20.00 WIB (umum)

Tempat:
Gedung Kesenian Rumentang Siang
Jalan Baranang Siang no.1
Bandung.


Jakarta

22 Juli 2008 berbahasa Indonesia
pukul 14.00 WIB (pelajar) dan 20.00 WIB (umum)

23 Juli 2008 hanya pukul 20.00 berbahasa Sunda

Tempat:
Graha Bhakti Budaya - TIM, Jakarta


DISKUSI PUBLIK:

Bandung

22 Mei 2008, pukul 10.00 WIB

Tempat:
Gedung Indonesia Menggugat (eks Landraad)
Jl Perintis Kemerdekaan, Bandung.


Jakarta

22 Juli 2008 Khusus Pelajar SMU, pukul 16.00 WIB setelah pementasan

Tempat:
Graha Bhakti Budaya - TIM Jakarta


PENYELENGGARA

DISELENGGARAKAN OLEH:

Indonesian Corruption Watch,
Mainteater,
Perkumpulan Seni Indonesia,
WALHI

Produser Eksekutif:
Chalid Muhammad,
Danang Widoyoko,
FX. Rudy Gunawan

dan DIDUKUNG OLEH:

ELSAM,
INFID,
Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat - Bandung,
Forum Diskusi Wartawan Bandung,
Perkumpulan Praxis

Untuk kontak silahkan hubungi:

Produser
Andi K. Yuwono [0811182301]
Wawan Sofwan [081321344618]

Pimpinan Produksi
Zhu Khie Thian [081395281713]

Media Relations
Agung Yudha [0811870064]
R. Waluya Jati [0818854099]

Atau ke alamat sekretariat

Jl. Salemba Tengah No. 39-BB
Jakarta 10440-Indonesia
Telp (021) 3156907, 3156908
Fax (021) 3900810
mobile 0811182301
email: sandekala@gmail.com



ARTIKEL SEBELUMNYA
ARSIP
KOLOM SAPA


ShoutMix

JARINGAN KERJA


















MEDIA PARTNER




PENYANDANG DANA






STATISTIK

Free counter and web stats